Kepemimpinan Islam Global untuk Pembebasan Palestina

Opini2072 Views

 

Penulis: Irnawati, S.Pd. | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Opini publik yang sebelumnya tenggelam terkait Palestina, kini kembali bergolak dengan adanya aksi Global March to Gaza (GMTG). Laman detik (16/6)25) mengatakan, aksi sipil terbesar yang bertujuan untuk menembus blokade dan masuk ke wilayah Gaza diikuti peserta lebih dari 50 negara untuk bergerak menuju Rafah, pintu perbatasan antara Mesir dan Gaza.

Munculnya gerakan GMTG menunjukkan kemarahan umat yang sangat besar sekaligus pesimis kepada berbagai lembaga internasional yang nyatanya telah gagal menghentikan kezaliman, serta kecewa kepada para penguasa di dunia yang cenderung diam, bahkan mendukung pembantaian.

GMtG juga mempertegas bahwa bukan cuma zionis yang menutup jalan ke Gaza, para penguasa muslim bahkan menjadi pagar berduri yang menghalangi masuknya pertolongan untuk saudara seiman.

Seluruh peserta datang dengan satu harapan memberikan tekanan besar agar genosida di Gaza segera dihentikan. Namun, langkah-langkah penuh harapan itu terhenti di Gerbang Rafah. Mesir yang berbatasan dengan Palestina alih-alih menolong dan membantu para diplomat kemanusiaan mencapai tujuan, tentara dan otoritas Mesir malah berjejer menghalangi mereka mencapai Rafah.

Tidak hanya menghalangi, mereka melakukan deportasi kepada para peserta, menahan dan menyerang aktivis.

Dilansir dari kompas.tv (12/06/25), Pemerintah Mesir mendeportasi puluhan aktivis yang berencana mengikuti konvoi kemanusiaan, ada 170 peserta ditahan atau dihambat saat berada di Kairo dengan alasan mereka tidak memiliki izin.

Batu Sandungan Pembebasan Palestina

Tertahannya peserta aksi di pintu Rafah yang menjadi penyambung nyawa bagi warga Gaza menjadi pelajaran penting yang membuktikan bahwa gerakan kemanusiaan apapun tidak akan pernah menyolusi masalah Gaza karena adanya batas imajiner yang menjadi pintu penghalang terbesar yang dibangun oleh penjajah di negeri-negeri muslim, yaitu nasionalisme sempit dan konsep negara bangsa yang terus dijaga para penguasa muslim melalui tentara-tentaranya.

Paham ini telah mengakar hingga derita saudara seiman diabaikan hanya karena mereka dianggap “bukan bagian dari bangsa atau negara kita” pernyataan ini mengiris nurani, apalagi menyaksikan sikap dingin para penguasa negeri-negeri Arab yang berbatasan langsung dengan Gaza.

Negara yang telah terjebak dalam sistem kapitalis sekuler ini telah kehilangan rasa persaudaraannya sesama muslim. Seorang muslim itu seharusnya bagaikan satu tubuh, jika bagian tubuh lain merasakan sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya.

Tetapi lain hal dalam sistem saat ini, suatu ikatan persaudaraan hanya terjadi jika hubungan keduanya mendatangkan manfaat. Sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintahan Mesir secara terbuka menentang blokade Israel di Gaza dan mendesak gencatan senjata segera, namun mereka akan berusaha membungkam pembangkang dan aktivis yang mengkritik hubungan ekonomi dan politik Mesir-Israel.

Mereka rela menormalisasi hubungan dengan penjajah tanah Palestina dan pembantai warga Gaza, hanya demi mengamankan kekuasaan mereka.

Maged Mandour seorang analisis politik mengungkapkan masuknya dana asing ke Mesir membuat negara itu bergantung pada kemauan negara-negara Barat dan membatasi kemampuan Mesir untuk bertindak terkait perang Israel.

Maget Mandour seperti ditulis inilah.com (24/4/25) mengatakan bahwa Israel adalah sekutu yang sangat diperlukan oleh Mesir dalam menjaga rezim tetap berkuasa, sehingga Mesir akan mengambil tindakan yang sangat enteng jika mencurigai bahwa kebijakannya akan mengganggu aliansi tersebut.

Butuh Kepemimpinan Global untuk Mengakhiri Penjajahan

Penguasa hari ini tidak benar-benar berdiri di sisi Gaza, mereka telah berkhianat kepada masyarakat, khususnya umat Islam di Gaza. Hal ini membuktikan dengan jelas bahwa umat membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi perisainya. Kepemimpinan itu hanya akan hadir dengan kepemimpinan politik Islam global, sebuah sistem yang pernah diterapkan di dunia selama kurang lebih 13 abad dan mendatangkan keamanan bagi seluruh umat.

Dalam kepemimpinan politik Islam global di bawah bendera tauhid, negara bersifat independen dan tidak ada tekanan dari negara lain. Setiap keputusan dibuat berdasarkan hukum yang telah Allah tetapkan. Perlindungan bukan hanya untuk kaum muslim tetapi juga memberikan perlindungan kepada non-muslim.

Bahkan Will Durant, dalam The Story of Civilization, vol XIII, menulis bahwa para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka.

Negara dalam kepemimpinan politik Islam global akan memberikan bantuan kepada kaumnya tanpa memperhatikan mereka ada di negara mana. Negara yang menzolimi kaum muslim akan mendapatkan perlawanan dari negara-negara Islam dan akan memberikan sikap tegas, walaupun di antara kedua negara terikat perjanjian. Karena asas negara dalam berbuat bukan pada ada tidaknya manfaat yang diperoleh, tetapi pada kewajiban melindungi umat.

Islam tidak akan membiarkan satu nyawapun melayang dengan sia-sia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Lebih baik hancurnya Kabah daripada matinya seorang muslim.”

Ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya “Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya (QS. An-Nisa:93).

Perisai yang kokoh tersebut hanya akan terwujud dalam kepemimpinan politik Islam global, yang akan melahirkan sosok pemimpin seperti Salahuddin Al Ayyubi ataupun Sultan Abdul Hamid II yang menjaga Palestina dengan darah dan jiwa raga mereka.

Kepemimpinan politik Islam global hanya akan terwujud dengan adanya persatuan umat. Masyarakat harus menyadari bahwa untuk menolong masyarakat Gaza dibutuhkan perubahan besar, tidak cukup pada amalan praktis, seperti mengirim bantuan.

Aksi besar-besaran mungkin bisa memberikan tekanan karena menunjukkan kekuatan umat, namun agar kekuatan ini bisa benar-benar memberi tekanan harusnya diiringi dengan pemahaman ideologis yang akan mengarahkan perjuangan umat agar Palestina benar-benar merdeka dengan kembalinya seluruh tanah Palestina ke pangkuan kaum muslimin.[]

Comment