Kapitalisme, Sekuler dan Fitrah Seorang Ayah

Opini1018 Views

 

Oleh:  Eva Arlini, S.E, Blogger

__________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam satu acara talkshow di televisi, Vino G. Bastian bercerita tentang putrinya yang beranjak remaja. Sejumlah prilaku putrinya membuatnya ‘patah hati’. Seperti saat dirinya dibandingkan dengan teman lelaki putrinya dan saat putrinya sudah tak mau lagi diantar pergi ke sekolah.

Selain Vino, artis Desta dan Tora Sudiro dalam acara itu juga berkomentar terkait putri mereka. Mereka sepakat untuk melarang putri mereka yang seumuran putri Vino, memakai pakaian mini serba terbuka. Mereka pun belum rela jika ada lelaki yang datang ke rumah mengapeli anak gadis mereka.

Begitulah fitrah seorang ayah. Secara alami seorang ayah akan menyayangi anak – anak mereka. Karakter kepemimpinan pada ayah pun memunculkan rasa ingin melindungi terhadap semua anggota keluarganya. Terlebih anak perempuan yang biasanya lebih dekat dengan ayah ketimbang dengan ibu. Kesayangan sang ayah itu tak boleh disakiti oleh lelaki manapun.

Bagi anak perempuan, ayahnya adalah role model pertama dalam hidupnya. Ayah paling asyik diajak main, karena tidak secerewet ibu. Seringnya anak perempuan lebih bisa bermanja kepada ayah ketimbang ibunya. Anak perempuan pun belajar ketangguhan dari ayahnya, serta mendapat gambaran dari ayah seperti apa pria ideal untuk masa depannya kelak.

Namun kini, seiring perkembangan teknologi yang semakin maju, hubungan yang sejatinya harmonis antara ayah dan anak perempuan ini makin jauh dari ideal.

Kabar yang mengiris hati dari berbagai daerah terus berdatangan, terkait prilaku ayah pada putrinya. Seorang pria di Tegal seperti ditulis detik.com (29/11/2022) tega memperkosa putri kandungnya yang berusia lima belas tahun sebanyak lima kali.

Tak kalah bejat, seperti ditulis sindonews.com (26/11/2022), seorang ayah di Bandung Barat memperkosa dua putri kandungnya yang masih duduk di bangku SD selama setahun.

Rasanya penulis tak sanggup mengurai kata demi kata untuk menyampaikan fakta tentang sosok ayah yang telah berubah dari pria gagah pelindung keluarga menjadi predator pemangsa darah dagingnya sendiri.

Begitu mengerikan hidup dalam sistem kapitalis sekuler hari ini. Banyak manusia diperbudak oleh hawa nafsunya. Sehingga mereka kehilangan akal sehat dan melakukan perbuatan paling tak bermoral.

Kedekatan mereka pada Sang Pencipta lemah. Tak ada rasa diawasi oleh Sang Pencipta. Tak terpikir oleh mereka akibat dari semua perbuatan di dunia.

Mereka tak ingat dengan kematian serta adanya perhitungan di akhirat kelak. Inilah hasil pendidikan dalam sistem kapitalis sekuler yang telah menjalari dunia pendidikan dan keluarga.

Pendidikan seharusnya menjadikan keimanan pada Sang Pencipta sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan, agar manusia bisa berpikir sehat tentang mana perbuatan yang harus dan tak boleh dilakukan. Namun yang terjadi, pendidikan menjadikan materi sebagai tujuan. Mengejar nilai dan kelulusan, lalu bekerja untuk menghasilkan uang.

Kelemahan internal diri masyarakat diperparah dengan kehidupan masyarakat liberal sebagai konsekuensi penerapan kapitalis sekuler pula. Peredaran konten pornografi yang begitu mudah diakses dan tak mampu dibendung oleh pemerintah. Pornoaksi pun dianggap sebagai kebebasan berekspresi. Pergaulan bebas juga merebak antar lelaki dan perempuan. Alhasil, syahwat para lelaki begitu mudah bangkit.

Kebodohan membuat mereka tak mampu menyalurkan ataupun mengendalikan syahwat dengan benar.

Lantas, yang memiliki uang akan membeli jasa seks. Sementara yang tak memiliki uang, melampiaskan nafsunya terhadap orang – orang terdekatnya. Entah tetangga, keponakan bahkan anak kandung sekalipun. Kehidupan yang kental dengan aura syahwat saat ini sungguh menjijikkan.

Dalam Islam, dikenal istilah malu, sebagai benteng manusia dari berbuat maksiat. Ada istilah kehormatan yang harus dijaga, untuk para perempuan sebagai bentuk penghargaan pada mereka. Ada istilah kesucian, di mana naluri seksual yang Allah swt berikan haruslah disalurkan dengan tepat sesuai syariat agar manusia bisa disebut telah menjaga kesucian.

Ada negara yang diwajibkan untuk mengurus rakyatnya sesuai Islam. Negara wajib menghilangkan segala sarana yang merangsang syahwat seperti pornografi dan pornoaksi. Negara juga harus menjamin rakyatnya patuh terhadap syariat, salah satunya dengan penerapan sanksi Islam.

Pemerkosaan ataupun perzinahan akan dihukum berat, dengan dicambuk bagi yang belum menikah dan dirajam bagi yang telah menikah. Dengan penerapan hukum Islam secara kaffah, fitrah manusia akan terjaga, hubungan ayah dan anak pun akan normal seperti yang seharusnya.[]

Comment