Ketahanan Ekonomi Domestik di Tengah Gejolak Dunia

Ekonomi, Nasional371 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dengan tema “Resiliensi Ekonomi Domestik sebagai Fondasi Menghadapi Gejolak Dunia”, Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) kembali menggelar Sarasehan 100 Ekonom di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (28/10/25).

Forum tahunan ini menjadi wadah bertemunya para ekonom, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk membahas arah dan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

Acara yang digarap bersama CNBC Indonesia itu dibuka oleh Direktur Eksekutif INDEF, Esther Sri Astuti. Dalam sambutannya, Esther menegaskan pentingnya membangun daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.

“Ada tiga hal utama yang perlu dikuatkan seperti kemampuan adaptasi, kemandirian ekonomi nasional, serta inovasi sumber daya manusia,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, buku Pemikiran 100 Ekonom yang diluncurkan bersamaan dengan forum ini diharapkan menjadi “kompas bagi para pembuat kebijakan dan pelaku ekonomi.”

Keynote speech disampaikan oleh Ferry Irawan, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mewakili Menko Airlangga Hartarto. Ferry menyebut, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan arah positif meski tekanan global masih tinggi.

“Kami terus memantau tantangan global agar ekonomi domestik tetap terjaga,” katanya.

Ia memaparkan sederet strategi pemerintah, mulai dari diversifikasi pasar ekspor, penguatan hilirisasi industri dan ketahanan pangan, hingga peningkatan kualitas SDM dan kepastian berusaha melalui deregulasi.

Forum diskusi yang dipandu oleh Dr. Aviliani, Ekonom Senior INDEF, terbagi ke dalam empat klaster utama, Hilirisasi dan Kedaulatan Energi, Kedaulatan Pangan, SDM dan Kesehatan, serta Fiskal dan Moneter.

Pada sesi pertama, Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, menyoroti capaian investasi yang telah mencapai 75 persen dari target 2025. Ia menilai hilirisasi mineral dan tambang sudah menunjukkan hasil konkret terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, ia mengingatkan adanya tiga tantangan utama yakni daya saing, keberlanjutan, dan dampak lingkungan.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa lifting minyak tahun ini telah memenuhi target APBN. Ia menegaskan komitmen pemerintah dalam menekan impor BBM melalui pengembangan energi berbasis etanol serta peningkatan bauran energi terbarukan.

“Energi baru terbarukan memang tidak murah, tapi arah kebijakan sudah dimulai, salah satunya dengan implementasi panel surya,” kata Bahlil.

Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, menekankan pentingnya deregulasi untuk memperkuat produksi pangan nasional. Ia menyebut Indonesia berhasil mencapai swasembada beras dan meningkatkan nilai tukar petani.

“Dengan kebijakan etanol berbasis jagung dan ketela, nilai tambah pertanian meningkat dan mampu menekan angka kemiskinan,” ujarnya.

Dari sektor perikanan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memaparkan lima langkah menuju ekonomi biru, di antaranya penangkapan ikan berbasis kuota dan pengembangan 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih.

“Kita gunakan Vessel Monitoring System untuk mencegah overfishing dan memastikan sumber daya laut tetap lestari,” katanya.

Pada klaster ketiga, Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menegaskan pentingnya memperluas akses belajar, bukan sekadar schooling.

“Pendidikan nonformal dan vokasi harus diperkuat, terutama melalui kemitraan industri dan program SMK berbasis keunggulan lokal,” ujarnya.

Ia juga memastikan program PPG dan dana BOS kini lebih transparan serta berorientasi pada peningkatan mutu guru dan sekolah.

Sementara itu, Bayu Teja Muliawan, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Kesehatan, menyoroti pentingnya fokus pada program prioritas di tengah keterbatasan anggaran.

Program kesehatan ibu-anak, pemberantasan TBC, dan peningkatan layanan empat penyakit katastropik menjadi prioritas 2026. Ia menegaskan bahwa “pendanaan kini beralih ke money follow program, bukan sekadar mandatory spending.”

Diskusi terakhir menghadirkan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan. Ia mengakui bahwa kebijakan fiskal dan moneter setahun terakhir belum optimal.

“Kita perlu kebijakan pro-cyclical yang mendorong pergerakan ekonomi tanpa harus menambah utang besar,” katanya.

Menurutnya, tingkat kepercayaan konsumen mulai membaik sejak Oktober, menandakan pemulihan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

 

Menjawab pertanyaan para ekonom, Purbaya menegaskan bahwa utang negara masih berada di level aman dengan rasio di bawah 60 persen terhadap PDB dan defisit di bawah 3 persen. Ia menolak penggunaan burden sharing dengan Bank Indonesia karena independensi moneter harus dijaga.

“Jangan takut mengambil risiko. Ekonomi hanya akan tumbuh jika kita berani menghadapi risiko dengan disiplin fiskal yang kuat,” ujarnya menutup sesi.

Acara Sarasehan 100 Ekonom 2025 berakhir dengan pesan reflektif dari INDEF: ketahanan ekonomi nasional tak hanya ditentukan oleh kebijakan makro, tetapi juga oleh kolaborasi lintas sektor dan kemampuan adaptif bangsa dalam menghadapi perubahan global yang cepat.[]

Comment