Ketika Orang Tua Masih Harus Mengantar Anak Mencari Kerja

Opini70 Views

Penulis: Ummu Firly | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pemandangan yang mengharukan terlihat pada penyelenggaraan Job Fair Kota Tangerang 2026. Di tengah ribuan pencari kerja yang memadati lokasi, tampak tidak sedikit orang tua yang turut mendampingi anak-anak mereka.

Ada yang mengantar lulusan SMK, ada pula yang menemani putra-putrinya yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Mereka datang membawa map berisi dokumen lamaran sekaligus harapan agar perjuangan panjang menempuh pendidikan berbuah pekerjaan yang layak.

Fenomena tersebut bukan sekadar potret kasih sayang orang tua kepada anak. Lebih dari itu, ia mencerminkan kegelisahan banyak keluarga Indonesia. Ketika orang tua merasa perlu ikut mendampingi anak yang telah dewasa mencari pekerjaan, sesungguhnya tersirat pesan bahwa mendapatkan pekerjaan kini semakin sulit dan penuh persaingan.

Laman tangerangkota.go.id (24/6/2026) melaporkan, Pemerintah Kota Tangerang kembali menggelar Job Fair 2026 melalui Program Gampang Kerja dengan menghadirkan 55 perusahaan yang membuka sekitar 15.000 lowongan pekerjaan.

Program ini diharapkan menjadi jembatan yang mempertemukan pencari kerja dengan dunia usaha sekaligus membantu menekan angka pengangguran di wilayah tersebut.

Sementara itu, sebagaimana diberitakan TangerangNews.com (7/7/2026), perhatian publik justru tertuju pada kisah para orang tua yang rela mengantar anak-anak mereka sejak pagi untuk mengikuti bursa kerja.

Mulai dari lulusan SMK hingga perguruan tinggi ternama tampak berbaur dalam antrean panjang demi memperoleh kesempatan kerja pertama. Potret ini menjadi bukti bahwa sulitnya memperoleh pekerjaan kini dirasakan hampir seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang pendidikan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak lagi hanya dialami lulusan berpendidikan rendah. Persaingan kerja semakin ketat sehingga ijazah, bahkan dari perguruan tinggi sekalipun, tidak lagi menjadi jaminan seseorang segera memperoleh pekerjaan yang layak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi kelompok dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya. Fakta ini menjadi ironi karena SMK sejak awal dirancang untuk mencetak lulusan yang siap memasuki dunia kerja.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri, sekaligus menunjukkan belum optimalnya kemampuan sektor ekonomi dalam menyerap tenaga kerja baru.

Persoalan ini tentu tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan. Sekolah bertugas membekali peserta didik dengan ilmu dan keterampilan, namun keberhasilan lulusan juga sangat ditentukan oleh tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai.

Ketika pertumbuhan kesempatan kerja berjalan lebih lambat dibandingkan jumlah lulusan setiap tahun, maka kompetisi menjadi semakin berat. Akibatnya, job fair sering kali berubah menjadi arena persaingan ribuan pelamar yang memperebutkan jumlah posisi yang terbatas.

Program seperti ini memang patut diapresiasi karena membantu mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan, tetapi hakikatnya baru berfungsi sebagai jembatan, belum menyentuh akar persoalan pengangguran.

Pendidikan pun semestinya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pencari kerja. Pendidikan ideal harus mampu melahirkan manusia yang berkepribadian kuat, berintegritas, berpikir kritis, memiliki jiwa kepemimpinan, serta mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Bila orientasi pendidikan hanya sebatas mengejar ijazah dan pekerjaan formal, lulusan akan mudah mengalami tekanan ketika peluang kerja semakin sempit.

Sebaliknya, pendidikan yang membangun karakter, kreativitas, tanggung jawab, kemampuan memecahkan persoalan, dan semangat memberi manfaat bagi masyarakat akan melahirkan generasi yang lebih tangguh menghadapi dinamika ekonomi.

Karena itu, pembenahan sistem pendidikan harus berjalan seiring dengan pembangunan sektor ekonomi yang benar-benar mampu menciptakan lapangan kerja produktif.

Dalam perspektif Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari menjaga kehormatan dan kemuliaan manusia. Islam mendorong setiap individu untuk mencari rezeki yang halal sekaligus menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab mengurus urusan rakyat, termasuk menghadirkan kebijakan yang menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup masyarakat.

Prinsip syariat menuntut negara mengelola sumber daya secara adil, mengembangkan sektor-sektor produktif seperti pertanian, industri, perdagangan, dan pengelolaan sumber daya alam, serta memastikan terciptanya peluang usaha dan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

Dengan demikian, tanggung jawab negara tidak berhenti pada penyelenggaraan bursa kerja, tetapi juga menghadirkan sistem ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan.

Dalam kerangka yang sama, pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik. Pendidikan harus membentuk pribadi yang bertakwa, berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan, memiliki kepemimpinan, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.

Integrasi antara pembentukan karakter dan penguasaan kompetensi inilah yang menjadi fondasi lahirnya generasi berkualitas.

Fenomena orang tua yang masih harus mengantar anak mencari pekerjaan sejatinya bukan kisah yang layak dijadikan sensasi. Ia adalah potret harapan, kecemasan, sekaligus perjuangan banyak keluarga Indonesia dalam menghadapi realitas sulitnya memperoleh pekerjaan.

Job fair tetap merupakan ikhtiar yang patut diapresiasi karena membuka akses pertemuan antara pencari kerja dan perusahaan. Namun, keberhasilan mengatasi pengangguran tidak cukup mengandalkan penyelenggaraan bursa kerja semata.

Diperlukan kebijakan ekonomi yang mampu memperluas lapangan pekerjaan secara berkesinambungan, sistem pendidikan yang melahirkan lulusan berkarakter dan kompeten, serta tata kelola pembangunan yang berpihak pada produktivitas nasional.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari banyaknya lulusan yang diwisuda, tetapi juga dari seberapa besar peluang yang tersedia bagi mereka untuk berkarya, hidup bermartabat, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Selama orang tua masih harus mengantar anak-anaknya berburu pekerjaan dengan penuh kecemasan, selama itu pula persoalan pengangguran harus dipandang sebagai alarm bahwa pembenahan sistem belum benar-benar tuntas. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment