Isra’ Mi‘raj Bukan Sekadar Kisah, Melainkan Mandat Perubahan

Opini174 Views

Penulis : Wulan Shavitri Nopi | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu peristiwa paling monumental dalam sejarah Islam. Keagungannya tidak hanya terletak pada keajaiban perjalanan Rasulullah ﷺ melintasi dimensi langit, tetapi terutama pada pesan besar yang dikandungnya bagi kehidupan manusia di bumi.

Peristiwa ini menegaskan bahwa iman tidak berhenti pada keyakinan spiritual semata, melainkan menuntut pembuktian nyata dalam bentuk ketaatan total terhadap hukum Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Momentum Isra’ Mi‘raj yang hadir di bulan Rajab—bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT—seharusnya menjadi ruang perenungan mendalam bagi umat Islam untuk menata ulang orientasi hidupnya.

Turunnya perintah shalat dalam peristiwa agung ini bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan fondasi utama pembentukan karakter, disiplin, dan ketundukan total kepada hukum Allah SWT. Dari shalat inilah nilai-nilai langit seharusnya mengalir, membentuk tatanan kehidupan yang adil, bermartabat, dan berkeadaban.

Kewajiban shalat lima waktu merupakan pesan inti Isra’ Mi‘raj. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa shalat adalah amal pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. Shalat pula yang menjadi pembeda antara iman dan kufur.

Lebih jauh, Al-Qur’an menegaskan fungsi sosial shalat sebagaimana firman Allah SWT:“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (TQS al-‘Ankabut [29]: 45).

Ayat ini menegaskan bahwa shalat tidak dapat dipahami sebatas pembentukan kesalehan individual yang bersifat personal dan ritual.

Shalat memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian sosial seorang Muslim. Shalat yang ditegakkan dengan benar akan melahirkan pribadi yang jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah dalam memikul tanggung jawab, serta adil dalam bersikap dan mengambil keputusan.

Nilai-nilai tersebut bukan sekadar etika personal, melainkan fondasi utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang saleh dan berkeadilan.

Karena itu, karakter yang lahir dari shalat—kejujuran, amanah, dan keadilan—merupakan sifat mendasar yang sangat dibutuhkan dalam kepemimpinan Islam. Kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga bertanggung jawab dalam mengelola urusan umat berdasarkan hukum Allah.

Momentum Rajab dan Isra’ Mi‘raj seharusnya menjadi langkah strategis bagi umat Islam untuk kembali membumikan hukum Allah dari langit ke realitas kehidupan. Tidak terbatas pada ranah spiritual dan personal, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Momentum ini menuntut keberanian umat untuk meninggalkan sistem hukum sekuler-kapitalistik yang lahir dari akal manusia dan sarat kepentingan, serta kembali kepada penerapan syariat Islam secara kaffah sebagai satu-satunya pedoman yang adil, menyeluruh, dan menenteramkan.

Umat Islam adalah umat Rasulullah ﷺ—umat yang pernah dibina langsung oleh wahyu, dipimpin oleh para Khulafaur Rasyidin, dan melahirkan generasi pemimpin besar yang mengukir sejarah peradaban dunia.

Dengan warisan akidah, sejarah, dan peradaban yang agung tersebut, umat Islam sejatinya memiliki kapasitas dan potensi besar untuk bangkit dan mengembalikan kemuliaan Islam yang sempat meredup.

Keyakinan ini bukanlah romantisme sejarah, melainkan kesadaran ideologis bahwa kemuliaan Islam tidak akan lahir dari kompromi dengan sistem yang bertentangan dengan wahyu.

Kemuliaan itu hanya akan terwujud melalui tegaknya kepemimpinan dan tata kehidupan yang diatur sepenuhnya oleh hukum Allah.

Oleh karena itu, tegaknya persatuan Islam global dipandang sebagai jalan strategis untuk mengembalikan kemuliaan Islam sekaligus mengangkat kembali martabat umat Islam—bukan sekadar sebagai komunitas spiritual, melainkan sebagai umat yang memimpin dengan keadilan, amanah, dan keberpihakan pada kebenaran.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.[]

Comment