Penulis: Lisa Khalida | Aktivis Dakwah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kondisi rakyat Gaza kini kian memprihatinkan. Di tengah puing-puing bangunan akibat agresi militer zionis Israel, mereka hidup tanpa pasokan air bersih, listrik terputus, dan layanan rumah sakit lumpuh karena kekurangan obat dan peralatan medis. Truk-truk bantuan internasional berisi makanan dan kebutuhan pokok tertahan di perbatasan, sebagian bahkan menumpuk di gudang World Food Programme (WFP) di Mesir dan Yordania.
Bantuan yang berhasil masuk seringkali dibayar mahal dengan nyawa. Meski berbagai upaya dilakukan, kebutuhan rakyat Gaza yang dilanda kelaparan akut belum terpenuhi.
Bagi zionis Israel, kelaparan menjadi senjata baru genosida selain bombardir militer. Ini dilakukan secara sadar, terstruktur, dan masif untuk melemahkan perjuangan rakyat Gaza. Anak-anak menjadi korban terbesar—banyak yang meninggal dengan tubuh tinggal kulit membungkus tulang akibat dehidrasi dan gizi buruk.
Blokade yang ketat memperparah krisis. PBB, yang seharusnya mencegah penjajahan dan melindungi rakyat Palestina, tak memberi langkah konkret. Negara-negara muslim pun terkesan diam, meski mereka adalah saudara seiman.
Namun, keteguhan rakyat Gaza justru semakin menonjol: mereka tetap teguh mempertahankan tanah dan akidah, menginspirasi gelombang solidaritas di seluruh dunia. Sayangnya, aksi-aksi solidaritas belum menghentikan penderitaan, terlebih banyak negara Arab yang justru mendukung langkah-langkah melemahkan Hamas.
Dilansir SindoNews (24/07/25), Imam Ahmed al-Tayeb menyeru hati nurani dunia untuk segera bertindak menyelamatkan Gaza dari kelaparan mematikan. Ia mengecam para pemasok senjata dan pelindung politik Israel sebagai mitra genosida. Namun, beberapa hari kemudian, pemerintah Mesir menekan Al-Azhar untuk merevisi kecaman tersebut.
Bahkan, seperti diberitakan CNBC Indonesia (31/07/25), Arab Saudi, Qatar, dan Mesir bersama Liga Arab, Uni Eropa, dan 17 negara lain secara resmi mendesak Hamas melucuti senjata dan menyerahkan kendali Gaza kepada Otoritas Palestina (PA).
Pertanyaannya, ada apa dengan para penguasa Muslim? Mengapa mereka buta dan tuli terhadap penderitaan Gaza? Kepentingan dunia dan kekuasaan seakan mematikan ukhuwah Islamiyah. Padahal, Allah SWT memerintahkan kaum muslim untuk saling mencintai sesama mukmin dan tegas terhadap orang kafir (QS. Al-Maidah: 54). Nyatanya, para pemimpin muslim justru tunduk dan menunjukkan keakraban dengan rezim Barat.
Seharusnya, ukhuwah Islamiyah menjadi dasar hubungan antarnegara muslim. Sikap diam hanya menunjukkan kelemahan di hadapan musuh Allah. Zionis Israel dan sekutunya adalah penjajah terlaknat yang tak segan membunuh perempuan dan anak-anak.
Meski berbagai upaya dilakukan, mereka gagal menguasai Gaza karena perlawanan para mujahidin dan keteguhan rakyat. Kejahatan perang Israel kini terbuka lebar di mata dunia, memunculkan pengakuan luas bahwa Gaza adalah bagian sah dari Palestina.
Bantuan pangan, obat, atau boikot belum cukup menghapus penderitaan Gaza. Yang dibutuhkan adalah tekanan politik dan kekuatan militer untuk menghentikan agresi, membuka blokade, dan mengusir penjajah. Semua itu tak akan terwujud jika umat Islam tidak bersatu.
Penderitaan Gaza adalah tanggung jawab seluruh umat Islam. Firman Allah SWT menegaskan, “…dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka kamu wajib menolong mereka…” (QS. Al-Anfal: 72).
Umat Islam tidak kekurangan jumlah, tetapi kehilangan pemimpin pemberani seperti Umar bin Khattab, Salahuddin Al-Ayyubi, atau Sultan Abdul Hamid II. Karena itu, umat harus bangkit, bersatu, dan kembali memperjuangkan kemuliaan (QS. Ali Imran: 110). Allah SWT menjanjikan kekuasaan di bumi bagi umat yang beriman dan beramal saleh (QS. An-Nur: 55).
Untuk itu dibutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menegakkan Islam kaffah.
Ketika negara Islam tegak di bawah khalifah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, barulah komando jihad untuk membebaskan Palestina dapat dijalankan.
Inilah solusi komprehensif: menjadikan momentum genosida ini sebagai titik balik kebangkitan dan persatuan umat Islam. Wallahu’alam.[]













Comment