Kurikulum Formal Merespons Risiko Dunia Digital

Pendidikan24 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Literasi digital perlu berjalan beriringan dengan penguatan moral agar peserta didik mampu menggunakan teknologi secara kritis, cakap, dan bertanggung jawab. Hal itu disampaikan Ratu Mulyanengsih, M.Pd., dalam Forum Diskusi Pedagogik (FDP) yang digelar Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) di Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Dalam materi bertajuk “Dari Literasi Digital Menuju Ketangguhan Moral: Kurikulum Preventif dan Pendidik sebagai Kompas Etis di Era Digital”, Ratu mengatakan sekolah perlu mempersiapkan peserta didik menghadapi kehidupan dan perubahan teknologi. Menurut dia, pendidikan tidak semestinya hanya diarahkan untuk menjauhkan siswa dari teknologi atau mengejar hasil ujian.

Pendidikan Preventif dan Ketangguhan Moral

Ratu menjelaskan dunia digital menghadirkan peluang sekaligus risiko bagi peserta didik. Karena itu, pendidikan preventif tidak cukup ditempuh dengan membuat larangan penggunaan teknologi.

Peserta didik, kata dia, perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kecakapan sosial, serta keterampilan mengambil keputusan. Bekal tersebut diperlukan agar mereka mampu menghadapi tekanan dan berbagai risiko di ruang digital.

Ketangguhan moral juga perlu dibangun bersamaan dengan literasi digital. Kurikulum, menurut Ratu, harus tetap berlandaskan kejujuran, tanggung jawab, toleransi, kepedulian, dan rasa hormat.

Pada saat yang sama, pendidikan perlu mengembangkan pengetahuan, keterampilan, nilai, kebiasaan positif, serta kemampuan peserta didik dalam mengambil keputusan.

Kurikulum dan Peran Pendidik

Ratu mengatakan teknologi perlu dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran yang terarah dan memiliki tujuan pendidikan yang jelas. Kurikulum pun perlu merespons perubahan zaman tanpa mengabaikan pembentukan karakter.

Dalam proses itu, pendidik berperan sebagai kompas etis bagi peserta didik. Pendidik membantu siswa memahami batas antara pemanfaatan teknologi dan penyalahgunaannya.

Karakter, kata Ratu, dibentuk melalui pembiasaan, keteladanan, pendampingan, dan pengalaman nyata. Karena itu, pendidikan karakter perlu diterapkan secara menyeluruh melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta kehidupan sehari-hari.

Pendidikan keterampilan juga diperlukan untuk membekali peserta didik dengan kemampuan praktis, kreativitas, dan keberanian dalam membangun masa depan.

Kolaborasi Menciptakan Lingkungan Pendidikan yang Aman

Penguatan pendidikan digital dan karakter membutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Kerja sama tersebut diperlukan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung perkembangan peserta didik.

Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemandirian, kepedulian, dan tanggung jawab serta siap menghadapi perubahan teknologi.[]

Comment