Lonely in The Crowd: Keniscayaan Era Digital dalam Cengkeraman Kapitalisme

Opini438 Views

 

Penulis: Rinrin Rindiani, S.P | Mompreneur

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Berawal dari pengamatan sederhana mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terhadap keseharian Gen Z yang nyaris tak lepas dari layar gawai, muncul fenomena menarik – aktif bersosialisasi di dunia maya, namun kering interaksi di dunia nyata. Riset bertajuk “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual” kemudian dilakukan untuk menelisik fenomena itu lebih dalam.

Menurut ketua tim riset, Fifin (DetikEdu, 18 September 2025), teori hiperrealitas menunjukkan bahwa representasi digital kerap dianggap lebih “nyata” daripada realitas itu sendiri. Emosi yang dibentuk media pun berpengaruh pada kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.

Fenomena lonely in the crowd menggambarkan ironi manusia modern—merasa sepi di tengah keramaian. Kesepian menjadi penyakit emosional yang menggerogoti generasi digital. Iklil Nafisah (13 Mei 2023) menyebut kondisi ini sebagai kegelisahan yang tumbuh di tengah hiruk-pikuk dunia maya. Generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalaminya.

Sebuah laporan Kompas.id (1 September 2025) mencatat, 81 persen masyarakat Indonesia aktif di media sosial, dan mayoritas penggunanya adalah Gen Z—kelahiran antara tahun 1997 hingga 2012.

Data ini menegaskan bahwa generasi tersebut tumbuh dalam lingkungan digital yang kompleks. Internet, media sosial, dan teknologi komunikasi bukan hanya sarana, melainkan ruang hidup yang membentuk cara berpikir, merasa, dan bersikap mereka.

Namun, proses pencarian jati diri mereka kini dibentuk oleh algoritma, tren global, dan validasi digital. Banyak dari mereka merasa harus tampil “sempurna” di dunia maya agar diterima, meski bertolak belakang dengan realitas pribadi. Di sinilah hiperrealitas bekerja—mengaburkan batas antara kenyataan dan ilusi.

Fenomena ini tidak semata persoalan kemajuan teknologi. Ada akar yang lebih dalam: sistem kapitalisme yang menjadi landasan perkembangan teknologi saat ini. Dalam sistem ini, inovasi digital tidak diarahkan untuk memperkuat nilai-nilai sosial, melainkan untuk memupuk keuntungan.

Media sosial akhirnya berubah menjadi arena komersialisasi. Konten viral dijadikan komoditas, gaya hidup hedonis dikampanyekan secara masif, dan pola pikir liberal serta sekuler disebarluaskan. Akibatnya, banyak generasi muda terjebak dalam sindrom FOMO (Fear of Missing Out)—selalu takut tertinggal tren, haus validasi, namun kehilangan makna kebersamaan.

Absennya peran negara dalam memfilter arus informasi membuat masyarakat harus berjuang memilah sendiri di tengah derasnya banjir konten. Akibatnya, efek sosialnya terasa nyata. Hubungan antarindividu kian renggang, bahkan dalam lingkup keluarga.

Dulu, makan bersama keluarga disertai obrolan hangat dan tawa ringan. Kini, pemandangan itu berganti dengan keheningan yang hanya diisi cahaya layar ponsel. Duduk satu meja, tetapi masing-masing tenggelam dalam dunia digitalnya sendiri.

Jika kondisi ini dibiarkan, sikap asosial dan rasa kesepian yang melanda Gen Z akan menumbuhkan generasi yang kehilangan arah, lemah secara spiritual dan sosial, serta kehilangan potensi besar untuk berkontribusi pada peradaban.

Krisis identitas mereka bukan sekadar masalah individu, tetapi masalah umat. Generasi yang terjebak dalam kesepian digital sulit memiliki empati dan kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

Karena itu, sudah saatnya kita meninjau ulang paradigma yang menempatkan teknologi sebagai tujuan, bukan alat. Media sosial seharusnya menjadi sarana memperkuat koneksi antarmanusia, bukan mengasingkannya.

Dibutuhkan sistem yang mampu menuntun kemajuan teknologi agar berpihak pada kemaslahatan, bukan keuntungan semata. Sistem itu bukanlah kapitalisme yang menjadikan manusia sekadar pasar, melainkan sistem Islam yang bersumber dari Zat Maha Sempurna, Allah SWT.

Dalam sistem Islam, kemajuan teknologi berada dalam bingkai nilai moral dan tanggung jawab sosial. Negara memiliki peran sentral memastikan setiap konten dan inovasi digital berorientasi pada kebaikan. Tayangan yang mendorong perilaku asosial akan dilarang, sementara pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi bertakwa, kritis, dan produktif.

Dengan demikian, teknologi dan media sosial akan menjadi sarana kemajuan, bukan sumber kesepian. Generasi muda tumbuh dengan jati diri yang kuat, berdaya cipta, dan berkontribusi bagi umat. Inilah wajah peradaban digital yang manusiawi—bukan yang dikendalikan algoritma kapitalisme, melainkan yang digerakkan oleh nilai-nilai Islam.[]

Comment