Lonely in The Crowd, Sepi di Tengah Keramaian

Opini425 Views

 

Penulis: Irohima | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Era digital menghadirkan kemudahan luar biasa dalam berinteraksi. Beragam platform media sosial memanjakan penggunanya dengan fitur-fitur menarik untuk berbagi, mencari informasi, dan bersosialisasi tanpa batas ruang dan waktu.

Namun, di balik keriuhan dunia maya, banyak yang justru tenggelam dalam kesepian. Fenomena ini dikenal dengan istilah Lonely in the Crowd—aktif di media sosial, tetapi miskin interaksi sosial di dunia nyata.

Fenomena ini diangkat dalam sebuah riset mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berjudul Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual.

Penelitian yang menggunakan metode kualitatif ini menggali pengalaman pengguna TikTok dan menemukan adanya keterkaitan antara penggunaan media sosial yang berlebihan dengan rasa kesepian, kecemasan, hingga gangguan kesehatan mental.

Dalam teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih “nyata” daripada realitas itu sendiri. Emosi yang dibentuk melalui layar mampu memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.

Riset tersebut berhasil lolos seleksi Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) 2025 dan mendapat pendanaan dari Kemendikbudristek, sebagaimana dilaporkan DetikEdu (18 September 2025).

Media sosial sejatinya adalah ruang digital untuk berbagi dan berinteraksi. Dari era Bulletin Board System pada 1970–1980-an, kemudian muncul Usenet, Prodigy, dan Compuserve, hingga kehadiran Friendster pada awal 2000-an—semuanya menjadi fondasi bagi raksasa masa kini seperti Facebook, Instagram, X (Twitter), dan TikTok. Evolusi ini menunjukkan betapa cepatnya teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi.

Namun, di balik keseruan itu, tersimpan sisi gelap yang tak bisa diabaikan. Kecanduan media sosial dapat menimbulkan stres, depresi, gangguan kecemasan, hingga menurunnya kualitas interaksi tatap muka.

Fenomena social comparison—membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di dunia maya—juga melahirkan rasa rendah diri (insecure). Akibatnya, meski secara daring tampak terhubung, banyak orang justru kehilangan kedekatan emosional yang sejati.

Fenomena Lonely in the Crowd paling banyak menimpa generasi muda, terutama Gen Z. Dalam pusaran arus kapitalisme digital, media sosial menjadi alat yang tak hanya menyalurkan hiburan, tetapi juga menanamkan gaya hidup konsumtif dan individualistik.

Aktivitas menggulir layar ponsel tanpa henti membuat seseorang makin terasing dari lingkungan sekitar, bahkan dari keluarganya sendiri.

Interaksi di media sosial yang terbatas pada “like” dan komentar singkat tak pernah bisa menggantikan percakapan hangat di dunia nyata.

Kemajuan teknologi sejatinya bukan musuh. Ia ibarat pisau bermata dua—dapat memberi manfaat, sekaligus membawa mudarat. Di bawah dominasi kapitalisme, media sosial sering kali disalahgunakan untuk hal-hal nirfaedah: konten hedonistik, penipuan digital, pinjaman daring ilegal, hingga penyebaran paham sekuler-liberal. Semua itu merupakan refleksi dari sistem yang menempatkan keuntungan di atas nilai moral.

Dalam pandangan Islam, teknologi bukan untuk ditolak, melainkan dimanfaatkan demi kemaslahatan umat. Media sosial dapat menjadi sarana dakwah, pendidikan, dan penyebaran kebaikan, selama digunakan dalam koridor syariat. Jika Islam dijadikan paradigma, maka setiap inovasi teknologi akan membawa manfaat, bukan kerusakan.

Negara yang berlandaskan nilai Islam akan berperan aktif dalam mengarahkan pemanfaatan teknologi. Ia akan mendukung pendidikan digital, memberi insentif bagi riset yang menumbuhkan kecerdasan umat, sekaligus menindak tegas penyebaran konten yang merusak moral.

Platform media sosial idealnya menjadi ruang dakwah, amar makruf nahi mungkar, serta sarana memperkuat ukhuwah, bukan menciptakan keterasingan baru di dunia maya.

Islam menawarkan solusi hakiki bagi fenomena Lonely in the Crowd. Dengan menjadikan iman dan dakwah sebagai poros aktivitas digital, kesepian dapat berubah menjadi keberkahan, dan interaksi di dunia maya menjadi ladang pahala.

Dalam Islam, tak ada ruang bagi kehampaan—karena setiap aktivitas bernilai ibadah jika diniatkan untuk kebaikan. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]

Comment