Penulis: Anti Riyanti, S.Pt | Guru
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Krisis tenaga kerja global kini tengah mengguncang dunia. Negara-negara besar seperti Inggris, Prancis, Amerika Serikat, hingga Cina mengalami lonjakan angka pengangguran yang tinggi. Fenomena memprihatinkan pun muncul- banyak orang rela berpura-pura bekerja, bahkan tanpa digaji, hanya demi pengakuan sosial bahwa dirinya masih memiliki pekerjaan.
Di Indonesia, seperti dilaporkan CNBC Indonesia (28-08-2025), meski angka kemiskinan secara nasional tercatat menurun, kenyataannya anak muda justru menjadi kelompok yang paling banyak terdampak. Padahal, generasi mudalah yang seharusnya menjadi motor penggerak pembangunan bangsa.
Kondisi ini menunjukkan kegagalan sistem ekonomi kapitalisme yang mendominasi dunia. Alih-alih mewujudkan kesejahteraan, sistem ini justru menimbulkan ketidakadilan. Data dari Celios (2024) mencatat bahwa kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 50 juta rakyat.
Ketimpangan ekstrem inilah yang semakin memperparah kemiskinan, sementara negara terkesan lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja.
Berbagai upaya pemerintah masih sebatas tambal sulam. Job fair yang digelar di berbagai kota tidak mampu menjawab masalah, sebab dunia industri sendiri masih banyak melakukan PHK.
Demikian pula sekolah vokasi dan jurusan keterampilan yang diharapkan mampu mencetak tenaga kerja siap pakai, faktanya banyak lulusan justru berakhir menganggur.
Selama kapitalisme masih bercokol, kemiskinan akan tetap menjadi persoalan, baik secara global maupun nasional. Karena itu, dibutuhkan sistem alternatif yang benar-benar mampu menyejahterakan manusia, yaitu Islam.
Dalam pandangan Islam, penguasa adalah raa’in (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab penuh atas kebutuhan hidup masyarakat, termasuk penyediaan lapangan kerja. Negara wajib memfasilitasi rakyat agar dapat bekerja, baik melalui pembukaan akses pendidikan, pemberian modal, penyediaan lahan, maupun dorongan terhadap industri yang sehat.
Sistem ekonomi Islam juga menutup celah penumpukan kekayaan pada segelintir elit, sehingga distribusi bisa berlangsung adil dan setiap individu merasakan kesejahteraan.
Pendidikan dalam sistem Islam tidak hanya melahirkan generasi siap kerja, tetapi juga generasi ahli di bidangnya dengan semangat pengabdian, bukan sekadar mengejar keuntungan pribadi. Generasi muda Indonesia tidak boleh terus menjadi korban dari sistem yang gagal. Mereka berhak atas masa depan yang cerah, bebas dari bayang-bayang kemiskinan.
Solusi dan keadilan tidak akan lahir dari kapitalisme yang cacat. Saatnya kita mengimplementasikan alternatif sistem ekonomi yang adil, menyeluruh, dan menyejahterakan, yaitu Islam.[]













Comment