Penulis: Dr. M. Shamsi Ali, Lc, M.A, PhD| Direktur Jamaica Muslim Center, Presiden Nusantara Foundation, New York
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dua karakter utama dalam ajaran Islam yang paling mendasar adalah kejujuran dan keadilan. Bahkan Al-Qur’an sendiri menegaskan kesempurnaannya melalui dua nilai tersebut: “Dan kalimat Tuhanmu telah sempurna (benar) dan adil” (QS Al-An’am: 115). Keduanya menjadi inti dari religiositas seorang manusia. Beragama sejatinya berarti menjunjung tinggi nilai kebenaran dan keadilan dalam hidup.
Kejujuran (as-sidqu) dan keadilan (al-‘adlu) adalah pondasi kokoh bagi terbentuknya nilai-nilai kebaikan universal. Terutama keadilan—nilai yang menjadi syarat tumbuhnya kehidupan yang bermartabat. Ketika keadilan runtuh, pada dasarnya yang roboh bukan hanya sistem, tapi juga kemanusiaan itu sendiri.
Namun ironis, kita hidup di zaman ketika kebenaran dan kejujuran sering kali menjadi barang langka. Dunia yang kehilangan nilai-nilai ini tak hanya menciptakan ketimpangan dan ketidakadilan, tapi juga menjauhkan manusia dari hakikat hidup yang sejati. Ketika kejujuran pudar, hidup menjadi sandiwara; penuh kepalsuan.
Hampir di semua aspek kehidupan, manusia hidup dalam kepura-puraan. Berpura-pura kaya padahal terbelit utang. Berpura-pura bahagia di balik tekanan batin yang tak tertahankan. Berpura-pura tersenyum sembari menutupi luka yang dalam. Dunia pun berubah menjadi panggung kosmetik: penipuan terhadap diri sendiri dan orang lain.
Kemunafikan ini tak hanya terjadi dalam kehidupan pribadi, tapi merajalela dalam kehidupan publik—khususnya dalam dunia politik. Pemimpin berpura-pura peduli pada rakyat, tapi kenyataannya mengejar ambisi pribadi dan kelompok.
Tak jarang, demi pencitraan, para politisi rela masuk ke gorong-gorong, pura-pura menyatu dengan rakyat. Namun saat berkuasa, rakyat dilupakan. Bahkan digusur demi kepentingan para oligarki dan pemilik modal.
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kemunafikan itu dilegitimasi oleh hukum. Kejahatan demi kejahatan dilakukan dengan cara yang tampak konstitusional. Dari perampasan kebebasan berekspresi, pemaksaan jabatan, hingga kriminalisasi lawan politik, semua dibungkus rapi dengan dalih hukum. Hukum pun berubah menjadi alat kekuasaan.
Di tengah kondisi seperti ini, muncul teladan yang memberi harapan. Salah satunya adalah Zohran Mamdani, politisi muda di New York. Ia konsisten dan jujur terhadap jati dirinya sebagai seorang Muslim, dan tak ragu mengumumkannya secara terbuka.
Dalam sistem politik Amerika—terlebih di New York, kota dengan komunitas Yahudi terbesar di luar Israel—sikap ini bukan tanpa risiko.
Namun Zohran membuktikan bahwa kejujuran dan keadilan bukan hanya idealisme, melainkan kompas dalam perjuangan politik. Ia berpijak pada nurani, bukan semata strategi. Ia percaya bahwa politik harus dibangun di atas kemanusiaan. Baginya, keadilan adalah hak semua orang, dan karena itu tak boleh dikorbankan demi kepentingan sesaat.
Komitmennya pada keadilan membuatnya vokal membela Palestina dan menentang genosida di Gaza. Ia tak gentar bersuara lantang melawan kebijakan zalim Pemerintah Netanyahu, meski itu berarti menantang arus besar. Keteguhan seperti inilah yang semestinya menjadi cermin bagi para pemimpin kita.
Akhirnya, pesan utama dari tulisan ini sederhana namun mendalam: Tak akan ada kemakmuran sejati tanpa kejujuran dan keadilan. Apa pun nama agama yang dianut suatu bangsa, termasuk negara Muslim mayoritas sekalipun, jika dua nilai ini hilang, maka kekuasaan akan berubah menjadi tirani, dan kekayaan akan terkonsentrasi di tangan segelintir orang rakus.
Akankah kita tersadarkan sebelum semuanya terlambat?[]











Comment