Menapak Jalan Rasulullah SAW Menuju Kebangkitan Peradaban Islam

Berita486 Views

Penulis: Nikmah Ridha Batubara, M.Si  | Aktivis Dakwah 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tema Hari Santri 2025, “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia,” terasa menyejukkan dada dan membangkitkan asa umat Islam akan kembalinya masa kejayaan peradaban Islam.

Dalam acara Musabaqah Qira’atil Kutub Internasional (MQKI), Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh komponen pesantren menjadikan kegiatan tersebut sebagai “anak tangga pertama” menuju The Golden Age of Islamic Civilization—Zaman Keemasan Peradaban Islam.

Beliau berharap, pesantren menjadi pusat kebangkitan keilmuan sebagaimana masa Baitul Hikmah di Baghdad. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya perpaduan dua jenis ilmu: kitab kuning (kitab turats) dan kitab putih (ilmu modern).

Menurutnya, pondok pesantren tidak bisa hanya menguasai Kitab Kuning, tetapi juga harus menguasai Kitab Putih—kitab sosiologi, politik, hingga sains—agar melahirkan insan kamil.

Beliau juga mengingatkan bahwa keruntuhan peradaban Islam dahulu dipicu oleh dualisme ilmu—pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Oleh sebab itu, pesantren harus menjaga lima unsur sejatinya: masjid, kiai, santri, kemampuan membaca kitab turats, serta tradisi khas pesantren.

Pemaparan ini tentu menjadi angin segar bagi umat Islam yang merindukan kebangkitan Islam. Namun, pertanyaannya: apakah jalan (thariqah) yang kita tempuh sudah benar? Atau jangan-jangan, semangat kita untuk bangkit justru tersesat oleh arah yang keliru?

Rasanya belum cukup jika penyebab keruntuhan peradaban Islam hanya disimpulkan dari pemisahan ilmu agama dan ilmu umum. Sebab akar masalah yang paling mendasar justru adalah masuknya paham sekularisme—paham yang memisahkan agama dari kehidupan.

Agama akhirnya hanya diposisikan di ruang ibadah, bukan sebagai pedoman dalam mengatur urusan masyarakat dan negara.

Ironisnya, di saat kita ingin mengembalikan kejayaan Islam melalui pesantren, justru muncul langkah-langkah yang bertentangan dengan cita itu. Misalnya, kerja sama antara pesantren dan Amerika Serikat dalam pertukaran pendidikan melalui program beasiswa Fulbright atau pengiriman pengajar Amerika ke pesantren.

Padahal, Amerika dikenal sebagai pengusung sekularisme dan sangat menentang penerapan Islam secara kaffah. Program War on Terrorism menjadi bukti nyata permusuhan mereka terhadap Islam.

Melalui proyek “moderasi beragama”, mereka berupaya menanamkan Islam versi moderat yang sejalan dengan sekularisme.

Lalu, bagaimana mungkin kita berharap membuat bangunan yang kokoh jika justru mengundang “rayap” yang akan merobohkannya dari dalam?

Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh melalui proses panjang yang dimulai sejak Rasulullah SAW membangun Daulah Islamiyah di Madinah.

Rasulullah SAW menempuh metode (thariqah) yang jelas. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun pemikiran masyarakat agar berpindah dari pandangan hidup jahiliyah menuju pandangan hidup Islam.

Sebagaimana dijelaskan Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizhamul Islam, kebangkitan manusia ditentukan oleh pola pikirnya (mafahim) terhadap kehidupan.

Tahap pertama ini adalah pembinaan dan pengkaderan untuk membentuk pribadi muslim berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyah). Setelah itu, Rasulullah SAW melanjutkan ke tahap kedua: interaksi dan dakwah di tengah masyarakat, menyeru manusia bahwa hanya Islam satu-satunya sistem yang mampu menyelesaikan problem kehidupan umat manusia.

Tahap ketiga adalah penerapan sistem Islam secara kaffah dalam kehidupan bernegara. Negara menjadi pelaksana hukum Allah sekaligus pengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia melalui dakwah dan jihad.

Melalui tiga tahapan inilah Rasulullah SAW berhasil membangun peradaban yang megah, adil, dan sejahtera—peradaban yang berdiri tegak selama lebih dari 14 abad dan belum pernah tertandingi hingga kini.

Jika kita benar-benar menginginkan kebangkitan Islam, maka jalan terbaik adalah ittiba’ (mengikuti) metode Rasulullah SAW dalam membangun peradaban.

Kebangkitan tidak lahir dari pencampuran nilai Islam dengan sekularisme, tetapi dari pemurnian pemikiran dan penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah).

Membangun kembali peradaban Islam bukan sekadar narasi indah, melainkan kewajiban setiap mukmin. Maka, sudah saatnya umat Islam menapaki kembali jalan yang pernah ditempuh Rasulullah SAW—jalan yang telah terbukti melahirkan The Golden Age of Islamic Civilization.

InsyaAllah, dengan ittiba’ kepada Rasulullah SAW dalam metode dan perjuangan, peradaban Islam yang gemilang itu akan kembali tegak di muka bumi. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment