Kaum Pelangi, Haruskah Ada Di Muka Bumi Ini?

Opini1707 Views

 

 

Oleh : Irohima, Pengajar

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kaum pelangi semakin terang terangan unjuk gigi, eksistensi mereka tak lagi sembunyi-sembunyi. Bahkan diapresiasi dan diberi ruang dan panggung yang cukup luas di negeri ini. Masyarakat seakan digiring ke arah opini tak lagi perduli dan menerima mereka sebagai bentuk toleransi berkostum hak asasi. Miris, tapi inilah realiti, seperti yang terjadi saat ini.

Topik LGBT kembali gaduh dan ramai diperbincangkan di media sosial setelah salah seorang pesohor youtuber mengundang pasangan Gay Ragil Mahardika dan Frederik Vollert di podcastnya pada 8 Mei 2022.

Namun kemudian video tersebut diakui telah dihapus dari akun YouTube miliknya dan disusul permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Meski berdalih tak mendukung LGBT namun tindakannya telah membuat pro kontra di masyarakat.

Ragil Mahardika dan Frederik Vollert bukan pasangan gay pertama yang telah secara jelas mengakui sebagai pelaku penyimpangan seksual dan tampil di muka publik. Terdapat Ragil- Ragil lain yang telah banyak bertebaran di setiap penjuru wilayah Indonesia bahkan dunia.

Banyak yang menentang dan menolak eksistensi mereka, namun tak sedikit yang berempati, memuji bahkan menjadikannya selebriti. Ruang yang luas pun diberikan agar mereka bebas bergerak memperjuangkan kata ‘ Layak ‘ ditengah-tengah masyarakat. Yah, layak hidup berdampingan dengan masyarakat, layak diakui dan layak berkembang dimasyarakat.

LGBT adalah akronim dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Awal pada tahun 1990, istilah LGBT digunakan untuk merujuk pada kelompok homoseksual dan transgender saja, sekarang singkatan ini melingkupi lebih banyak orientasi seksual dan beragam identitas gender. LGBT tidak mengenal batasan usia, jenis kelamin, status sosial maupun pekerjaan. Perilaku kaum pelangi yang memiliki orientasi seksual yang menyimpang jelas sangat keliru serta bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku ditengah masyarakat, disamping itu prilaku LGBT mempunyai bahaya dan dampak negatif seperti :

– Penyakit kanker anal atau dubur, hubungan seks anal yang dilakukan para gay, berisiko tinggi terkena penyakit ini..
– Kanker mulut yang ditimbulkan dari kebiasaan melakukan oral seks.
– Meningitis atau radang selaput otak yang bisa terjadi karena penularan hubungan seks yang dilakukan oleh LGBT.
– HIV / AIDS. Perilaku seks bebas dengan banyak orang memiliki kecenderungan terkena HIV/ AIDS.

Di samping dampak negatif dari sisi kesehatan, perilaku LGBT juga memiliki dampak lainnya seperti terjadinya banyak kasus pelecehan seksual pada anak-anak, yang sebagian dilakukan oleh kaum homoseksual, pelaku LGBT juga sulit mendapatkan ketenangan hidup karena sering bergonta-ganti pasangan. Dalam bidang pendidikan, sebagian kaum pelangi sering mengalami permasalahan putus sekolah, yang lebih daripada itu, perilaku LGBT bisa merusak generasi dan memutus populasi.

Terlepas dari berbagai dampak yang ditimbulkan LGBT, Penyimpangan orientasi seksual adalah sebuah kekeliruan, perilaku ini berakibat fatal pada rusaknya fitrah kehidupan manusia. Sangat memprihatinkan ketika LGBT tumbuh subur di banyak negara terutama di negara – negara yang berpenduduk mayoritas muslim, karena perilaku LGBT Islam sangat menentang prilaku menyimpang ini.

Dalam Islam LGBT adalah haram, Islam mengharamkan zina, gay, lesbian, dan penyimpangan seks lainnya, Islam juga akan menjatuhkan sanksi yang tegas bagi pelakunya ( sanksi dapat berupa hukuman mati ).

Allah SWT telah memberi kita akal untuk berpikir. Dan bila kita menggunakannya dengan baik, tentu kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa yang disampaikan oleh Allah SWT benar adanya.

Pro kontra terkait LGBT seharusnya tak perlu terjadi jika saja kita mau membuka mata pada realita bahwa betapa prilaku menyimpang yang mereka klaim sebagai hak asasi tak lebih dari syahwat mereka semata.

Orientasi seksual menyimpang yang mereka anggap anugerah adalah sebuah bencana. Seringkali rasa heran menyapa, dimanakah mereka para aktivis yang begitu gencar memperjuangkan kepentingan kaum pelangi disaat sebagian dari mereka merintih perih akibat berjibaku dengan penyakit yang mengerikan, meregang nyawa disudut kamar karena tak mampu membeli obat yang harganya selangit. Tak punya hati kah mereka saat menyaksikan anak-anak yang dilecehkan ?

Dunia telah terlena akan maksiat dan dosa. Isu LGBT terus menggelinding. Banyaknya fenomena pemberitaan maupun aktivitas kaum pelangi ditambah lagi dengan seringnya wacana LGBT diangkat dalam media populer akan semakin membuat masyarakat familiar dan dikhawatirkan lambat laun masyarakat akan menerima eksistensi mereka. Padahal yang harusnya kita lakukan adalah menolak prilaku ini dan memahamkan umat akan bahaya LGBT.

Prilaku LGBT dan eksistensi mereka akan selalu ada jika paham sekuler liberalirme tetap dipertahankan. Sekuler liberalisme adalah paham yang salah dan kotor. Sekulerisme memisah kehidupan dari agama. Liberalisme yang mengagungkan kebebasan dalam setiap hal termasuk kebebasan berprilaku akan mengkondisikan kita pada situasi menabrak norma agama, etika serta nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

Selayaknya kita mengacu pada Islam dalam menghadapi persoalan ini. Karena Islam begitu jelas menyikapi masalah ini. Islam mengharamkan setiap perbuatan yang berakibat merugikan dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Islam juga tegas dalam memberikan sanksi pada para pelaku penyimpangan hingga akan berefek jera dan akan membuat orang berpikir jutaan kali untuk melakukan perbuatan ini. Dan tentu langkah ini akan meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari LGBT.Wallahualam bis shawab.[]

Comment