Memang Begini Realitanya, Mengapa Harus Merasa Gagal?

Motivasi580 Views

 

Penulis: Dr H. J. Faisal |
Pensyarah Prodi PAI UNIDA Bogor / Director of Logos Institute for Education and Sociology Studies (LIESS) / Pemerhati Pendidikan dan Sosial / Anggota PJMI

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Beberapa hari lalu, seorang teman lama mengeluh kepada saya. Ia merasa kariernya di tempat kerja seolah “dijegal” oleh kelompok tertentu agar tak bisa naik jabatan menjadi supervisor. Padahal, prestasi penjualannya baik, manajernya pun puas dengan kinerjanya. Saya mengenalnya cukup lama—cerdas, jujur, dan tidak suka bermain drama.

Namun apa yang ia alami, jujur saja, bukan hal baru bagi saya. Pernah juga saya mengalaminya. Maka, dengan nada bercanda tapi serius, saya katakan kepadanya:

“Di negeri yang masih kental budaya feodal, koruptif, dan kolutif ini, orang jujur, cerdas, dan tak suka menjilat biasanya justru sengsara di awal.”

Artinya, kalau mau naik pangkat tanpa hambatan, terkadang harus lihai bermuka dua, pandai menjilat, dan punya “kecerdasan sosial” ala dunia korporasi. Ironis, tapi nyata.

Akar Budaya Feodal yang Sudah Berkarat

Di banyak tempat kerja, baik di lembaga publik maupun swasta, seolah ada aturan tak tertulis: yang naik adalah mereka yang pandai menyenangkan atasan, bukan yang bekerja paling baik.

Padahal idealnya, promosi jabatan berdasar kinerja, etika, dan kontribusi nyata—bukan karena koneksi.

Namun bagi mereka yang tetap memilih jujur dan berintegritas, jangan berkecil hati. Jalannya mungkin lebih lambat, tapi fondasinya lebih kuat. Keberhasilan yang lahir dari karakter tidak mudah runtuh.

Sayangnya, di negeri yang masih dilingkari budaya korupsi, kolusi, nepotisme, dan feodalisme, meritokrasi kerap tak mendapat ruang tumbuh. Jabatan lebih sering dibagi berdasarkan kedekatan, bukan kecakapan.

Sebaliknya, negara seperti Singapura menjadi contoh bagaimana meritokrasi ditegakkan dengan konsisten. Di sana, promosi berbasis kinerja, pendidikan diarahkan untuk membentuk kompetensi, dan sistem hukum menjaga transparansi. Masyarakat pun malu jika mengandalkan “orang dalam”.

Sementara di Indonesia, reformasi birokrasi memang sedang diupayakan, tapi belum cukup kuat menembus tembok budaya feodal yang mengakar. Maka tak heran, akses dan peluang sering kali timpang.

Semakin Dijegal, Semakin Dianggap Berbahaya

Dalam ruang kerja, kita sering melihat yang pandai bersandiwara justru melesat, sementara yang jujur dan cerdas malah tersingkir. Tapi sesungguhnya, semakin seseorang dijegal, semakin jelas bahwa ia dianggap berbahaya bagi status quo.

Hanya pohon berbuah yang dilempari batu.

Semakin langkah kita dihalangi, semakin mereka takut akan potensi yang kita bawa. Semakin kita dibungkam, semakin mereka khawatir suara kita mengguncang kenyamanan mereka.

Mereka takut kehilangan tempatnya. Itulah dinamika kekuasaan yang belum sehat. Ketika seseorang yang berintegritas mulai bersinar, mereka yang hidup dari kelicikan akan merasa terancam.

Dan respons mereka? Menjegal, memfitnah, mempersempit ruang gerak—bukan karena kita salah, tetapi karena kualitas kita berbicara lebih keras dari kata-kata.

Emas Tetaplah Emas

Namun menghadapi situasi ini, kita perlu lebih dari sekadar keberanian. Kita butuh strategi.

Keberanian tanpa arah hanya melelahkan, tapi keberanian dengan ketenangan adalah kekuatan sejati.

Maka, berjalanlah perlahan tapi pasti. Seperti air menetes di batu—tanpa tergesa, tapi konsisten hingga melubangi batu itu sendiri.

Bangun reputasi dan personal branding di luar lingkaran sempit kantor. Peluang sering datang dari arah yang tak terduga. Teruslah belajar, tumbuh, dan memperluas jaringan agar kompetensi kita sulit dibantah.

Ingat, ketenangan bukan kelemahan, melainkan senjata paling ampuh melawan sistem yang rapuh.

Jangan lupa, integritas adalah modal yang tidak bisa dibeli. Mereka yang sibuk menjegal biasanya akan terpeleset oleh kelicikan mereka sendiri.

Hidup memang bukan soal siapa yang paling cepat naik, tapi siapa yang tetap tegak ketika yang lain runtuh.

Emas tidak perlu bersaing dengan perak. Kilau sejati tidak menyilaukan, tetapi menenangkan.

Karena pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling nyaring, melainkan siapa yang paling memberi makna.

Musuh Utama: Diri Sendiri

Rasulullah SAW pernah mengingatkan ketika pulang dari Perang Badar, bahwa ada perang yang lebih berat daripada perang fisik, yaitu jihad melawan diri sendiri.

Musuh sejati bukanlah orang yang menjegal kita, tapi ego yang membuat kita ingin membalas dengan cara yang sama.

Orang yang sibuk menjatuhkan orang lain sesungguhnya sedang menutupi ketakutannya sendiri. Mereka berdiri di tepi jurang, tapi karena terlalu sibuk menunjuk orang lain, mereka akhirnya jatuh ke dalam jurang itu sendiri.

Nasihat Sederhana

Kepada teman saya itu, saya hanya berpesan singkat, “Santai saja. Tetap jujur, tetap cerdas, tetap berprestasi, dan jangan menjilat siapa pun. Kejujuran adalah fondasi hidup, sementara menjilat adalah sesuatu yang menjijikkan.”

Tetap tenang bukan berarti pasrah, tetapi menolak larut dalam permainan kotor.

Tidak menjilat adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Lidah kita tetap bersih dari fitnah dan muslihat. Integritas memang tidak instan, tapi justru karena itulah nilainya tinggi. Muka kita tidak akan hilang hanya karena tidak “cari muka”.

Mereka yang memilih jalan itu, kelak akan dikenang bukan karena kilau sesaat, tetapi karena nilai integritas yang abadi. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment