Lulu Nugroho*: Negara Paling Santai

Berita1046 Views
Lulu Nugroho
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Melalui studi terbaru Lastminute penyedia jasa perjalanan Eropa, Indonesia mendapat gelar negara paling santai di dunia.Peringkat kedua diduduki Australia, diikuti Islandia di peringkat ketiga. Sementara Selandia Baru dan Sri Lanka yang terpilih sebagai destinasi terbaik 2019, berturut-turut menempati peringkat keempat dan kelima. Termasuk di dalamnya hak-hak pribadi warga negara, polusi suara dan cahaya, suhu, jumlah hari libur, serta jumlah spa di negara tersebut. 
Penelitian ini menemukan, Indonesia memiliki garis pantai yang panjangnya lebih dari 88 ribu kilometer. Maka Indonesia terpilih sebagai negara yang memiliki pantai-pantai terbaik untuk bersantai. Negeri ini juga tergolong hijau karena punya lebih dari 186 ruang hijau. Suhu rata-rata 25 derajat Celsius membuat Indonesia menjadi tempat tinggal yang nyaman. Tidak kelewat dingin, juga tak terlalu panas.
Indonesia yang diberi julukan surga tropis juga punya 66 spa dan retret kesehatan. Semuanya menawarkan pengalaman bersantai terbaik. Untuk menikmati itu semua, para pekerja di Indonesia punya keleluasaan menikmati rata-rata 30 hari libur per tahun.
“Analisis kami terhadap negara-negara yang paling santai di dunia mengungkapkan bahwa Indonesia menempati peringkat sebagai negara yang paling santai dibandingkan semua negara lain dalam penelitian kami,” ujar Reigo Eljas, Country Director Lastminute.com untuk Inggris dan Irlandia, beritagar.id (23/1/2019).
Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) san·tai a bebas dari rasa ketegangan; dalam keadaan bebas dan senggang. Maka dari sini bisa diasumsikan bahwa Indonesia dianggap sebagai negara yang memberikan kenyamanan melalui destinasi wisata. Yang hal ini memang sejalan dengan upaya penguasa belakangan ini. 
Sebagaimana paparan Menteri Pariwisata Arief Yahya, “Pariwisata Indonesia secara konsisten terus meraih penghargaan di level internasional, di antaranya adalah 46 penghargaan di 22 negara di tahun 2016, 27 penghargaan di 13 negara di tahun 2017, dan 31 penghargaan di 9 negara sampai kwartal 3 di tahun 2018,” liputan6.com (24/10/2018).
/Sektor Wisata Dalam Sekularisme/
Kekayaan alam yang melimpah, keindahan alam yang tiada taranya, dijadikan komoditas. Sektor wisata menjadi sumber pemasukan negara. Akan tetapi tidak cukup hanya itu, diperlukan penyediaan sarana dan prasarana pendukung bagi pariwisata seperti hotel, cafe, spa, restoran, tempat-tempat hiburan, dan lainnya agar para wisatawan betah berlama-lama di sana.
Oleh sebab itu negara lalu membuka seluas-luasnya kerja sama dengan pemilik modal untuk merealisasikan hal tersebut. Dalam hal ini, negara asinglah yang memiliki modal kuat. Hingga alhasil pengembangan sektor wisata menjadi jalan masuknya asing beserta akidah kufurnya, yang berpotensi besar merusak umat.
Inilah yang terjadi pada sekularisme. Keuntungan materi menjadi tujuan hidup. Indonesia dengan jumlah muslim terbesar, akan oleng dengan masuknya akidah kufur yang masif melalui sektor wisata. Campur tangan asing dalam industri wisata menjadi penjajahan halus yang tak terlihat kecuali hanya bagi orang-orang dengan pemikiran cemerlang.
Wisata menjadi gaya hidup pada masyarakat sekuler. Mereka rela menghabiskan waktu, dan menyisihkan uang untuk wisata. Kehidupan sekuler hanya berputar pada poros materi. Akibatnya, melepas lelah dan penat setelah kesibukan yang menggilas kehidupan sehari-hari, membuat mereka memerlukan kondisi khusus untuk santai. Sehingga tak ayal fenomena ini ditangkap oleh penguasa dengan kapitalismenya, yang akan mengeruk keuntungan melalui industri wisata.
/Wisata Dalam Pandangan Islam/
Dalam sekularisme, fungsi penguasa sebagai raa’in dan junnah (penjaga dan perisai), tidak akan kita temui. Penguasa tidak menjaga akidah umat. Padahal seharusnya tugas penguasa adalah menggiring umat agar terus berada pada ketinggian berpikir. Menghalangi kerusakan yang masuk dibawa ideologi kufur, dalam seluruh lini kehidupan umat. 
Berbeda halnya dalam Islam, dengan ketakwaannya, penguasa benar-benar mengurusi umat. Hingga sejak masa Rasulullah, umat Islam senantiasa berada dalam kesibukan. Tidak ada satu haripun yang luput bagi umat kecuali untuk mendakwahkan dan menyebarkan Islam. Wisata bukanlah bi’ah umat. Jika pun mereka memandang atau menikmati alam, semata-mata untuk menambah keimanan akan kebesaran Allah melalui ciptaan-Nya.
Begitu pun halnya pada pemasukan negara. Dalam dunia Islam, tidak akan mengambil sektor wisata sebagai sumber keuangan. Negara memiliki sumber-sumber pendapatan yang tidak dibebankan pada masyarakat sepenuhnya. Akan tetapi mengandalkan sumber daya alam dan potensi lainnya untuk mendapatkan pemasukan. Secara garis besar sumber-sumber pendapatan negara dalam  Islam ialah:
1.      Ghanimah, khums, kharaj, fai, jizyah, usyr dan tebusan tawanan perang
2.      Pendapatan dari zakat, infaq, wakaf, sedekah, dan sebagainya.
3.      Dari pengelolaan negara atas kepemilikan umum.
4.      Dari harta milik negara dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
5.      Dari pendapatan insidentil (Temporal).
Kesejahteraan umat menjadi tujuan sebuah negara Islam. Maka, hasil yang akan dicapai adalah sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebut Negeri Saba’ yang pada waktu itu indah dan subur alamnya, dengan penduduk yang selalu bersyukur atas nikmat yang mereka terima. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
Sungguh bagi Kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan:) “Makanlah dari rizki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepadaNya!’. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr”. [Saba’/34:15].
Inilah sebaik-baik predikat yang disematkan Allah pada sebuah negeri. Oleh sebab itu, tinggalkan seluruh pemikiran kufur. Agar umat tidak terjebak dengan predikat ‘remah-remah’ yang tidak memiliki arti apapun di hadapan Allah. Kemudian mengembalikan pengurusan umat dengan menggunakan akidah Islam, agar umat mampu berpikir dan beraktivitas mulia. Agar kembali izzul Islam wal muslim. Wallahu ‘alam.
*Muslimah Revowriter Cirebon

Comment

Rekomendasi Berita