Penulis: Risma Febrianti | Mahasiswi
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Ramai kasus bunuh diri kini terulang lagi. Kali ini datang dari seorang mahasiswi yang nekad terjun dari lantai 4 Mall Paragon Semarang. Wanita tersebut meninggal dunia usai melompat dari lantai 4 tempat parkir mal tersebut.
Menurut laman liputan6.com, Kapolsek Semarang Tengah Kompol Indra Romantika menjelaskan pihaknya mendapatkan laporan tewasnya wanita di Mall Paragon sekitar pukul 17.20 WIB. Semarang, Jawa Tengah. Pasalnya, pada Selasa (10/10/2023) ditemukan jasad wanita di area pintu keluar parkir mal tersebut.
Diduga motif bunuh diri mahasiswi berinisial N ini karena depresi. Ini dibuktikan dengan postingan di akun Tik-Toknya yang bernada sedih dan mengeluh.
Dalam postingan itu Nada memposting sebuah foto dengan beberapa narasi, “ada cerita sedih,” “Dicintai karena tubuh. Di manja karna ada maunya,” tambahnya. “Di Treat like a queen karena bisa memenuhi keinginan hawa nafs**ya,” tutupnya, tulis N lewat akun TikTok-nya @nadaajwa. POJOKSATU.id., Semarang.
Peristiwa menyedihkan ini tidak hanya terjadi pada N. Di Semarang kasus bunuh diri terjadi juga. Seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Semarang berinisial EN (24) warga Kapuas, Kalimantan Tengah, ditemukan meninggal dunia di dalam kamar indekosnya, Rabu (11/10/2023).
Lagi, tepat Selasa 10 Oktober 2023, seorang mahasiswi Politikkes Kupang juga nekad bunuh diri karena gagal wisuda. Sebagaimana dilansir detikBali, mahasiswi Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kupang berinisial AKL bunuh diri dengan cara melompat dari Jembatan Liliba, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jorban diduga tidak lulus sejumlah mata kuliah. Sehingga korban frustrasi dan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri sebagaimana ditulis detikBali.
Kasus bunuh diri yang terjadi kini teridentifikasi karena depresi atau isu kesehatan mental. Disebutkan juga oleh Psikolog Klinis Dewasa, Wiwit Puspitasari Dewi bahwa stress merupakan hal yang wajar dan dapat dialami oleh mahasiswa. Beberapa penyebabnya seperti tekanan akademik, tekanan dalam relasi dengan teman atau orang terdekat, atau orang tua.
Namun tingkat stress yang tinggi bisa saja membuat seseorang melakukan segala cara untuk mengatasinya. Misalnya, seorang mahasiswa yang mengalami stres berkepanjangan. Tetapi, dia tidak bisa menghadapinya dengan baik, contohnya karena ada isu kesehatan mental tertentu.
Bisa juga karena minimnya dukungan atau merasa terus-terusan menjadi beban, sehingga tidak bisa cerita ke orang lain. Pada akhirnya, merasa tidak punya harapan untuk menyelesaikan masalahnya karena tidak tahu lagi dengan cara apa.
“Gabungan hal-hal itu bisa memungkinkan seseorang berpikir untuk mengakhiri hidup, sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikannya. Walaupun memang mungkin gak semua orang langsung mengambil keputusan itu, tapi mungkin ide-ide itu bisa saja muncul ,” ujar Wiwit.
Kasus ini seyogyanya diperhatikan dengan serius. Bukan sekadar simpati namun minim aksi, kasus ini butuh penyelesaian yang fundamental hingga ke akar.
Kasus bunuh diri ini adalah efek domino dari sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan, yang menumbuhkan pribadi-pribadi lemah dan bermental lembek. Generasi saat ini terbentuk dengan kondisi yang tidak ideal, dimana mereka hidup ditengah tekanan yang besar.
Mereka dihadapkan dengan biaya pendidikan yang mahal, tekanan kurikulum akademik yang dijalankan, serta di hadapkan dengan kehidupan yang hedon di kalangan remaja namun tidak berbanding lurus dengan kondisi perekonomiannya.
Ditambah dengan ekspektasi orangtua yang berharap anaknya sukses melalui perguruan tinggi dengan biaya yang tak sedikit ini. Akhirnya generasi tidak bisa fokus dengan pendidikan namun juga dihadapkan dengan berbagai tekanan yang akhirnya mental dan nyawanya tak terselamatkan.
Solusi dari kerusakan saat ini adalah penerapan sistem Islam. Sistem pendidikan islam merupakan hal yang penting, sehingga akan difasilitasi gratis oleh negera dan pendidikan dalam negara berbasis islam bukan sebagai sekadar meraih kesuksesaan namun sistem islam senantiasa menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT sehingga menjadi generasi yang cemerlang dan jiwa yang kokoh.
Sistem islam juga dapat menyejahtrakan masyarakat dengan sistem ekonomi yang sesuai syariat. Harta yang tersebar luas di muka bumi ini dapat dikelola dengan baik. Seperti adanya pengelompokkan kepemilikkan milik negara, kepemilikkan milik individu, dan kepemilikkan milik umum atau masyarakat. Sehingga tidak ada lagi ketimbangan sosial ekonomi ditengah masyarakat hingga negara.
Dengan islam pula hidup akan berjalan dengan tentram dan tidak ada pamer-pamer harta bahkan hidup hedon karena semua sudah tertata dengan baik dan hanya berharap kepada rida-Nya saja.
Salah satu syariat islam pun adalah menjaga setiap jiwa manusia, disebut dengan memelihara jiwa (Hifz al-Nafs). Maka negara yang menjalankan syariat islam akan sigap dan memperhatikan kasus serupa bunuh diri ini, salah satunya dengan memfasilitasi rumah-rumah kesehatan baik kesehatan fisik maupun psikis (jiwa) dengan cuma-cuma. Wallahu a’alam.[]














Comment