Megawati Ingatkan Prabowo: Politik Jangan Andalkan Buzzer

Nasional, Politik878 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak mengandalkan buzzer maupun relawan politik yang berpotensi menimbulkan perpecahan di masyarakat.

Pesan ini disampaikan di tengah evaluasi publik terhadap praktik demokrasi satu dekade terakhir yang dinilai sarat manipulasi opini melalui media sosial.

“Saya sudah bilang melalui seseorang supaya Pak Prabowo membuang itu namanya buzzer-buzzer yang hanya membuat perpecahan di antara kita sendiri. Belum tentu faktanya ada,” ujar Megawati, beberapa hari lalu.

Pandangan Megawati sejalan dengan kritik sejumlah kalangan akademisi mengenai rusaknya ekosistem demokrasi akibat maraknya penggunaan buzzer politik.

Rektor Universitas Paramadina sekaligus ekonom senior, Prof. Dr. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D., Dalam press release ya Sabtu (16/8/25) menyebut fenomena ini sebagai bentuk degradasi ruang publik yang digambarkan melalui teori tragedy of the commons.

Menurut Didik, ruang publik yang sejatinya berfungsi menampung aspirasi warga secara sehat, kini mengalami kehancuran karena banjir informasi yang dimobilisasi mesin-mesin digital, termasuk kecerdasan buatan (AI). “Aspirasi tidak lagi datang dari hati nurani, tetapi dibuat oleh mesin bot yang diciptakan gerombolan buzzer politik,” ujarnya.

Ia menilai pada masa pemerintahan sebelumnya, relawan dan buzzer justru dihidupkan sebagai “pemain gelap” di luar sistem demokrasi formal, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Praktik tersebut, kata Didik, menyebabkan fungsi check and balances menjadi lemah dan artifisial.

Selain itu, penggunaan media sosial tanpa aturan dianggap memperparah situasi. “Media sosial yang dipakai secara liar dan tanpa aturan oleh negara adalah bencana bagi kehidupan politik. Kehadiran teknologi informasi tidak bisa dibiarkan tanpa regulasi yang tepat,” tambah Didik.

Karena itu, ia menilai anjuran Megawati sebagai politisi senior perlu diindahkan agar ruang demokrasi tidak semakin rusak oleh praktik politik berbasis buzzer.[]

Comment