Menemukan Hakikat Pengorbanan Nabi Ibrahim AS Terhadap Putranya, Ismail AS

Berita875 Views
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Proses penyembelihan hewan sebagai aplikasi ibadah di hari raya qurban memiliki nilai dan hakikat yang berdampak positif bagi pelaku dan masyarakat sekitar.
Secara nilai dan hakikat, qurban tidak hanya sepenggal kisah Nabi Ibrahim AS yang berani menyembelih Nabi Ismail, seorang anak yang lama dinanti kelahirannya. Bukan pula sekedar ajang pamer kekuatan materi seseorang. Terdapat pembelajaran yang sangat menarik tentang bagaimana memutus rantai materialisme yang menggandrungi sifat dasar manusia.
Manusia, termasuk Nabi Ibrahim, merupakan makhluk yang berproses dalam penciptaannya terbuat dari materi itu, selalu gandrung dan begitu lekat dan cinta kepada materi, termasuk kepada anak, isteri, barang mewah dan lain sebagainya.
Padahal kecintaan kita yang paling utama adalah kepada Allah SWT semata yang terekspresikan dalam kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illaa Allah. Tidak ada ilah kecuali Allah.
Ilah merupakan semua komponen materi yang sangat kita cintai, taati, ikuti dan bahkan kita sembah dengan segala ketaatan dengan menisbikan ketaqwaan kita yang sebenarnya.  Sejarah menukil kisah Nabi Ibrahim dan masyarakatnya dengan mengilahkan patung yang diletakkan di sisi Ka’bah sebagai penyembahan mereka. Pada posisi ini, patung dan berhala menjadi ilah selain Allah.
Begitu juga kecintaan kita yang melalmpaui batas kepada wanita, anak dan materi lainnya merupakan representasi makna ilah di dalamnya. Oleh karena itu, sebagai hak yang harus dicintai sebagai ilah, Allah menguji manusia untuk mengtahui kualitas cintanya kepada al-Khaaliq. Nabi Ibrahim menjadi representasi kisah panjang dan menjadi contoh bagaimana melepas kecintaan materi untuk cinta kepada Allah semata meskipun harus memotong atau menyembelih putra yang sangat didambakannya di usianya yang afkir.
Tidak sedikit dari kita yang melaksanakan qurban hanya pada tataran seremonial dan tidak menyentuh hakikat yang mendalam. Episode yang direntangkan Allah dengan Nabi Ibrahim sebagai pemeran ini hanya menjadi kisah menarik dalam epik di ruang hampa. Bahkan tak jarang menjadi moment tersembunyi untuk melapangkan keinginan nafsu yang melenceng dari nilai ketaqwaan itu sendiri. Ibadah qurban hanya menjadi sarana sebuah kepentingan belaka.
Allah begitu eksplisit mengungkapkan firmanNya, tidak sampai kepadaKU daging dan darah qurban tetapi yang sampai hanyalah ketaqwaan. Sebesar apapun qurban yang kita lakukan bila ada agenda tersembunyi dengan niat dan kepentingan tertentu maka hal ini tidak memiliki nilai sedikitpun di hadapan Allah Jalla Jallaluhu.
Dalam kondisi berbeda, sejumlah kecil bantuan harta dan materi yang kita qurbankan dalam bentuk sosial di masyarakat secara kontinue memiliki makna yang tidak kalah dengan seekor sapi besar yang diqurbankan seseorang hanya sekali dalam setahun. Bila dengan niat ikhlas dan taqwa, seratus ribu yang anda keluarkan setiap hari untuk membantu dan memberi makan orang miskin itu jauh lebih memiliki makna daripada seekor sapi besar yang hanya setahun sekali. Ini menjadi dampak positif dan refleksi sosial yang menjadi tuntutan ibadah qurban.
Hakikat qurban bukan pada tataran kuantitas. Sedikit dan banyak bukan persoalan mendasar dalam hal berqurban di hadapan Allah SWT. Sikecil bisa saja mendapat nilai besar dan sebaliknya, si besar bisa pula mendapat nilai yang kecil.

Semua bergantung pada niat dan ketaqwaan karena esensi pengurbanan itu adalah kemampuan kita secara ikhlas melepas dan mengalahkan nafsu terhadap materi untuk secara sadar kembali kepada Allah SWT sebagai satu-satunya Ilah. Demikian itulah hakikat yang kita temukan dalam kisah pengorbanan Ibrahim terhadap putranya Ismail AS. Asyhadu An-Laa Ilaaha Illa Allah wa asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.[GF]

Comment