Meneladani Rasulullah SAW dalam Mewujudkan The Golden Age of Islamic Civilization

Opini338 Views

 

Penulis: Alliwazzahra Ila Roma | Mahasantri Cinta Quran Center

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Beberapa hari terakhir, para santri dari berbagai pondok pesantren di seluruh Indonesia tengah merayakan Hari Santri Nasional ke-80 dengan tema besar: “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.”

Sebagaimana dilaporkan Kemenag.go.id (2 Oktober 2025), dalam ajang Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional di Pesantren As’adiyah Wajo, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa MQK dapat menjadi anak tangga menuju kebangkitan kembali The Golden Age of Islamic Civilization — Zaman Keemasan Peradaban Islam. Ia menegaskan, kebangkitan peradaban ini harus bermula dari lingkungan pesantren.

Dalam pidatonya, Menag menekankan bahwa pesantren tidak cukup hanya menguasai Kitab Kuning (Turats), tetapi juga perlu menguasai “Kitab Putih” — buku-buku berbahasa asing yang membahas sosiologi, politik, hingga sains.

Menag mengajak seluruh elemen pesantren mempertahankan lima unsur sejatinya: masjid, kiai, santri, penguasaan Turats, serta pelestarian tradisi keilmuan khas pesantren.

Pidato tersebut tentu menjadi angin segar bagi umat Islam, terutama kalangan santri, untuk kembali menatap harapan akan lahirnya kembali peradaban Islam yang gemilang. Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang tidak kecil.

Ajaran Islam justru kian jauh dari kehidupan umatnya, bahkan sebagian di antara umat Islam sendiri bersikap abai, atau bahkan memusuhi nilai-nilai agamanya.

Berita-berita yang mencoreng dunia pesantren pun semakin sering muncul. Seperti diberitakan Tempo.co, terjadi kasus pencabulan terhadap 12 santri laki-laki berusia 8–14 tahun oleh seorang pembina pesantren di Tulungagung, Jawa Timur. Belum lagi peristiwa robohnya bangunan Pondok Pesantren Al-Khoziny yang menelan korban jiwa para santri.

Kasus-kasus semacam ini bukan hanya melukai rasa kemanusiaan, tetapi juga memperburuk citra pesantren sebagai penjaga nilai moral dan keilmuan Islam.

Di sisi lain, Kementerian Agama dalam beberapa tahun terakhir gencar mendorong program moderasi beragama di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Secara konseptual, gagasan ini banyak terinspirasi oleh rekomendasi lembaga Barat seperti Rand Corporation.

Karena itu, secara epistemologis, konsep moderasi beragama tidak sepenuhnya bersumber dari syariat Islam, melainkan lahir dari kerangka berpikir sekuler yang berkembang di Barat.

Pengarusutamaan gagasan tersebut membuat sebagian pesantren tanpa sadar semakin menjauh dari penerapan syariat Islam secara menyeluruh. Akibatnya, tidak sedikit lulusan pesantren yang justru lebih terbuka pada ide-ide liberal dan sekularistik.

Fenomena ini menunjukkan adanya paradoks – di satu sisi umat Islam menyerukan kebangkitan peradaban emas, namun di sisi lain justru menjauh dari pondasi ideologis yang menjadi sumber keemasan itu sendiri.

Padahal, merealisasikan kembalinya The Golden Age of Islamic Civilization bukan sekadar wacana ideal, melainkan kewajiban kolektif seluruh kaum Muslimin (fardhu kifayah).

Dalam kitab Fikrul Islam karya Muhammad Isma’il dijelaskan bahwa kedudukan fardhu kifayah setara dengan fardhu ‘ain. Jika sebagian umat belum menunaikannya hingga tujuan tercapai, maka kewajiban itu tetap menjadi tanggungan umat Islam lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang mati dan tidak ada bai’at di atas pundaknya (kepada khalifah), maka dia mati dalam keadaan jahiliyah.” (HR. Muslim, no. 1851).

Bai’at hanya dapat terwujud bila kepemimpinan Islam tegak. Maka, kebangkitan peradaban emas pun mustahil terwujud di bawah sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Untuk itu, umat Islam perlu meneladani strategi dakwah Rasulullah SAW. Beliau memulai perjuangan dari Daarul Arqam dengan menanamkan akidah yang kokoh dan membentuk pribadi-pribadi sahabat yang utuh dalam keislaman. Setelah itu, datang perintah Allah SWT dalam QS. Al-Hijr: 94:

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.”

Sejak saat itu, Rasulullah SAW bersama para sahabat mulai berdakwah secara terbuka, menghadapi berbagai tekanan, caci maki, siksaan, dan boikot ekonomi. Namun, semangat mereka tidak padam hingga akhirnya kepemimpinan Islam tegak di Madinah melalui dakwah Mush’ab bin Umair.

Dari sanalah syariat Islam ditegakkan, keilmuan berkembang, dan peradaban Islam mencapai puncak keemasannya.

Dari kisah itu, dapat disimpulkan bahwa pesantren bukanlah titik awal tegaknya kepemimpinan Islam, melainkan salah satu buah dari kejayaan Islam itu sendiri. Karena itu, tugas utama pesantren kini adalah menanamkan akidah yang murni dan membentuk kepribadian Islam yang utuh pada diri santri — sebagaimana Rasulullah membina para sahabat.

Jika para santri mampu memposisikan diri sebagai waratsatul anbiya — pewaris perjuangan para nabi — maka mereka akan menjadi agen perubahan yang membawa dakwah Islam ke tengah masyarakat.

Layaknya Mush’ab bin Umair, mereka akan menorehkan sejarah baru menuju tegaknya kembali kepemimpinan Islam dan terwujudnya The Golden Age of Islamic Civilization. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Comment