Mauiza Ridki, S.Pd: Dunia Abaikan Derita Kemanusiaan Muslim Uighur

Berita753 Views
Mauiza Ridki, S.Pd

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Penahanan Muslim Uigur sekitar satu juta di daerah Xinjiang Barat China di kamp pendidikan mengkhawatirkan PBB. Baijing menyatakan mereka ditahan dengan alasan mengatasi terorisme, ekstrimis dan separatisme Islamis.

Kelompok hak asasi manusia termasuk Amnesty Internasional dan Human Right Watch memberikan laporan kepada komite PBB yang mencatat tuduhan penahanan massal di kamp tahanan. Para tahanan dipaksa melaksanakan sumpah setia kepada presiden China, Xi Jinping. Word Uyghur Congress juga menyatakan dalam laporannya bahwa para tahanan dibui tanpa dakwaan dan dipaksa meneriakkan slogan Partai Komunis. Kebanyakan tahanan tidak pernah didakwa melakukan kejahatan dan tidak pernah menerima bantuan hukum. (www.bbc.com)
Tahanan muslim Uighur dipisahkan dari keluarga dan anak-anak mereka. Juga disiksa untuk melupakan identitas mereka, mencela agamanya dan berjanji setia kepada Partai Komunis China. Sementara itu, Uni Eropa dan PBB mengecam kamp-kamp ini termasuk negeri-negeri muslim seperti Arab Saudi, UEA, Pakistan, Indonesia, Mesir, Banghladesh dan Maladewa. Negara ini memilih diam dan melanjutkan “persahabatan” mereka dengan Baijing. Malah hanya Malaysia yang memiliki keberanian untuk berdiri dan mendukung kaum Uighur. (www.muslimahnewsid.com)
Ironisnya, tahanan muslim Uighur dipaksa memakan babi dan meminum alkohol. Selebihnya mereka disiksa, diikat di kursi “harimau”, dicabutnya kuku dengan tang, gigi dicabut secara paksa, direndam dalam air, dicambuk, dipukul, digantung dengan posisi kaki di atas dan kepala dibawah, disetrika dan siksaan lain yang mengilukan hati. Sementara kaum wanita diperkosa secara bergiliran dan dipaksa menikah dengan suku ”Han” untuk menghapus etnis muslim Uighur. Akibat penyiksaan itu banyak korban meninggal.
Inilah potret kekejian negara China terhadap muslim Uighur. China menganut ideologi komunis, sebuah ideologi yang mengingkari adanya sang Pencipta dan tidak mengakui adanya agama. Ideologi ini menganggap agama sebagai candu. Maka mereka berupaya menghapus muslim dengan cara dan tindakan yang tidak manusiawi. 
Dunia telah mengabaikan derita kemanusiaan Muslim Uighur. Terbukti tidak ada satupun negara yang mampu membebaskan mereka dari penyiksaan dan genosida itu. Termasuk PBB, ia  sebagai lembaga perdamaian Internasional juga hanya sebatas mengecam tanpa melakukan tindakan apapun. Sementara negeri muslim lainnya lebih memilih kerja sama dengan negara Tirai Bambu itu dari pada upaya pembebasan penderitaan muslim Uighur, saudaranya sendiri.
Derita Muslim Uighur hanya dapat diakhiri dengan penegakan Daulah Islam sebagai perisai umat di seluruh dunia dan wadah penerapan Islam secara Kaffah. Negara Islam tak kan membiarkan satu nyawa kaum muslimin mati sia-sia sebagaimana sabda Rasulullah,” lebih baik hancurnya ka’bah daripada matinya seorang Muslim.”
Dalil diatas jelas, seperti itulah Islam memuliakan nyawa kaum muslimin. Jika ada yang membunuh seorang muslim yang tidak bersalah maka dalam hukum Islam pelakunya diberikan sanksi tegas dengan cara di qisas dan denda. Jika pelakunya adalah suatu negara maka Daulah Islam akan memerangi negara tersebut sehingga pelakunya tidak akan mengulangi kejahatannya dan tentu memberikan efek jera.
Maka dari itu penegakaan Daulah Islam sebagai perisai umat dan sebagai wadah penerapan Islam secara kaffah menjadi kewajiban bagi seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Daulah Islam hanya dapat tegak melalui dakwah dengan metode yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Wallah a’lam bi ash-shawab.[]

Penulis adalah guru SDIT As-Syifa, Aceh

Comment