Kapitalisme Digital: Sistem Perusak Mental Generasi

Opini290 Views

 

Penulis: Ernita Setyorini, S.Pd| Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Digitalisasi kini memiliki peran penting dalam berbagai sektor—mulai dari peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi. Melalui Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI), pemerintah mengukur kompetensi dan keterampilan masyarakat dalam penggunaan teknologi digital. Indonesia pun mengalami perkembangan digital yang sangat pesat seiring meningkatnya penggunaan internet.

Sebagaimana ditulis Cnbcindonesia.com (3/12/2025), laporan Digital 2025 Global Overview mencatat bahwa 98,7% penduduk Indonesia berusia 16 tahun ke atas menggunakan ponsel untuk online. Angka ini melampaui Filipina dan Afrika Selatan yang masing-masing mencatat 98,5%. Rata-rata waktu online harian masyarakat Indonesia juga tinggi, mencapai 7 jam 22 menit, lebih lama dari rata-rata global yang berada pada 6 jam 38 menit.

Digitalisasi di berbagai sektor tentu membawa manfaat besar seperti kemudahan akses informasi, peningkatan efisiensi kerja, produktivitas, hingga kemudahan interaksi sosial.

Namun, di sisi lain ia juga memunculkan dampak negatif: kesenjangan digital, turunnya kualitas interaksi sosial, hingga masalah kesehatan mental akibat kecanduan gawai dan perbandingan sosial di media sosial.

Sebagaimana dilansir RRI.co.id (3/12/2024), fenomena flexing—kecenderungan memamerkan kekayaan atau gaya hidup mewah di media sosial—kian marak seiring dominasi TikTok dan Instagram. Meski terlihat seperti hiburan, paparan konten semacam ini secara berulang dapat menimbulkan tekanan psikologis, terutama ketika seseorang merasa harus menyesuaikan dirinya dengan standar digital yang sebenarnya semu.

Di Indonesia, banyak generasi muda mengalami gangguan kesehatan mental akibat screen time berlebihan. Dalam kajian psikologi sosial dijelaskan bahwa melihat unggahan hidup “sempurna” memicu upward social comparison, yakni kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih sukses. Inilah yang kemudian memicu digital dementia, kemalasan berpikir, kesepian, hingga depresi.

Ditambah lagi, tidak ada batasan usia yang jelas untuk menggunakan media sosial. Banyak remaja akhirnya larut mengikuti tren tanpa kontrol. Padahal, media sosial maupun kecerdasan buatan (AI) terbukti memiliki risiko tinggi bagi kesehatan mental bila tidak diatur.

Semua ini muncul karena kehidupan sosial hari ini dibingkai oleh sistem sekuler—sebuah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan dan memberi ruang luas bagi budaya kapitalistik.

Dalam sistem kapitalisme, media digital menjadi alat industri untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, meskipun harus mengorbankan kesehatan mental generasi muda. Indonesia hanya diposisikan sebagai pasar bagi platform global, sementara negara tidak memiliki ketegasan dalam melindungi remaja yang merupakan calon pemimpin masa depan.

Berbeda dengan sistem Islam. Islam memiliki kepemimpinan yang bertanggung jawab mencetak generasi unggul dan bermental kuat. Visi kepemimpinan dalam Islam adalah melahirkan generasi terbaik yang mampu memimpin peradaban, sehingga negara wajib memastikan pendidikan dan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang mereka.

Negara dalam sistem Islam mengambil langkah preventif seperti menerapkan pendidikan berbasis akidah Islam sejak dini, menguatkan peran orang tua sebagai madrasah pertama, serta menciptakan lingkungan sosial yang aktif melakukan amar makruf nahi mungkar.

Dengan landasan akidah yang kuat, sangat kecil kemungkinan anak mengalami krisis mental sejak dini.

Selain itu, negara juga mengambil langkah kuratif dan regulatif. Konten media diawasi ketat dan hanya yang sesuai nilai Islam yang boleh beredar. Media sosial dibatasi, baik dari sisi platform maupun usia pengguna. AI pun diatur ketat agar tidak menjadi ancaman bagi moral dan mental generasi.

Pada hakikatnya, hanya Islam yang mampu memberikan solusi komprehensif bagi problem kehidupan manusia. Ketika syariat Islam diterapkan, kehidupan kembali selaras dengan fitrah dan aturan Sang Pencipta. Kesejahteraan dapat terwujud, dan generasi pun dapat terselamatkan dari kerusakan mental yang ditimbulkan sistem kapitalisme digital. Wallahu a‘lam bissawab.[]

Comment