Kita Tidak Lembek, Hanya Lelah oleh Sistem

Opini37 Views

Penulis: Eka Hartati, S.Pd | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM — Sebagaimana dipublikasikan GoodStats, sekitar 60 persen Generasi Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan sinyal bahwa generasi muda sedang menghadapi tekanan yang semakin kompleks.

Ironisnya, kecemasan itu justru kerap dipandang sebagai tanda kelemahan. Tidak sedikit yang melabeli Gen Z sebagai generasi “lembek”, “mudah menyerah”, atau “kurang bersyukur”.

Padahal, kecemasan yang dialami generasi muda merupakan respons yang wajar terhadap realitas kehidupan yang semakin berat. Di bawah sistem sekuler-kapitalistik, ukuran keberhasilan direduksi menjadi pencapaian materi, status sosial, dan kemampuan bersaing.

Akibatnya, anak muda hidup dalam tekanan yang terus-menerus untuk memenuhi standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis.

Media sosial memperparah situasi. Setiap hari generasi muda dibanjiri pencitraan kehidupan yang tampak sempurna, sementara lapangan kerja semakin sempit, biaya hidup terus meningkat, dan perkembangan teknologi menghadirkan ancaman baru terhadap dunia kerja.

Dalam kondisi seperti ini, negara belum mampu memberikan jaminan kesejahteraan maupun kepastian masa depan yang memadai. Akibatnya, banyak anak muda merasa harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.

Namun demikian, kecemasan tidak boleh berubah menjadi keputusasaan. Justru kegelisahan tersebut harus menjadi titik awal lahirnya kesadaran kritis bahwa persoalan ini bukan semata-mata kesalahan individu, melainkan buah dari sistem yang gagal memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Jika akar persoalannya berada pada sistem, maka penyelesaiannya pun tidak cukup dilakukan secara personal. Selama kapitalisme tetap menjadi fondasi kehidupan, persoalan mental, sosial, dan ekonomi akan terus berulang. Karena itu, solusi mendasar hanya dapat diwujudkan dengan kembali kepada Islam sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh.

Sejarah mencatat, peradaban Islam pernah menghadirkan kehidupan yang membawa rahmatan lil ‘alamin. Islam tidak hanya mengatur hubungan spiritual manusia dengan Allah SWT, tetapi juga mengatur sistem pendidikan, ekonomi, pemerintahan, hingga jaminan kesejahteraan masyarakat.

Dalam naungan pemerintahan Islam, generasi muda dibina menjadi pribadi yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh sekaligus menguasai berbagai disiplin ilmu.

Pendidikan diselenggarakan secara berkualitas, kebutuhan pokok rakyat dijamin, kesempatan bekerja dibuka secara adil, dan negara benar-benar hadir sebagai pelindung sekaligus pengurus urusan umat.

Dengan demikian, berbagai faktor yang memicu kecemasan finansial maupun ketidakpastian masa depan dapat diminimalkan sejak awal.

Oleh sebab itu, sudah saatnya generasi muda berhenti terjebak dalam lingkaran self-diagnosis maupun sekadar meluapkan keresahan di media sosial. Energi yang selama ini habis untuk mengkhawatirkan masa depan perlu diarahkan menjadi kesadaran untuk mempelajari Islam secara menyeluruh, mengemban nilai-nilainya, serta turut berkontribusi memperbaiki kondisi masyarakat.

Kecemasan yang meluas di kalangan Generasi Z sesungguhnya merupakan bukti bahwa sistem yang berlaku hari ini gagal menghadirkan ketenangan hidup. Pilihannya kini ada di tangan kita: terus menjadi korban keadaan atau menjadikan keresahan itu sebagai titik balik menuju perubahan.

Ketika generasi muda mempraktikkan aturan Islam secara kaffah dan menghadirkan kembali peran negara sebagai pengurus rakyat, maka harapan akan kesehatan mental yang terjaga, masa depan yang pasti, dan lahirnya kembali peradaban yang mulia bukan lagi sekadar impian, melainkan cita-cita yang layak diperjuangkan bersama.[]

Comment