Penulis: Agus Susanti | Aktivis Dakwah Serdang Bedagai
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Nyawa manusia kini seolah kehilangan nilainya. Pembunuhan dan penganiayaan terjadi dengan alasan yang kian sepele. Salah satunya, peristiwa memilukan yang mengguncang Kota Sibolga, Sumatera Utara, awal November lalu.
Seorang mahasiswa, Arjuna Tamaraya, tewas setelah dianiaya di Masjid Agung Sibolga. Berdasarkan laporan kepolisian yang dikutip dari Sumut.inews.id (5/11/2025), korban mengalami luka parah di bagian kepala akibat pengeroyokan yang dilakukan lima warga berinisial C.L (38), R.E.C (30), Z.P (57), H.B (46), dan S.S (40).
Meski sempat dibawa ke RSUD Dr. F.L. Tobing Sibolga oleh marbot masjid, nyawa Arjuna tak tertolong. Ia mengembuskan napas terakhir pada Sabtu, 1 November 2025 pukul 05.55 WIB. Kini, kelima pelaku telah diamankan dan ditahan di Rutan Mapolres Sibolga.
Masjid bukan sekadar tempat sujud, melainkan rumah Allah yang memberi ketenangan bagi siapa pun yang datang untuk beribadah. Di tempat suci ini, siapapun berhak beristirahat, berdzikir, atau membaca Al-Qur’an untuk melepas penat.
Namun, yang terjadi di Masjid Agung Sibolga sungguh di luar nalar. Korban yang hanya ingin beristirahat di dalam masjid, justru menjadi sasaran amarah. Padahal nazir masjid menegaskan tidak pernah melarang siapa pun untuk beristirahat di dalamnya.
Diduga karena tegurannya diabaikan, salah satu pelaku memanggil empat warga lainnya untuk “memberi pelajaran”. Korban ditarik dan dianiaya di halaman masjid. Salah seorang bahkan memukul hingga korban terkapar bersimbah darah.
Tak pernah terbayang oleh korban maupun keluarganya, masjid yang ia pandang sebagai tempat melepas lelah justru menjadi lokasi istirahat terakhirnya. Luka parah di kepala membuatnya tak mampu bertahan.
Para pelaku—yang sebagian sudah berusia matang—kini mendekam di balik jeruji besi. Namun, perkara ini tak berhenti di ruang sidang dunia. Sebab, di hadapan Allah SWT, setiap darah yang tertumpah akan dimintai pertanggung- jawaban di akhirat kelak.
Sebagaimana firman Allah SWT: “Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam; kekal ia di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, serta menyediakan azab yang besar baginya.”
(QS. An-Nisa: 93).
Tragedi di Sibolga menjadi cermin betapa jauhnya masyarakat dari pemahaman dan akidah Islam. Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, nilai ukhuwah dan kasih sayang seakan pudar.
Padahal Rasulullah SAW mengajarkan bahwa sesama muslim itu bagaikan satu tubuh—jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakannya. Namun nilai itu tampaknya telah hilang. Bukan menolong, pelaku justru mengusir dan memukul.
Amarah lebih didahulukan daripada sabar dan kasih sayang. Standar perbuatan tak lagi diukur dari halal dan haram, melainkan dari hawa nafsu. Padahal Islam adalah agama yang menebarkan kasih sayang, bahkan terhadap hewan sekalipun.
Kasus serupa terus berulang. Penjara bertambah, namun kekerasan dan pembunuhan tak juga berkurang. Ini menunjukkan lemahnya hukum dalam sistem kapitalis yang tidak memberi efek jera, dan tak menumbuhkan rasa takut pelaku melakukan kejahatan.
Berbeda dengan sistem Islam yang menegakkan hukum dengan tegas dan adil. Dalam syariat, pelaku pembunuhan dikenai qishash (balasan setimpal), kecuali jika keluarga korban memaafkan dan menggantinya dengan diyat (tebusan) setara seratus ekor unta.
Islam menempatkan nyawa manusia pada kedudukan yang amat mulia. Dengan hukum Allah, manusia takut berbuat zalim karena sadar akan tanggung jawab di hadapan-Nya nanti di yaumil hisab.
Menghidupkan masjid berarti memuliakan rumah Allah. Masjid semestinya diisi oleh orang-orang saleh yang menebar ketenangan dan kasih sayang, bukan amarah dan kekerasan.
Izinkan anak-anak bermain sambil mengenal rumah Tuhannya, sambut mereka yang datang melepas lelah, bahkan gelandangan yang mencari ketenangan. Arahkan mereka agar menjaga kebersihan dan kesucian rumah ibadah.
Sebab sesungguhnya, memuliakan sesama muslim adalah bagian dari menjaga kemuliaan iman itu sendiri.
Wallahu a‘lam bishawab.[]














Comment