Jadikan Kelaparan Sebagai Alat Genosida, Bukti Zionis Pengecut dan Biadab

Opini786 Views

 

 

Penulis: Atika Nasution S.E | Guru

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Setidaknya 53.272 warga Palestina telah meninggal dunia dalam perang genosida yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023, menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina pada Sabtu (17/5/2025).

Pernyataan kementerian tersebut menyebutkan bahwa 153 orang tewas dalam serangan Israel di daerah kantong tersebut dalam 24 jam terakhir, sementara 459 orang lainnya terluka, sehingga jumlah korban luka mencapai 120.673 orang.

Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka.

Militer Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada 18 Maret, meninggalkan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang mulai berlaku pada Januari.

Sejak 2 Maret, Israel memblokade seluruh pasokan makanan, air, dan obat-obatan untuk memasuki Gaza, menciptakan krisis buatan manusia. Organisasi kemanusiaan mengatakan bahwa penduduk berisiko mengalami kelaparan massal.

Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang dilancarkannya di wilayah kantong tersebut seperti diungkap republika (17/5/25).

Penjajahan Israel terhadap Palestina berlangsung puluhan tahun. Hari demi hari penganiayaan berlangsung. Bahkan mereka dengan sengaja memblokade masuknya bantuan makanan dan membiarkan kaum muslim di Gaza dalam keadaan kelaparan yang parah.

Blokade ini sudah berlangsung lebih dari dua bulan. Sungguh cara perang yang sangat keji dan tidakk satria. Namun, dunia hanya bisa mengecam.

Mirisnya, tak ada satu pun pemimpin negeri muslim mengirimkan tentaranya untuk membantu Palestina. Hanya bisa mengecam tanpa melakukan apa-apa yang mampu membuat Israel ketakutan. Sungguh ketidak berdayaan yang begitu nyata. Mesir yang merupakan negara terdekat dengan Palestina malah mempertahankan blockade ketat terhadap wilayah Palestina dengan alasan nasional state.

Israel mengatakan bahwa penutupan itu dilakukan untuk mencegah Hamas membangun kemampuan militernya. Umat Islam menjadikan permasalahan yang ada di Palestina adalah persoalan internal Palestina semata, bukan sebagai persoalan mereka. Padahal, dengan begitu kita sama saja membiarkan tanah Palestina direbut Yahudi dan menyisakan sedikit untuk rakyat Palestina.

Tentu ini merupakan solusi yang batil dan tidak sesuai dengan Islam. Tanah Palestina harus dikembalikan kepada kaum muslimin karena merekalah pemiliknya.

Israel adalah bangsa yang tidak tahu diri. Dengan menjadikan alasan untuk membatasi gerakan jihad Islam di Palestina, serangan terhadap wanita, anak-anak dan warga rumah sipil dilegalkan. Jika memohon bantuan untuk Palestina ke PBB atau lembaga-lembaganya seperti bunuh diri, karena PBB dan lembaga lainnya merupakan sponsor atau pendukung Israel dan kejahatannya.

Umat harus memahami kejahatan Israel tidak akan dapat berhenti jika hanya dengan kecaman, kutukan, ataupun perudingan internasional. Zionis israel hanya mampu ditundukkan dengan bahasa perang, bukan basa-basi politik dan formalitas diplomatik.

Terlihat bagaimana nasionalisme  menyekat kaum muslimin untuk membantu saudaranya. Normalisasi yang dilakukan negara negara Islam sesungguhnya penghianatan besar secara terbuka terhadap Islam.

Normalisasi tersebut sama saja seperti mengakui entitas Yahudi sebagai negara. Jika hal tersebut terjadi maka akan menjadi sah-sah saja ketika Israel melakukan pengeboman atau melakukan pembangunan pemukiman di wilayah Palestina dengan alasan menjaga keamanan Israel.

Umat Islam harus tahu bahwa Palestina adalah saudaranya sesama muslim. Bantuan sosial kemanusiaan yang diberikan tidak efektif untuk mengehentikan kebrutalan Israel terhadap Palestina. Karena bantuan tersebut hanya bersifat meringankan beban Palestina dan derita kaum muslim di sana, bukan menghilangkan penjajahannya.

Satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel adalah dengan adanya agresi militer dari negeri-negeri muslim yang bersatu untuk melawan zionis Israel di bawah satu komando.

Faktanya, pemimpin-pemimpin negeri muslim saat ini tidak melakukan itu karena adanya sekat-sekat negara dalam tubuh kaum muslim. Penjajahan dan pengisolasian akan terus terjadi ketika tidak ada kepemimpinan islam global di tengah kaum muslim.  Oleh karenanya, harus ada perjuangan untuk menegakkannya kembali. Wallahu’alam Bissawab.[[

Comment