Oleh : Cut Intan Sari, Ibu Rumah Tangga
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Perubahan iklim global akan menyebabkan kekeringan di beberapa negara termasuk Indonesia. Padahal Indonesia termasuk dalam salah satu negara dengan sumber daya air yang melimpah karena menyimpan 6% potensi air di dunia. Terjadinya kekeringan yang dialami suatu wilayah tersebut dikarenakan faktor alam dan faktor manusia.
Terjadinya faktor alam penyebab kekeringan adalah perubahan iklim yang disebut El Nino, perubahan pola cuaca dan berdampak terhadap kekurangan air hujan.
Secara geografis Indonesia terletak digaris khatulistiwa yang diapit 2 benua dan 2 samudera di daerah ‘Monsoon’ dimana daerah tersebut merupakan fenomena alam yang disebabkan perubahan tekanan udara di daratan.
Perubahan ini menyebabkan “Jet Steam Effect” dari lautan yang menghempas daratan dengan hawa panas sehingga menyebabkan daerah yang awalnya memiliki kandungan air menjadi kering.
Lain halnya faktor yang diakibatkan oleh ulah manusia seperti penebangan hutan yang merusak daerah resapan air, penggunaan lahan tanah yang kurang teratur dengan berdirinya bangunan bangunan, serta penggunaan air yang berlebihan.
Pada tahun 2019 pemerintah pernah memprediksi kekeringan di Indonesia akan dialami hampir 28 provinsi ketika musim kemarau tiba. Riset dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika(BMKG) memberikan hasil curah hujan di musim kemarau mulai Agustus 2019 terhitung 64,94% wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah sekitar 100 mm/bulan.
Kekeringan yang disebabkan oleh kemarau tidak hanya melanda Indonesia tetapi duniapun mengalaminya, seperti India, Afrika Timur, dan Republik Rakyat Cina (RRC) pun pernah terkena imbasnya pada tahun 2010 hingga 2011. Apabila iklim berubah maka kekeringan akan terus berlanjut dan akan berdampak terhadap sekitar 2,7 milyar orang atau sekitar sepertiga populasi dunia akan menghadapi kekurangan air dalam tingkat yang parah di tahun 2025.
Terjadinya perubahan iklim yang menyebabkan kekeringan akan berdampak juga pada sektor pertanian yang merupakan mata pencaharian masyarakat Indonesia Dengan kekurangan air bersih dan gizi yang memburuk. Sehingga tidak terjaminnya kesehatan dan ekonomi masyarakat (bmh.or.id, 2/9/2022).
Kekeringan yang melanda dunia ini membuktikan bahwa tatanan negara di bawah kendali sekuler kapitalisme menyebabkan bumi menderita dengan sangat parah akibat deforestasi/penggundulan hutan dan pembebasan lahan untuk pembangunan yang tidak menguntungkan masyarakat. Sistem ekonomi kapitalis melegalkan konsep liberalisasi SDA sehingga sumber daya air dikelola swasta untuk keuntungan perusahaan dengan mengeksploitasi mata air sehingga puluhan masyarakat tidak mendapatkan air bersih dan sanitasi yang baik. Hal ini diperparah dengan datangnya kemarau dan perubahan iklim global.
Islam tidak memperbolehkan harta milik umum dimiliki oleh individu. Setiap orang memiliki hak yang sama. Rasulullah SAW bersabda :
“Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput/hutan, air, dan api”(HR Abu Dawud dan Ahmad).
Dalam ekonomi Islam negara mengatur kebijakan penggunaan SDA. Hutan maupun sumber sumber mata air dan energi fosil yang merupakan harta kepemilikan umum. Syariat memerintahkan negara saja yang berhak mengatur dan mengelola SDA tersebut dan hasilnya akan diberikan kepada rakyat tanpa komersialisasi.
Negara wajib mendirikan industri air bersih sehingga terpenuhi kebutuhan untuk setiap individu masyarakat. Untuk semua itu negara memanfaatkan sains dan teknologi serta ahli kesehatan sanitasi lingkungan demi terjaminnya akses setiap orang memiliki air bersih atau murah secara memadai.
Hanya Islam satu satunya sistem terbaik yang bisa menjamin kesejahteraan hidup umat manusia di bumi ini. Islam bisa mencegah kerusakan lingkungan dari tangan tangan manusia yang hanya mementingkan keuntungan pribadi.Waallahu a’lam bish-shawab.[]











Comment