RADARINDONESIANEWS .COM, PANDEGLANG – Salah satu upaya positif memahami dan menanamkan nilai juang dan Iman yang tangguh adalah dengan menapak tilas situs situs bersejarah atau malam bersejarah baik di dalam dan luar negeri.
Kali ini Radar Indonesia News mengunjungi situs pemakaman ulama yang dikenal sebagai Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah di wilayah Kadupinang, Pandeglang, Banten, Jumat (21/11/2025).
Situs ini diyakini sebagai tempat peristirahatan ulama penyebar Islam di masa awal Banten yang belakangan menjadi titik ziarah yang kian diperbincangkan warga sekitar Pandeglang hingga luar daerah.
Berdasarkan informasi warga setempat, alamat kompleks pemakaman tua tersebut berada di Jalan Raya Labuan No. 16, Mandalasari, Kaduhejo, Kecamatan Pandeglang, Kabupaten Pandeglang, Banten 42252. Meski secara kultural masyarakat menyebutnya sebagai Kramat Gede Kadupinang, secara administratif tempat itu berada di jalur utama Pandeglang–Labuan sehingga mudah dijangkau.
Arus peziarah menurut warga, meningkat terutama pada malam Jumat dan menjelang bulan-bulan besar Islam. Mereka datang berkelompok, membawa kitab tahlil, dan menghabiskan waktu di bawah rindangnya pohon besar yang menaungi kompleks makam tua itu.
“Ini sudah tempat ziarah dari dulu. Orang datang bukan untuk sesuatu yang asing, tapi untuk mengingat perjuangan ulama,” kata seorang tokoh masyarakat Kaduhejo.
Batu nisan tua, beberapa di antaranya dengan ukiran khas abad 17–18, memperkuat keyakinan bahwa tempat ini merupakan bagian dari jejak dakwah generasi awal ulama Banten. Tradisi lisan warga menyebut tokoh yang dimakamkan di pemakaman ini seperti syekh Cili Warehan, Syekh Nayap, syekh Daim, syekh Samid Dan syekh Moh Arif pernah menjadi pusat rujukan ilmu agama dan penyelesaian perkara sosial pada zamannya.
Simbol Keislaman Banten
Kramat Gede Kadupinang bukan sekadar kompleks pemakaman. Ia menjadi semacam penanda perjalanan sejarah Islam Pandeglang. Tradisi ziarah yang terus berlangsung dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap ulama terdahulu, sekaligus ruang silaturahmi warga antarwilayah.
Beberapa tokoh agama menjadikan tempat ini sebagai tujuan pendidikan spiritual. Mereka mengajak santri mengenal adab ziarah dan memahami bahwa perjuangan dakwah memerlukan keteguhan hati.
“Ziarah itu bukan meminta, tapi mendoakan. Bukan memuja, tapi mengambil hikmah,” ujar seorang pengajar yang rutin membawa santrinya ke situs tersebut.
Kendati menjadi tujuan ziarah penting, kawasan Astana Maqbaroh masih menyisakan persoalan. Penataan area makam belum merata, beberapa akses kecil menuju lokasi memerlukan perbaikan, dan pendokumentasian sejarah belum dilakukan secara serius. Padahal, situs ini berpotensi masuk daftar cagar budaya lokal bila riset akademik dilakukan lebih mendalam.
Tokoh masyarakat Kaduhejo berharap pemerintah daerah turut memberi perhatian. “Ini warisan penting. Kalau dikelola baik, manfaatnya bukan hanya bagi warga, tapi juga bagi identitas sejarah Banten,” katanya.
Astana Maqbaroh Kramat Gede Makam Tengah berdiri sebagai potret perjalanan panjang penyebaran Islam di Banten. Ziarah yang tak pernah putus menjadi tanda bahwa ingatan masyarakat terhadap ulama tidak luntur meski zaman berubah cepat.
Di tengah perkembangan Pandeglang yang terus melaju, kompleks pemakaman tua ini menjadi ruang hening yang menghubungkan masa kini dengan akar sejarahnya.[]











Comment