Krisis Iman dan Hilangnya Harga Nyawa Kaum Muslim

Opini359 Views

Penulis: Ade Gita Az-Zahra  | Mahasantriwati Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kasus pembunuhan di Indonesia tampaknya bukan lagi hal yang asing di telinga kita. Hampir setiap hari, media massa maupun media sosial menyiarkan berita tentang manusia yang tega menghabisi nyawa sesamanya—entah karena dendam, cemburu, atau emosi sesaat. Yang lebih memilukan, pelakunya kini bisa berasal dari kalangan terdekat: kakak kepada adik, suami kepada istri, bahkan anak kepada orang tuanya.

Seperti diberitakan pada 25 Oktober 2025, seorang pria berinisial ARH ditangkap polisi setelah menganiaya kakak iparnya, BSP, hingga tewas di kawasan Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Dendam lama menjadi motif utamanya. Pelaku marah karena sering ditegur oleh korban yang menasihatinya agar tidak merokok di dalam rumah. Amarah yang dibiarkan meledak akhirnya berujung tragis: korban meninggal dengan luka parah di kepala akibat hantaman palu gada.

Kasus lain terjadi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Seorang istri berinisial HZ (33) memotong alat vital suaminya, NI (35), karena terbakar cemburu setelah membaca isi pesan di ponsel sang suami dengan wanita lain. Meski sempat dirawat di RSCM selama 23 hari, korban akhirnya meninggal dunia.

Dua kasus ini hanyalah potongan kecil dari potret kelam yang lebih besar. Berdasarkan data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri, terdapat peningkatan 1.074 orang terlapor dalam kasus pembunuhan pada akhir 2024.

Hingga September 2025, jumlah tindak kejahatan di Indonesia mencapai 306.641 kasus. Angka-angka ini menunjukkan satu hal: nyawa manusia kian kehilangan nilainya.

Membunuh seolah bukan lagi perbuatan besar yang menimbulkan gentar, melainkan tindakan sepele—layaknya menepuk nyamuk yang mengganggu.

Pertanyaannya, apa yang membuat manusia begitu mudah menghabisi nyawa orang lain?

Fenomena ini tidak semata-mata lahir dari faktor emosi, tetapi merupakan akibat dari rusaknya tatanan sosial yang diatur oleh sistem kapitalis-liberal yang bersumber dari sekularisme—sebuah ide yang memisahkan agama dari kehidupan.

Dalam sistem ini, ukuran benar dan salah tidak lagi ditentukan oleh halal dan haram, melainkan oleh selera dan kepentingan individu. Manusia diberi kebebasan tanpa batas untuk melakukan apa saja, hingga kehilangan kendali moral.

Padahal, Islam menegaskan bahwa setiap Muslim wajib menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Ali Imran ayat 32:

قُلْ أَطِيعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ

“Taatilah Allah dan Rasul(-Nya).”

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan, barang siapa mengaku mencintai Allah, namun tindakannya tidak sesuai dengan teladan Rasulullah, maka ia telah berdusta dalam pengakuannya.

Ketaatan inilah yang menjadi benteng moral manusia. Seorang mukmin sejati akan selalu sadar bahwa setiap perbuatannya kelak dimintai pertanggungjawaban.

Ia paham, menjaga nyawa sesama manusia adalah bagian dari keimanan. Maka, ketika iman benar-benar melekat dalam hati, hampir mustahil seseorang berani menumpahkan darah tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Untuk menuntaskan persoalan ini, kita perlu kembali menanamkan akidah Islam secara mendalam dan menerapkan syariat secara menyeluruh dalam kehidupan.

Sebab, Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi sistem hidup yang dirancang oleh Sang Pencipta manusia untuk mengatur kehidupan manusia itu sendiri.

Sebagaimana ditegaskan dalam Fikrul Islam karya Syaikh Muhammad Muhammad Ismail, hanya Allah yang paling mengetahui hakikat kebutuhan manusia.

Maka solusi sejati atas krisis moral dan hilangnya nilai nyawa ini bukanlah sekadar penegakan hukum duniawi, melainkan penerapan hukum Ilahi yang memuliakan kehidupan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment