Mengembalikan Ruh Perjuangan Kartini pada Khittah Islam

Opini18 Views

 

Penulis: Neno Salsabillah | Aktivis Muslimah & Muslimprenuer

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Setiap bulan April, ruang publik kita senantiasa dipenuhi oleh selebrasi visual yang seragam: kebaya dan parade busana. Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada narasi besar yang sering kali tereduksi.

Kita kerap merayakan Kartini sebagai ikon emansipasi gaya Barat, namun jarang mengulas transformasi spiritual beliau di akhir hayatnya sebagai seorang muslimah yang rindu menjadi hamba Allah yang sejati.

​Bukti Sejarah: Transformasi Literasi

Sejarah mencatat bahwa kegelisahan Kartini memuncak karena ia dilarang memahami makna Al-Qur’an oleh penjajah. Dalam bukunya, Panggil Aku Kartini Saja, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan bagaimana Kartini merasa hampa dengan pendidikan Barat yang ia terima.

Titik baliknya adalah pertemuan dengan Kyai Sholeh Darat di Demak. Kartini bertanya, “Kyai, selama hidupku baru kali ini aku sempat mengucapkan syukur kepada Allah. Aku bersyukur bahwa aku dipertemukan dengan Kyai yang telah membukakan mata hatiku terhadap rahasia agama Islam.”

Hal ini membuktikan bahwa visi Kartini bukan sekadar kesetaraan sosial, melainkan pembebasan intelektual berbasis wahyu. Beliau menyadari bahwa hanya dengan memahami Islam, perempuan pribumi bisa lepas dari belenggu feodalisme dan kolonialisme.

​Landasan Syariat: Menuntut Ilmu adalah Kewajiban

Visi Kartini selaras dengan perintah Rasulullah SAW. Islam tidak pernah membedakan hak laki-laki dan perempuan dalam mengakses ilmu. Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah).

​Dalam konteks ini, ilmu yang dimaksud terutama adalah ilmu agama yang menjadi pondasi amal. Kartini memahami bahwa tanpa ilmu syar’i, perempuan akan mudah terseret oleh arus pemikiran luar yang justru merendahkan martabat mereka.

​Belajar dari Peran Shahabiyah

Jika kita menilik sejarah kejayaan Islam, peran perempuan sangatlah sentral dan melampaui zamannya. Kita mengenal Aisyah binti Abu Bakar, sang intelektual besar yang menjadi rujukan para sahabat dalam urusan hadis dan fikih. Ada pula Syifa binti Abdullah yang dipercaya oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk mengawasi pasar (urusan ekonomi dan regulasi) di Madinah.

​Para Shahabiyah ini membuktikan bahwa Islam memuliakan perempuan bukan dengan menjadikan mereka “saingan” laki-laki, melainkan sebagai partner peradaban yang cerdas dalam bingkai fitrah. Mereka adalah pendidik, ahli medis, sekaligus pejuang yang memastikan syariat Islam tegak secara sempurna (kaffah).

​Tugas Kartini Masa Kini: Memperjuangkan Islam Kaffah

Di era modern ini, tugas “Kartini-Kartini Baru” bukan lagi sekadar melawan buta huruf, melainkan melawan “buta syariat”. Tantangan saat ini adalah emansipasi liberal yang justru mengeksploitasi perempuan sebagai komoditas.

Tugas kita selanjutnya adalah:

1.​ Menjadi Madrasah Utama: Mencerdaskan diri dengan ilmu Islam agar mampu mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam yang kuat.

2.​ Pejuang Literasi: Mengedukasi masyarakat bahwa kemuliaan perempuan hanya ada di bawah naungan aturan Allah, bukan pada standar kecantikan atau materi ala Barat.

3.​ Kritis terhadap Narasi Asing: Berani menyuarakan bahwa solusi atas segala permasalahan perempuan, mulai dari kemiskinan hingga pelecehan, hanya bisa tuntas dengan penerapan Islam secara menyeluruh.

​Sudah saatnya kita menghentikan pendangkalan sejarah. Mari kita warisi semangat Kartini yang sebenarnya: semangat untuk kembali kepada cahaya Islam. Menjadi modern bukan berarti meninggalkan syariat, dan menjadi cerdas adalah jalan untuk menjadi hamba Allah yang lebih bertakwa.

​Hanya melalui pemahaman Islam yang utuh, kita dapat meraih kemuliaan yang hakiki—kemuliaan yang menempatkan perempuan pada tempat terhormat sesuai fitrahnya. Wallahualam bisshawab.[]

Comment