Penulis: Ifa Iftitah Kirana, S.Psi | Praktisi Pendidikan
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Krisis kesehatan mental pada anak-anak Gaza sudah sangat mengkhawatirkan. Adam, salah satu dari sekian banyak anak di Gaza yang dulunya ceria dan banyak bicara mendadak diam. Hal tersebut terjadi setelah menyaksikan ayahnya meninggal di sampingnya di lantai rumah sakit, sementara dirinya sendiri kehilangan satu kaki akibat serangan yang mestinya tidak terjadi di wilayah “aman”.
Dilansir dari BBC Indonesia (29/5/2026), psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk menyatakan bahwa lebih dari satu juta anak di Gaza menderita trauma parah. Sebagian dari mereka merespons penderitaan itu dengan cara yang paling menyayat yakni diam. Bukan pilihan yang disadari, melainkan respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem seolah sistem saraf anak itu berkata, “Saya tidak kuat lagi.”
Inilah genosida yang sesungguhnya. Bukan hanya soal angka kematian yang sangat fantastis dimana 20.000 anak terbunuh sejak Oktober 2023 menurut UNICEF. Namun genosida ini juga menggerogoti jiwa anak-anak yang masih hidup hingga mereka kehilangan sesuatu yang paling manusiawi yakni suara.
“Dari sisi psikologi, apa yang dialami anak-anak Gaza adalah kerusakan sistemik pada fondasi perkembangan otak.”
Masih berdasarkan laporan yang sama, Katrin menjelaskan bahwa amigdala yang bertanggung jawab atas emosi intens membesar pada anak-anak yang mengalami trauma parah, sementara korteks prefrontal yang mengatur perencanaan, penyelesaian masalah, dan regulasi emosi justru berkembang lebih tipis dengan koneksi saraf yang lebih sedikit.
Artinya, entitas Zionis tidak sekadar membunuh secara fisik melainkan sedang menghancurkan generasi secara biologis. Ini bukan kelalaian, ini adalah strategi.
Seluruh rasa aman anak-anak Gaza telah lenyap sepenuhnya. Tidak ada satu pun anak di Gaza yang bisa tidur dengan kepastian bahwa mereka akan bangun keesokan harinya.
Dalam psikologi perkembangan, rasa aman adalah kebutuhan paling dasar yang memungkinkan seorang anak tumbuh. Tanpanya, seluruh bangunan kepribadian runtuh. Entitas Zionis tahu itu dan mereka menyerangnya secara sistematis.
Ini menjadi bukti kegagalan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) oleh masyarakat internasional. Gencatan senjata diumumkan, tapi kekerasan masih terus berlanjut.
Bantuan kemanusiaan tembus sedikit, akses petugas medis internasional pun dipersulit. Dunia menyaksikan, bersimpati, berdonasi tapi kejahatan tidak berhenti. Upaya diplomatik seakan hanya menjadi penenang sementara. Namun nyatanya terbukti mandul dalam menyelesaikan masalah.
Terapi psikologis untuk anak-anak Gaza memang perlu. Tapi lebih jauh dari pada itu mereka butuh negaranya kembali. Mereka butuh tumbuh di tanah yang tidak diinjak penjajah.
Penderitaan anak-anak Gaza tidak akan selesai dengan sesi trauma healing namun akan selesai ketika penjajahan berakhir. Ketika ada kekuatan nyata yang berani mengangkat senjata demi membela mereka.
Maka tugas kita bukan sekadar menangis di media sosial. Tugas kita adalah membangun kesadaran bahwa pembebasan Palestina membutuhkan lebih dari simpati.
Lebih besar dari pada itu, ia membutuhkan kekuatan politik, militer, dan peradaban. Kesadaran untuk menghadirkan semua itulah yang menjadi kewajiban.
Dimulai dari gerakan pemikiran, penyatuan barisan, dan penolakan tegas terhadap sistem yang telah terbukti membiarkan anak-anak Gaza belajar diam.
Selama Palestina belum merdeka, setiap anak yang belajar diam adalah gugatan kepada kita semua. Wallahua’lam bisshawab.













Comment