Kidulting: Cermin Kelelahan Hidup dalam Sistem Kapitalis-Sekuler

Opini314 Views

Penulis: Nita Ummu Rasha |Pegiat Komunitas Ibu Hebat

 

RADARINDONESIANEWS .COM, JAKARTA –  Fenomena kidulting semakin marak diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir. Gejala ini terasa kian menonjol di tengah meningkatnya tekanan hidup modern yang kerap menyesakkan. Kidulting muncul sebagai bentuk pelarian dari rutinitas dan tanggung jawab hidup orang dewasa.

Dalam kehidupan yang dipenuhi tuntutan pekerjaan, tagihan, serta kompleksitas sosial, banyak individu dewasa mencari kembali kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang mengingatkan mereka pada masa kecil—seperti membeli mainan, menonton kartun, atau mengoleksi figur karakter.

Bagi sebagian orang, kidulting dianggap sebagai sarana healing untuk menemukan kembali rasa aman dan bahagia yang dulu pernah mereka rasakan di masa kanak-kanak.

Tidak sedikit pula yang menilai bahwa aktivitas ini bersifat positif karena mampu menjaga kestabilan emosi dan kewarasan mental di tengah tekanan hidup yang semakin berat.

Secara terminologis, kidulting berasal dari gabungan dua kata bahasa Inggris, kid (anak-anak) dan adult (dewasa). Istilah ini menggambarkan perilaku orang dewasa yang menikmati aktivitas, hobi, atau produk yang lazimnya dikaitkan dengan anak-anak.

Fenomena ini wajar muncul dalam masyarakat yang hidup di bawah sistem kapitalis-sekuler. Dalam sistem kapitalis, nilai manusia sering kali diukur berdasarkan tingkat produktivitas dan kemampuan konsumtifnya. Individu didorong untuk terus bekerja, berkompetisi, dan memperbarui gaya hidup agar tidak dianggap tertinggal.

Akibatnya, kehidupan menjadi mekanistik dan terjebak dalam rutinitas tanpa makna, sementara dimensi spiritual perlahan terpinggirkan. Kondisi inilah yang melahirkan kelelahan psikis dan eksistensial.

Di titik inilah kidulting menjadi bentuk kompensasi psikologis. Dengan kembali pada aktivitas yang identik dengan masa kecil, individu berusaha menenangkan batin dan mengobati kejenuhan.

Aktivitas seperti bermain atau menonton animasi memberi sensasi aman, polos, dan sederhana—sesuatu yang sulit ditemukan dalam dunia kerja dan kehidupan sosial yang keras.

Namun, kapitalisme tidak tinggal diam. Fenomena ini segera dikomodifikasi menjadi peluang ekonomi baru. Industri hiburan dan produk konsumsi memanfaatkan nostalgia dengan memasarkan mainan, film, serta merchandise bertema masa kecil bagi orang dewasa modern.

Akibatnya, kidulting yang semula merupakan bentuk perlawanan terhadap tekanan hidup justru kembali terjebak dalam lingkar konsumsi kapitalistik yang sama.

Dalam perspektif sekuler, perilaku ini dianggap sah-sah saja selama mampu memberikan kebahagiaan pribadi. Akan tetapi, jika dicermati lebih dalam, kidulting sebenarnya mencerminkan kehampaan spiritual dan kerinduan manusia terhadap makna hidup yang sejati.

Di balik tawa dan kenangan masa kecil, tersembunyi rasa kosong dan kehilangan arah yang tidak mampu diisi oleh materi atau hiburan semata.

Pada akhirnya, kidulting bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan cerminan kelelahan eksistensial manusia modern yang hidup di bawah tekanan sistem kapitalis-sekuler. Ia menjadi pelarian yang manis, tetapi bersifat sementara.

Sebagai seorang Muslim, hendaknya kita menempatkan sumber kebahagiaan sejati hanya kepada Allah SWT, bukan pada materi ataupun kenikmatan duniawi. Hakikat kebahagiaan terletak pada keimanan, ketakwaan, dan keikhlasan dalam beramal sesuai tuntunan-Nya. Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 29:

“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.”

Dalam Surat Al-Fath ayat 4 juga ditegaskan: “Dialah Allah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman agar keimanan mereka bertambah.”

Keimanan dan ketakwaan akan tumbuh kuat apabila manusia hidup dalam tatanan kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai Islam—kehidupan yang menenteramkan tanpa tekanan hidup yang menyesakkan.

Dalam sistem Islam, aturan Allah menjadi pedoman utama bagi individu maupun pemimpin. Ketika seluruh elemen masyarakat tunduk kepada hukum-Nya, maka terwujudlah kesejahteraan dan ketenangan jiwa.

Sebab, kebahagiaan hakiki bukan diukur dari sejauh mana seseorang mampu membeli atau memiliki, tetapi sejauh mana setiap amalnya diridhai oleh Allah SWT.[]

Comment