Job Hugging Landa Generasi Muda, Bagaimana Solusinya?

Opini439 Views

 

Penulis: Ayu Ratnasari | Pemerhati Remaja

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dulu, seseorang bekerja demi stabilitas ekonomi atau untuk menambah pengalaman. Namun belakangan ini, muncul fenomena baru: job hugging. Generasi milenial dan Gen Z banyak yang memilih bertahan di tempat kerja meski sudah kehilangan minat dan motivasi.

Fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika Serikat. Menurut laporan CNBC Indonesia (19/9/2025) yang merujuk survei ZipRecruiter, pada kuartal II 2025 pekerja yang tidak yakin dengan ketersediaan lowongan kerja naik menjadi 38%, dari 26% tiga tahun sebelumnya.

Bahkan tingkat pengunduran diri sukarela di AS sejak awal 2025 hanya 2%, terendah dalam hampir satu dekade. Data ini menunjukkan karyawan makin enggan melepaskan pekerjaan yang sudah digenggam.

Maraknya job hugging mencerminkan perubahan besar dalam dinamika pasar kerja. Lesunya ekonomi global dan meningkatnya risiko PHK membuat banyak orang memilih bertahan meski tanpa gairah.

Jika dibiarkan, fenomena ini dapat memicu stagnasi kualitas kerja, menghambat pertumbuhan, dan melemahkan daya saing ekonomi.

Fenomena ini tak lepas dari sistem kapitalisme yang gagal menjamin ketersediaan pekerjaan. Dalam sistem ini, negara hanya bertindak sebagai regulator yang kerap berpihak pada investor.

Lapangan kerja diserahkan pada swasta, sementara kekayaan lebih banyak mengalir ke sektor non-riil dan ribawi seperti saham, yang minim menyerap tenaga kerja.

Akibatnya, banyak orang menerima pekerjaan seadanya demi rasa aman, meski tidak sesuai dengan minat dan keahlian.

Dalam Islam, negara memikul tanggung jawab penuh atas urusan rakyat, termasuk penyediaan lapangan kerja. Hal ini ditegaskan dalam Muqaddimah Dustur pasal 153.

Dalam konsep Islam negara mengelola sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, mengembangkan industrialisasi pertanian, memberikan tanah produktif, hingga menyediakan bantuan modal dalam bentuk hibah atau pinjaman tanpa riba.

Dengan model ini, ruang bagi lahirnya fenomena job hugging akan tertutup. Rakyat tidak dibiarkan stagnan atau bekerja dengan keterpaksaan. Sebaliknya, mereka didukung agar produktif sesuai potensi yang dimiliki, sehingga dapat hidup bermartabat sesuai syariat.[]

Comment