Penulis: Rizka Adiatmadja | Penulis Buku & Praktisi Parenting
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Seorang ibu pernah berkata dengan terbata-bata, “Narkoba bukanlah yang membinasakan anakku. Ia mati karena negara membiarkannya tumbuh tanpa arah.”
Di sudut kota yang sibuk dan bising, ribuan cerita seperti ini terkubur bersama statistik dan pemberitaan yang menua dalam hitungan jam. Kita membaca data, tetapi lupa wajah. Kita tahu angkanya, tetapi sering tak kenal nyeri di baliknya.
Negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Beritasatu.com melaporkan terkait narkoba dan transaksi yang begitu menggurita di Indonesia (17 Mei 2025), mencapai Rp524 triliun setiap tahun. Fantastis, bukan?
Tidak. Ini bukan sekadar angka, ini adalah bukti bahwa negeri ini tengah menyemai kebinasaan dari dasar. Permintaan tinggi terhadap narkoba adalah cermin dari jiwa-jiwa kosong yang berteriak di dalam diam.
Sistem sosial kita gagal menjadi pelindung yang menenangkan. Negara kita hanya berdiri sebagai penjaga pagar yang berlubang. Gagah dalam narasi, rapuh dalam kenyataan.
Belum lagi jaringan penyelundupan narkoba yang terus menjalar. Polda Metro Jaya dalam waktu dekat membongkar 10 kg sabu-sabu di sebuah apartemen PIK. TNI AL juga menggagalkan upaya masuknya 1,9 ton narkoba ke tanah air.
Selain itu, dari balik teralis besi, peredaran narkoba masih dikendalikan para napi. Bahkan kini, perempuan tampil di garis depan jaringan narkoba. Seperti mencerminkan bahwa kehancuran tak lagi mengenal jenis kelamin, karena semua bisa dilahirkan oleh sistem yang rusak.
Sekularisme sebagai Akar Masalah yang Membusuk
Tak cukup menyalahkan si pengguna, tak bijak hanya memaki pengedar. Sebab, narkoba adalah gejala, bukan sebab. Akar dari malapetaka ini adalah sistem kehidupan yang kita peluk erat bernama sekularisme. Sebuah paham yang memisahkan agama dari kehidupan.
Dalam sistem ini, halal dan haram menjadi asing, spiritualitas tak lagi jadi penentu arah. Hal yang mengendalikan adalah nafsu yang disanjung, keuntungan yang dipuja, dan manusia menjadi penghamba kebebasan.
Kapitalisme menambahkan luka itu dengan bara. Ia mendidik manusia bahwa segala sesuatu bisa diperjualbelikan bahkan kehancuran sekalipun. Maka bisnis narkoba tumbuh subur, bukan karena hukum tak ada, tetapi karena hukum tak bernyawa.
Penindakan hukum seperti sandiwara dengan skrip yang membosankan, pemakai diciduk, pengedar diburu, gembong tak tersentuh. Ini bukan drama, ini realitas di bawah sistem sekular-kapitalis, nyawa rakyat tak lebih dari angka statistik.
Islam adalah Aturan yang Komprehensif
Islam memandang manusia bukan sekadar objek hukum, tetapi makhluk yang diciptakan dengan ruh dan akal. Maka narkoba bukan hanya masalah legalitas, tapi soal penjagaan akal dan jiwa. Islam menyebut narkoba sebagai khamar, zat yang memabukkan, dan menghukuminya haram. Allah Swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 90)
Dalam Islam, negara adalah pengasuh dan pelindung. Negara bertugas mendidik rakyat dengan Islam, bukan sekadar memberi pelajaran formal, tetapi membentuk pribadi yang sadar halal dan haram, tahu batas, serta memahami makna hidup.
Pendidikan ini diberikan secara gratis, hingga tak ada alasan bagi siapa pun untuk buta nilai. Masyarakat dibangun dari fondasi akidah, bukan dari iklan-iklan hedonisme yang kini membanjiri ruang publik.
Jika seseorang melanggar maka negara menindak bukan dengan dendam, tetapi dengan keadilan yang tegas. Hukuman takzir diterapkan bagi pengguna narkoba sesuai tingkat bahayanya, sementara produsen dan pengedar mendapat sanksi berat hingga hukuman mati. Bukan demi balas dendam, tetapi demi menjaga masyarakat dari kehancuran dan melahirkan efek jera.
Islam juga menutup seluruh pintu yang bisa mengantar pada narkoba, tak ada tempat hiburan bebas, tak ada celah pergaulan liar, tak ada budaya permisif. Negara Islam bukan negara malaikat, tetapi sistemnya mencegah dosa dari hulunya. Ia tak memberi ruang bagi racun untuk tumbuh di balik nama “kebebasan individu”.
Indonesia kini berdiri di persimpangan. Jalan yang satu membawa pada sistem yang telah gagal yakni sekularisme yang menawarkan kebebasan, tetapi menyemai kehancuran.
Jalan lain adalah Islam, sistem dari Allah yang tak hanya memberi solusi, tetapi juga makna keselamatan hakiki. Pilihannya bukan antara agama atau logika, tetapi antara sistem buatan manusia yang rapuh dan sistem Allah yang kokoh.
Saatnya bangsa ini berhenti sekadar memadamkan api, tetapi mulai memperbaiki tungku yang retak. Narkoba bukan hanya masalah individu. Ia adalah produk dari sistem. Hanya sistem Islam yang mampu menyembuhkan segala kerusakan itu, dengan pendidikan yang menanamkan iman, hukum yang adil, dan kepemimpinan yang bertakwa.
Indonesia bisa sembuh. Namun, hanya jika kita mau pulang ke dalam sistem Islam yang kompatibel dengan syariat Islam. Wallahu’alam bisshowab.[]









Comment