Jamaah Dakwah: Pilar Kebangkitan dan Pelopor Perubahan

Opini46 Views

 

Penulis: Amirah Desi | Aktivis Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS .COM, JAKARTA – Perkembangan zaman yang begitu cepat membawa konsekuensi serius bagi kehidupan sosial, khususnya bagi generasi muda. Kemajuan teknologi yang sejatinya dapat menjadi sarana kebaikan, dalam banyak hal justru menyeret mereka pada krisis identitas.

Tak sedikit generasi muda Muslim yang perlahan kehilangan jati dirinya, sekaligus melemah perannya sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
Dalam sistem sekuler yang dominan saat ini, agama kian dipinggirkan dari ruang publik.

Ia direduksi menjadi urusan privat, tidak lagi dijadikan landasan berpikir dan bertindak. Akibatnya, identitas keislaman generasi muda memudar, nilai-nilai spiritual tergerus, dan agama kehilangan daya arah dalam kehidupan.

Sekularisme secara sistematis memisahkan agama dari kehidupan. Ia mendorong orientasi hidup yang materialistis dan duniawi, hingga tanggung jawab sosial dan kemanusiaan sering kali terabaikan.

Pertumbuhan ekonomi dan akumulasi kekayaan dijadikan ukuran keberhasilan, sementara pembinaan spiritual tersisih. Padahal, tanpa fondasi iman dan nilai agama, generasi muda berisiko kehilangan arah, makna, dan tujuan hidup.

Lebih jauh, kebebasan individu yang diagungkan dalam sistem sekuler memberi ruang bagi generasi muda menentukan pilihan hidup tanpa mempertimbangkan nilai agama dan tradisi. Ketergantungan pada teknologi dan dunia digital pun kian menguat. Waktu banyak dihabiskan di ruang maya, sementara interaksi nyata semakin menipis.

Kondisi ini berdampak serius pada kualitas hubungan sosial, kesehatan mental, serta pembentukan moral dan etika. Keputusan moral tak lagi berangkat dari tuntunan ajaran agama, melainkan dari rasionalitas sempit dan kepentingan sesaat.

Kapitalisme dan Akar Kerusakan
Perlu disadari, digitalisasi yang berkembang hari ini berada dalam hegemoni kapitalisme. Sistem ini bukan semata mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga menyebarkan ideologi sekuler dan materialistis yang menjauhkan umat dari Islam sebagai ideologi kehidupan.

Kapitalisme memanfaatkan media massa dan media digital untuk mempromosikan nilai serta gaya hidup yang bertentangan dengan ajaran Islam. Generasi muda dijadikan sasaran utama arus informasi yang mengaburkan nilai-nilai Islam dan menggantikannya dengan standar hidup Barat.

Bahkan, sistem pendidikan yang dipengaruhi kapitalisme turut membentuk pola pikir pragmatis dan materialistis, yang bertentangan dengan tujuan pendidikan dalam Islam.

Globalisasi dan hegemoni budaya Barat kian mempercepat penetrasi nilai-nilai sekuler yang mengancam identitas keislaman. Tak jarang, institusi dan kekuasaan yang berada di bawah pengaruh kapitalisme melahirkan kebijakan yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Manipulasi informasi melalui kontrol media membentuk opini publik yang sekuler dan materialistis. Akibatnya, kebijakan publik lebih berpihak pada kepentingan ekonomi dan politik tertentu, sementara nilai-nilai Islam terpinggirkan.

Urgensi Jamaah Dakwah

Di tengah kuatnya cengkeraman kapitalisme global, kehadiran jamaah dakwah Islam ideologis menjadi kebutuhan mendesak. Jamaah dakwah berperan membina umat, terutama kaum ibu dan generasi muda, agar memiliki kepribadian Islam yang kokoh dan siap menjadi pelopor perubahan. Kaum ibu memiliki peran strategis sebagai madrasatul ula, sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Umat Islam membutuhkan kekuatan spiritual dan ideologis yang kokoh untuk menghadapi tantangan zaman. Jamaah dakwah yang membawa pemahaman Islam secara menyeluruh berperan membentuk karakter umat yang tangguh, berakhlak mulia, dan memiliki visi perubahan. Dengan demikian, umat diarahkan kembali pada ajaran Islam yang murni dan membumi.

Kehadiran jamaah dakwah juga penting untuk membangun keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Jamaah dakwah mengedukasi umat tentang ajaran Islam yang benar, meningkatkan keimanan, serta menumbuhkan kesadaran kolektif untuk berperan aktif mewujudkan kebaikan di tengah masyarakat.

Lebih dari itu, dakwah merupakan kewajiban setiap Muslim: mengajak manusia kepada keimanan dan ketaatan kepada hukum-hukum Allah Swt., serta memperjuangkan penerapan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan—sosial, ekonomi, hingga politik.

Dengan meneladani metode dakwah Rasulullah Saw., umat diharapkan mampu membangun sistem kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, mengokohkan akidah, dan mengembangkan potensi umat sebagai agen perubahan. Wallāhu a‘lam.[]

Comment