Penulis: Diana Nofalia, S.P. |Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Media sosial bukan lagi hal baru di era digital. Laporan Global Digital Reports dari Data Reportal mencatat, ada 5,25 miliar pengguna aktif media sosial di dunia. Ironisnya, di tengah keterhubungan digital yang begitu masif, rasa sepi justru kian terasa. Linimasa yang penuh hiburan, cerita personal, dan narasi estetik ternyata belum cukup mengusir rasa keterasingan dari kehidupan nyata.
Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang melakukan riset berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”.
Menurut hasil pengamatan awal, banyak akun TikTok mereproduksi narasi kesepian dengan balutan emosional—mulai dari kutipan patah hati, kehilangan, hingga rasa terasing.
Tim peneliti bahkan berencana menggandeng Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk merumuskan strategi literasi digital serta manajemen penggunaan gawai, sebagaimana ditulis Detik dalam laporannya.
Fenomena “loneliness in the crowd” menunjukkan kenyataan pahit: aktif di dunia maya tak serta merta menghapus kesepian di dunia nyata. Dalam kerangka teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih nyata dibanding realitas itu sendiri. Akibatnya, emosi yang dibentuk media dapat memengaruhi kesehatan mental, pola interaksi, bahkan kualitas hubungan sosial seseorang.
Banyak studi menyebut Gen Z sebagai generasi yang paling rentan dilanda kesepian, insecure, hingga gangguan mental. Masalah ini bukan sekadar soal minimnya literasi digital, melainkan juga buah dari sistem kapitalistik yang menjerat industri media sosial. Arus konten yang masif justru melahirkan sikap asosial—generasi yang luwes di dunia maya, tetapi kaku dan terasing di dunia nyata. Hubungan keluarga pun kian renggang; hangatnya interaksi bergeser menjadi pola hidup individualistik.
Jika dibiarkan, kondisi ini hanya akan melahirkan generasi rapuh, sibuk dengan luka batinnya, dan jauh dari kepedulian terhadap umat. Padahal, generasi muda seharusnya menjadi motor peradaban, bukan korban dari arus digital yang menenggelamkan.
Maka, kesadaran kolektif menjadi kunci. Media sosial yang tak dikelola dengan bijak hanya akan melahirkan keramaian yang hampa. Generasi yang lemah tidak akan membawa kemajuan bangsa, melainkan kemunduran.
Di sinilah Islam hadir sebagai solusi. Generasi harus dibekali pendidikan berbasis aqidah Islam yang kokoh, agar tumbuh pribadi yang tangguh, berorientasi karya, serta peduli pada problematika umat.
Generasi yang beridentitas Islam tidak akan mudah terjerat gaya hidup sekuler yang menjadikan hidup sekadar ajang pengakuan. Mereka justru akan menjadikan masa depan sebagai ladang kontribusi.
Namun, membentuk generasi berkualitas tak cukup hanya dengan kesadaran individu. Dibutuhkan dukungan sistem sosial yang peduli serta peran negara yang tegas dalam mengendalikan pemanfaatan ruang digital.
Negara wajib menghadirkan edukasi, kontrol, dan motivasi agar generasi muda tetap produktif serta berkontribusi nyata bagi umat dan bangsa. Wallahu a’lam.[]














Comment