Kebutuhan Mendesak Perisai Umat di Tengah Memanasnya Krisis Kemanusiaan Sudan

Opini281 Views

 

Penulis: Nida Ul Khair | Pelajar

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA — Sobat, di tengah hiruk-pikuk kehidupan—kesibukan pekerjaan, tuntutan akademik, hingga persoalan keluarga—kadang kita lupa berhenti sejenak dan menoleh pada keadaan saudara-saudara kita yang jauh di luar sana.

“Menyelesaikan masalah diri sendiri saja belum tuntas, kenapa harus peduli pada masalah negara lain?” Pikiran seperti ini mungkin sempat terlintas pada sebagian orang. Namun, perlu kita ingat, kaum muslim diibaratkan satu tubuh: ketika satu bagian sakit, bagian lainnya ikut merasakan.

Maka kepedulian kita tidak boleh berhenti pada batas negara, ras, atau suku. Bukan berarti kita abai terhadap kondisi negeri sendiri, tetapi kepedulian kita seharusnya meluas—bahkan kepada mereka yang berada ribuan kilometer jauhnya.

Saat ini, sebagian dari kita mungkin belum menyadari betapa dahsyatnya krisis kemanusiaan yang melanda Sudan. Korbannya bukan hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan perempuan.

Pembunuhan terjadi di berbagai wilayah, pemerkosaan berlangsung secara mengerikan, dan situasinya makin memburuk dari hari ke hari.

Sebagaimana dilansir Minanews.net pada 2 November 2025, kondisi di El-Fasher, Sudan, ibu kota Darfur Utara, semakin mengkhawatirkan. Dalam empat hari saja—26 hingga 29 Oktober—lebih dari 62.000 warga terpaksa mengungsi.

Laporan International Organization for Migration (IOM) menyebutkan sedikitnya 62.263 orang melarikan diri setelah kota itu direbut Rapid Support Forces (RSF). Pada 29 Oktober saja, tercatat 26.080 pengungsi baru.

Bayangkan betapa mengerikannya situasi itu. Diperkirakan lebih dari 8 juta warga mengungsi di dalam negeri, 3 juta lainnya mengungsi ke luar negara, 550 ribu anak menghadapi kelaparan akut, dan lebih dari 150 ribu nyawa melayang. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Krisis ini bukan baru muncul. Ia bermula pada April 2023, dipicu perebutan kekuasaan antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF). Konflik itu merembet ke berbagai aspek kehidupan hingga menjadi salah satu krisis kemanusiaan terburuk abad ini.

Lebih miris lagi, konflik ini tidak lepas dari campur tangan negara adidaya seperti Amerika Serikat dan didukung sekutu-sekutunya—UEA dan rezim Zionis—yang berkepentingan atas sumber daya alam Sudan yang melimpah.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan sebagai umat muslim menyaksikan tragedi sebesar ini?

Pertama, kita perlu menyadari bahwa fokus hidup tidak bisa hanya pada urusan pribadi. Konflik dan genosida terus berulang karena umat tidak memiliki perisai yang menjaga kehormatan dan keselamatannya.

Bahkan negara-negara yang bertetangga dan sama-sama mayoritas muslim pun tak mampu memberi perlindungan berarti, seolah ada tembok pemisah yang menghalangi mereka.

Kedua, kesadaran akan perlunya perisai umat harus tumbuh. Dalam sejarah Islam, pelindung itu adalah sistem Islam yang menjaga dan membela umat dari penindasan. Sistem yang ada saat ini tidak dapat diharapkan banyak, sebab banyak penguasa justru bersekongkol dan mengabaikan penderitaan saudara-saudara muslim.

Karena itu, persatuan umat menjadi keharusan untuk melawan hegemoni kekuatan besar dunia. Tak perlu jauh-jauh—kita dapat memulainya dengan saling merangkul, belajar Islam bersama, dan berjuang agar lahir kembali kekuatan yang mampu melindungi umat dari penjajahan yang memecah-belah dan melemahkan. Wallahu a‘lam bishshawab.[]

Comment