KDRT: Potret Buruk Suami dalam Lumpur Kapitalisme

Opini1038 Views

 

oleh: Angesti Widadi, Pendidik

________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– “Semua kekerasan adalah ilustrasi stereotip yang menyedihkan” Barbara Kruger

Sebuah mimpi buruk bagi seorang istri jika lelaki dan pernikahan yang didambakannya berubah menjadi monster yang menyakiti dan menghantuinya setiap saat. Seperti lonjakan gunung es, kurva kasus KDRT terus meningkat setiap harinya.

Meningkatnya kasus KDrT bagaikan petir yang terus menyambar bagi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) karena kasus ini seolah tidak bisa dihentikan.

KDRT bisa menghantui siapa aja mulai dari rakyat biasa hingga publik figur. Jika lelaki sudah terbiasa menggunakan kekerasan terhadap istrinya, maka ia bisa melakukan hal tersebut di mana saja. Seperti kasus berikut ini, aksi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali terjadi di Depok, Jawa Barat.

Tanpa belas kasihan, seorang suami seperti ditulis beritasatu.com (6/11/2022), tega memukul istrinya berkali-kali. Ironisnya, penganiayaan tersebut dilakukan di pinggir jalan dan disaksikan anak mereka yang masih balita juga warga sekitar.

Sungguh berita yang miris dan menyayat hati kita. Bagaimana bisa seorang suami yang sejatinya menjadi pelindung dan pemimpin bagi istri melakukan hal keji di depan khalayak umum?

Efek buruk dari tingginya angka kasus KDRT yang dialami oleh 79,5% atau 16.745 korban perempuan di Indonesia per Oktober 2022 (data KemenPPPA) ternyata berimbas kepada para perempuan singel. Mereka berpikir bahwa menikah adalah suatu aktivitas yang sangat mengerikan sehingga beberapa dari mereka lebih memilih untuk menjalankan hubungan seks di luar nikah. Naudzubillah!

Potret buruk seorang suami yang terjadi belakangan ini adalah akibat dari serangkaian sebab penerapan sistem lumpur, sistem kufur kapitalisme. Mulai dari hal kecil seperti aturan suami istri dalam rumah tangga sampai hal besar melingkupi sistem ekonomi.

Sistem kapitalisme meniadakan ilmu agama dalam urusan suami istri. Kapitalisme melahirkan kebebasan berpendapat dan berperilaku. Suami bebas melakukan apa aja tanpa memerhatikan rambu-rambu agama. Sistem lumpur ini membuat suami merasa punya wewenang untuk melakukan apapun terhadap istri termasuk tindak KDRT. Miris!

Kesulitan ekonomi dalam rumah tangga juga menjadi pemicu tingginya kurva KDRT. Anggota DPRD Jawa Barat, Sri Rahayu Agustina sebagaimana dikutip kompas.com, menyebut faktor ekonomi menjadi pemicu pertama kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Wajar jika faktor ekonomi menjadi pemicu pertama dalam KDRT, karena kita hidup dalam lumpur kapitalisme. Sistem mengerikan yang menjerat rakyat ke dalam penderitaan hidup. Sistem yang hanya memikirkan keuntungan material untuk pemilik modal terbesar, pengusaha asing. Sistem yang tak pernah berpihak kepada rakyat.

Suami sebagai pemimpin dalam rumah tangga tidak bisa menyelesaikan masalah ekonomi sendiri dan berakhir dengan pelampiasan emosi kepada istri dan keluarga. Tentu ini sangat merugikan bagi istri dan anak-anaknya.

Dua penyebab terjadinya tindak KDRT yang telah disebutkan di atas, hanya terjadi dalam sistem lumpur kapitalisme, sistem buatan manusia yang lemah dan terbatas. Padahal sebagai manusia, kita telah diberikan sistem lengkap, terarah dan terjamin untuk kesejahteraan hidup di dunia.

Sistem Islam yang berasal dari sumber penciptanya langsung, yakni Allah Swt. Peran suami dalam Islam ialah sebagai Qowwam (pemimpin) yang menuntun dan membimbing istri dan keluarganya menuju surga.

Kriteria utama suami dalam Islam ialah harus mau diatur dengan aturan Allah dan dengan ikhlas menaati semua aturan-Nya. Dengan begitu, maka ia bisa dengan sabar mengarahkan istri dan anak-anaknya kepada jalan Islam yang benar.

Suami yang taat kepada Allah tidak akan menyakiti apalagi sampai memukul istrinya. Rasulullah telah berpesan bahwa “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarga (istri) nya. Aku adalah orang yang paling baik terhadap keluarga (istri) ku.” (HR Al-Hakim dan Ibnu Hibban dari jalur Aisyah ra).

Islam juga sangat detail dalam mengatur urusan ekonomi sehingga tidak akan membiarkan rakyat kesulitan hingga menderita. Islam sangat memerhatikan hak dan kebutuhan rakyat karena rakyat adalah amanah terbesar bagi sang pemimpin negara. Rasulullah telah mengingatkan para pemimpin agar amanah dalam mengurus rakyatnya.

Ma’qil mengatakan sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa diberi beban oleh Allah untuk memimpin rakyatnya lalu mati dalam keadaan menipu rakyat, niscaya Allah mengharamkan surga atasnya.” (HR Muslim).

Islam menjamin kebutuhan pokok (al-hajat al-dharuriyah) bagi setiap individu rakyat seperti kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Apabila ada individu yang tidak mampu, Daulah Islam bertugas untuk memenuhi seluruh kebutuhan pokoknya (primer), kemudian memberinya kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sekunder sesuai dengan kemampuannya. Kebutuhan pokok yang dimaksud adalah papan, pangan, dan pakaian.

Kembali kepada Islam, kembali kepada aturan Allah, sang Pengatur kehidupan agar tercipta kehidupan yang lebih baik. Wallahu a’lamu bis showab.[]

Comment