Kapitalisme Dorong Gen Z Phobia Terhadap Pernikahan

Opini226 Views

 

Penu: Halida Almanuaz | Aktivis Muslimah Deliserdang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKART — Fenomena enggannya generasi muda untuk menikah semakin mencolok dalam beberapa tahun terakhir. Banyak anak muda merasa bahwa kestabilan ekonomi jauh lebih penting daripada membangun rumah tangga.

Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, harga kebutuhan yang meroket, dan persaingan kerja yang ketat, kekhawatiran itu terasa masuk akal. Mereka terdorong untuk bersikap lebih rasional dan realistis.

Media sosial turut memperkuat tren ini melalui narasi “marriage is scary”—menikah itu menakutkan. Narasi tersebut memunculkan gambaran buruk tentang komitmen, ketidakstabilan emosional dan finansial, serta kemungkinan kekerasan dalam rumah tangga.

Akibatnya, nilai sosial dan budaya pun bergeser. Banyak anak muda memilih membangun karier dan memperkokoh fondasi finansial daripada mengejar status sosial melalui pernikahan.

Data BPS mengonfirmasi perubahan besar itu. Dalam satu dekade terakhir, jumlah pernikahan di Indonesia turun drastis: dari 2.110.776 pada 2014 menjadi 1.478.302 pada 2024—turun 632.474 pernikahan. Faktor finansial, kemiskinan, dan pola pikir yang berubah menjadi penyebab utama selain pemberdayaan perempuan.

Kapitalisme dan Narasi Ketakutan

Sistem kapitalisme membuat biaya hidup semakin tinggi, pekerjaan sulit didapat, dan upah cenderung rendah. Gen Z tumbuh dalam tekanan ekonomi yang menyesakkan, sehingga ketakutan menjadi miskin mengalahkan dorongan untuk menikah.

Ditambah lagi, narasi “marriage is scary” membuat pernikahan seolah hanya berisi konflik, tuntutan, dan risiko. Padahal, ketakutan itu lebih banyak lahir dari lemahnya pemahaman agama dan kuatnya gaya hidup permisif. Ketika pacaran dianggap ringan dan tak menuntut komitmen, pernikahan justru disamakan dengan “kurungan”.

Akibatnya? Enggan menikah, tetapi pergaulan bebas semakin subur.

Normalisasi Zina dan Hidup Tanpa Ikatan

Fenomena living together makin populer. Pasangan yang kumpul kebo merasa dapat “menjalani hubungan” dengan biaya lebih ringan tanpa beban komitmen. Namun dampaknya sangat besar: Zina merajalela, penyakit menular seksual meningkat, kekerasan terhadap perempuan kian sering terjadi dan angka kelahiran menurun, mengancam keberlanjutan generasi.

Takut menikah bukan semata persoalan ekonomi, tetapi juga buah dari pemikiran hedonis yang menjadikan kebebasan tanpa batas sebagai standar hidup.

Islam Mengatur, Islam Menenangkan

Islam memandang pernikahan sebagai ibadah dan ladang pahala. Karena itu, Islam memberikan seperangkat aturan untuk menjaga interaksi antara laki-laki dan perempuan agar tetap produktif dan terhormat—bukan memicu syahwat.

Islam melarang tabarruj, khalwat, dan campur baur tanpa kebutuhan syar’i. Islam memerintahkan laki-laki dan perempuan menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Aturan ini menutup pintu perselingkuhan dan menciptakan ketenangan dalam rumah tangga.

Dalam rumah tangga Islam, suami dan istri adalah sahabat yang saling menenangkan. Kepemimpinan suami, ketaatan istri, dan komitmen bersama untuk mematuhi syariat menjadi fondasi kokoh bagi keluarga. Bahkan, ketaatan istri kepada suaminya disamakan dengan pahala syahid.

Sistem Islam: Menjamin Kesejahteraan Keluarga

Berbeda dari kapitalisme yang membebani rakyat, sistem ekonomi Islam memastikan setiap individu mendapat kesejahteraan. Negara wajib: menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki, memberi pendidikan dan pelatihan, menyalurkan bantuan modal, menanggung kebutuhan dasar rakya.

Ibu dapat fokus mendidik generasi tanpa “dipaksa” bekerja karena tekanan ekonomi.

Dalam sejarah Islam, negara bahkan menyediakan dana mahar bagi pemuda yang siap menikah. Seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika baitulmal surplus dan salah satu penyalurannya diperuntukkan bagi para pemuda yang ingin menikah.

Gen Z tidak perlu takut menikah. Dengan niat ikhlas karena Allah dan pemahaman agama yang benar, pernikahan akan menjadi sumber sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Solusi sejati untuk krisis keluarga dan generasi tidak mungkin hadir dari kapitalisme, tetapi hanya dari sistem yang datang dari Zat Yang Maha Mulia—Islam. Wallahu a’lam bishshawwab.[]

Comment