Lumpur Bencana, Saatnya Taubat Bersama

Opini202 Views

Penulis: Puput Hariyani, S.Si | Business Woman

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Bencana Sumatera telah berlalu namun masih menyimpan duka mendalan bagi seluruh rakyat Indonesia. Ribuan korban meninggal, kehilangan tempat tinggal harta benda pun materi yang tak terhitung jumlahnya. Korban selamat pun tak lepas dari trauma akibat bencana.

Sudah semestinya bencana ini menjadi ajang untuk muhasabah bersama. Mentadaburi firman Allah dalam ar-rum 41, Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Apa gerangan yang sudah dilakukan oleh manusia sehingga alam begitu murkanya. Apakah bencana ini murni bencana alam biasa atau sebenarnya ada turut campur manusia.

Ketika banjir melanda kita saksikan betapa melimpahruahnya kayu gelondongan yang terseret arus hingga ke pemukiman warga. Siapa yang menebangnya, mengapa hutan digunduli, untuk apa? Semoga hal ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Di masa hidup Rasulullah ﷺ, bencana direspon beliau dengan bertanya pada rakyatnya, “Maksiat apa yang kalian lakukan, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berikan gempa bumi ini kepada kita”.

Khalifah Umar bin Khattab pun bersikap sama. Saat ada bencana beliau berkata, “Terlalu cepat kita bermaksiat, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala berikan gempa bumi ini kepada kita”.

Setelah bermuhasabah, penting untuk melakukan berbagai upaya pasca bencana karena korban juga masih mengalami berbagai kesulitan.

Dalam hal penanganan bencana, khalifah umar layak dijadikan sebagai teladan.

Beliau melakuakn manajemen terstruktur: secara empatik misalnya turun ke lapangan, membersamai korban, organisir dengan melakuakn sensus korban, pendistribusian logistik, juga proaktif yakni membangun infrastruktur jangka panjang, akuntabel bertanggung jawab penuh, dan strategis mencari hikmah serta menyiapkan rencana mitigasi bencana untuk masa depan.

Dalam penanganan bencana kekeringan, Khalifah Umar membentuk tim untuk menanggulanginya.

Setiap orang dari tim penanggulangan bencana ditempatkan pada pos-pos di perbatasan Kota Madinah untuk mencatat hilir mudik orang yang mencari bantuan makanan. Hingga tercatat sepuluh ribu orang yang masuk ke dalam Madinah dan lima puluh ribu orang yang masih berada di daerah asalnya. Khalifah Umar segera menyalurkan bantuan kepada orang yang berada di luar Madinah dan menampung orang yang mengungsi.

Khalifah Umar memberikan segalanya hingga tidak ada yang dapat diberikan. Kemudian Khalifah Umar mengirim surat kepada Abu Musa di Bashrah dan Amru bin Ash di Mesir yang berisi, “Bantulah umat Muhammad, mereka hampir binasa”.

Kemudian kedua gubernur mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar hingga mencukupi kebutuhan pangan rakyat yang mengalami musibah kekeringan. Selain itu, Khalifah Umar pun senantiasa bermunajat kepada Allah melalui doa meminta turun hujan bersama paman Nabi, Abbas.

Mashaa Allah demikianlah keindahan kepemimpinan Islam yang menjadi teladan sepanjang sejarah penerapan Islam secara kaffah. Karena kepemimpinan adalah amanah agung yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. Wallahu’alam bi ash-shawab.[]

Comment