Korupsi Menggila, Kapitalisme Sekuler Gagal Total

Opini1094 Views

 

Penulis: Dr. Suhaeni, M.S.i | Dosen Universitas Singaperbangsa Karawang

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Lagi-lagi, kasus korupsi besar kembali mencoreng wajah bangsa. Kali ini, proyek pengadaan alat EDC di bank milik negara menelan kerugian Rp2,1 triliun. Sebelumnya, proyek jalan di Sumatera Utara juga menyita perhatian publik karena permainan busuk dalam sistem e-katalog. Satu per satu kasus terbongkar, tapi nyatanya, korupsi tak kunjung reda.

Ironis. Di tengah pemangkasan tunjangan guru, penghapusan bantuan iuran, dan penyunatan anggaran riset, para elit justru sibuk menjarah anggaran. Rakyat dipaksa bersabar, sementara pejabat bersenang-senang di atas penderitaan.

Apa yang salah? Sudah jelas, sistem yang kita jalani hari ini. Sistem sekuler-kapitalis yang menyingkirkan nilai agama dari kehidupan publik telah gagal total. Demokrasi yang katanya dari rakyat dan untuk rakyat justru menjelma jadi ajang lelang kekuasaan. Politik jadi ladang bisnis. Jabatan diperebutkan lewat mahar politik.

Maka jangan heran jika setelah duduk di kursi kekuasaan, mereka berlomba “balik modal” lewat korupsi.

Inilah penyakit kronis dari sistem yang sakit. Kita bisa bentuk KPK sekuat apapun, tambah aturan setebal apapun, perkuat pengawasan semasif apapun — semuanya akan sia-sia jika akar penyakitnya tidak dicabut.

Solusinya bukan tambal sulam. Solusinya adalah sistem alternatif: Islam. Islam bukan sekadar ajaran ibadah, tapi sistem kehidupan. Islam menjadikan kekuasaan sebagai amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Pemimpin bukan pelayan oligarki, tapi pelayan umat.

Islam memiliki mekanisme pencegahan korupsi yang efektif: pembentukan pribadi takwa, kontrol sosial melalui amar makruf nahi munkar, dan sanksi tegas bagi pelanggar.

Sistem ekonomi Islam pun adil dan menyejahterakan. Tidak ada ruang untuk segelintir elite menguasai kekayaan, sementara rakyat dibiarkan miskin dan rentan. Dalam sejarah, sistem Islam telah membuktikan diri sebagai peradaban bersih, adil, dan bermartabat.

Kini, pertanyaannya, sampai kapan kita bersikukuh mempertahankan sistem bobrok yang sudah gagal? Korupsi tak akan berhenti jika kita terus memakai sistem yang justru melanggengkan praktik busuk itu.

Sudah saatnya kita berpaling pada sistem yang terbukti bersih dan solutif — sistem Islam. Bukan mimpi, tapi keniscayaan yang bisa dimulai dari kesadaran kolektif hari ini.[]

Comment