Kita Tidak Lembek, Hanya Lelah oleh Sistem

Opini53 Views

Penulis: Eka Hartati, S.Pd. | Praktisi Pendidikan

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Data GoodStats yang menyebutkan sekitar 60 persen Generasi Z di Indonesia merasa cemas terhadap masa depan bukan sekadar angka statistik. Temuan itu merupakan alarm yang menunjukkan bahwa generasi muda sedang menghadapi tekanan hidup yang semakin berat.

Sayangnya, alih-alih dipahami, kecemasan tersebut justru kerap dianggap sebagai sikap “lembek” atau “kurang bersyukur” oleh sebagian generasi sebelumnya.

Padahal, kecemasan yang dialami banyak anak muda merupakan respons yang wajar terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi. Tekanan ekonomi, persaingan kerja yang semakin ketat, perubahan teknologi yang cepat, hingga ketidakpastian masa depan menjadi realitas yang tidak bisa diabaikan.

Dalam pandangan penulis, kondisi ini lahir dari sistem sekuler-kapitalistik yang menempatkan ukuran keberhasilan semata-mata pada aspek materi.

Sistem tersebut secara perlahan membentuk standar kesuksesan yang identik dengan kekayaan, jabatan, dan pencapaian materi. Di saat yang sama, media sosial terus menghadirkan perbandingan kehidupan yang memicu tekanan psikologis.

Generasi muda dipaksa bersaing di pasar kerja yang semakin sempit, sementara perkembangan teknologi justru mengancam banyak jenis pekerjaan.

Dalam situasi seperti ini, negara dinilai belum mampu menghadirkan jaminan kesejahteraan dan kepastian masa depan bagi generasinya, sehingga banyak anak muda merasa harus berjuang sendirian.

Meski demikian, kecemasan tidak seharusnya berujung pada keputusasaan. Justru dari keresahan itulah dapat lahir kesadaran untuk melakukan perubahan. Sikap kritis generasi muda perlu diarahkan menjadi energi kolektif guna mencari solusi yang lebih mendasar terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurut penulis, solusi tersebut tidak dapat ditemukan dalam sistem kapitalisme yang dianggap menjadi penyebab lahirnya berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Jalan keluar yang hakiki adalah kembali menjadikan Islam sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh.

Secara historis, peradaban Islam dinilai mampu menghadirkan rahmatan lil ‘alamin, yaitu sistem yang tidak hanya menyelesaikan persoalan ekonomi dan sosial, tetapi juga memberikan ketenangan jiwa bagi manusia.

Dalam peradaban Islam, generasi muda tumbuh dengan karakter yang kuat karena dibentuk melalui kepribadian Islam sekaligus didorong menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari sains, teknologi, hingga tata negara. Pendidikan tidak hanya melahirkan individu yang cerdas, tetapi juga memiliki arah hidup dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Di sisi lain, negara hadir sebagai pelindung sekaligus pelayan rakyat. Negara menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan berkualitas secara gratis, serta menciptakan lapangan kerja yang adil.

Dengan demikian, berbagai faktor yang menjadi penyebab kecemasan, terutama persoalan ekonomi dan ketidakpastian masa depan, dapat diminimalkan sejak awal.

Karena itu, sudah saatnya generasi muda tidak hanya terjebak dalam lingkaran self-diagnosis atau melampiaskan keresahan melalui media sosial. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran, memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam, serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Energi kecemasan perlu diubah menjadi semangat untuk berkontribusi menghadirkan perubahan yang lebih baik.

Pada akhirnya, maraknya kecemasan yang dialami Generasi Z menjadi bukti bahwa sistem global saat ini belum mampu memberikan rasa aman dan kepastian hidup. Di hadapan kondisi tersebut, generasi muda memiliki dua pilihan: tetap menjadi korban keadaan atau menjadikan keresahan itu sebagai titik balik untuk memperjuangkan perubahan.

Dalam pandangan penulis, mengubah kecemasan menjadi kesadaran untuk kembali kepada aturan Islam merupakan langkah yang diyakini mampu menghadirkan kehidupan yang lebih tenang, adil, dan sejahtera.

Ketika generasi muda bangkit serta mendorong hadirnya negara yang benar-benar melayani rakyat, harapan akan masa depan yang lebih baik tidak lagi menjadi angan-angan, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan bersama.[]

Comment