by

Mengenal Pondok Pesantren As Sa’idiyyah 2, Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Pondok As Sa’idiyyah 2 didirikan pada 2004 karena pada waktu itu Pondok Saidiyyah 1 sudah penuh. Lepas didirikan, dari tahun ke tahun Pondok As Sa’idiyyah 2 ini semakin banyak santrinya. Bisa jadi hal itu diminati karena pengembangan dan pengaplikasian konsep Ramah Anak.

Pondok As Sa’idiyyah 2 semakin berkembang dengan program-program yang relevan sesuai kebutuhan anak-anak. Tentu saja dengan perjalanan yang sangat terjal dan berliku dan itu sudah pasti sangat membutuhkan waktu, biaya, pikiran dan berbagai macam hal untuk mendukung tercapainya pesantren ramah anak yang mumpuni.

Perjuangan panjang terus-menerus memang harus dilaksanakan untuk mecapai tujuan. Mengarahkan segala tenaga agar program-program pondok bisa menekan bahkan meniadakan kekerasan. Para pengasuh pondok pesantren As Sa’idiyyah 2 berharap dalam perjalanan berikutnya kekerasan betul-betul hilang.

Dengan begitu ke depan, pondok jadi semakin baik, semakin unggul, semakin ramai, semakin bersih dan yang sangat penting adalah ramah anak. Anak-anak harus bisa merasakan bahwa pesantrennya sangat nyaman untuk belajar, nyaman beraktivitas, nyaman
mengaji, nyaman sekolah, nyaman bersamaan, nyaman beristirahat dan nyaman ketenangan.

Anak-anak santri pun bisa belajar dengan happy dan tidak ada ketegangan sama sekali. Tidak ada tekanan-tekanan dan gangguan yang bersifat fisik maupun non fisik.

Tentu saja untuk menggapai semua kesempurnaan itu masih diperlukan perjuangan. Saat ini memang masih banyak kekurangan-kekurangan yang terus dilengkapi dari disempurnakan.

Perlu dimafhumi bahwa visi dari Ponpes As Sa-idiyyah 2, beraqidah aswaja, berwawasan global, berkarakter ramah anak dan anti bullying. Sedangkan misinya mendidik santri mampu membaca kitab kuning, ramah anak dan anti bullying, mampu berbahasa asing (Arab & Ingris) dan berakhlaqul karimah.

Karena itu bila kita masuk ke dalam gedung pondok yang cukup representatif itu, fasilitas yang kita temuinya adalah musholla yang bersih dan nyaman, perpustakaan dengan perangkat komputer dan internet untuk menyelesaikan tugas, kamar tidur yang bersih, lemari dan ranjang tidur, blower pendingin kamar dan ruang loundry untuk santri yang dikerjakan tenaga profesional.

Tidak sebagaimana ghalibnya pondok-pondok yang ada, Ponpes As Saidiyyah 2 menyematkan tagline yang bikin adem dan nyaman para orang tua, yakni ” Pondok Anti Bulying dan Ramah Anak.

Lalu apa sejatinya maksut Tagline ” Pondok Anti bulying dan ramah anak? Pendiri, pendidik dan pengasuh Ponpes As Sai’diyyah 2, Hj.Umdatul Choirot yang biasa dan akrab di panggil, Bu Nyai Umda, menegaskan.

“Kami di sini mendidik dengan hati. Lalu para santri bergaul dengan sesama santri yang terajut dengan ramah serta tidak saling menyakiti secara fisik maupun non fisik. Semua yang ada disini sifatnya mendidik dan berproses menuju kesadaran pribadi agar kelak berkarkter humanis serta mampu menjaga diri dan orang lain,” jelas Dosen Universitas Wahab Hasbullah (Unwaha) ini.

Disadari atau tidak, ini seolah mengaplikasikan UU Komor 23 Tahun 2002, tentang perlindungan anak, yakni
penyadaran untuk menjamin seorang anak agar kehidupannya bisa berjalan dengan normal, maka negara telah memberikan payung hukum.

Alumni IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta Fak Syari’ah,Tafsir Hadits ini mengurainya lagi, “Di sini para santri tidak boleh mengganggu ketenangn orang lain, menyakiti fisik non fisik, mencela, mengambil atau merusak milik orang lain. Bahkan para santri tidak boleh pegang atau mencolek anggota badan orang lain. Juga tidak boleh memberi julukan yang tidak pantas pada orang lain,” tegas Dosen Ilmu Al Qur’an, Unwaha, Tambakberas, Jombang.

Nyai Umda mengakui, karena tengah berproses, jadi masih ada saja pelanggaran-pelanggaran kecil dari anak-anak yang tentunya segera diselesaikan dengan persuasif dan kekeluargaan.

Menurut Nyai yang ramah dan penuh kasih sayang ini,  untuk mewujudkan program itu, para pengasuh pondok terus  diharapkan untuk dapat menjadi pelopor.

Pelbagai program pun digulirkan pondok agar para santri terhindar dari pelecehan seksual dan kekerasan dari orang-orang di sekitarnya. Baik itu dari penerapan  kurikulum dan pengkajian kitab-kitab  yang diajarkan maupun dari pembinaan dan kegiatan yang dihelat malam Selasa dan malam Jumat. Begitu juga dengan Mauizah Abah Kyai dan Bu Nyai. Juga dari even-event pendukung semisal seminar dan pelatihan-pelatihan di sekolah dan sebagainya.

Tapi tidak bisa dipungkiri dengan fakta, bahwa di luar sana,  masih banyak pondok-pondok yang justru mempekerjakan para santri untuk bekerja, seperti membangun gedung atau fasilitas pondok dengan dibumbui istilah ber-ubudiyah, bhakti dan sebagainya yang bisa jadi itu cuma akal-akalan pondok saja.

Menanggapi hal ini, Nyai Umda menegaskan, dalam hal ini ia tidak bisa menggebyah uyah. Menurutnya, kalau pun ada,  bisa saja hal itu berlaku sesuai dengan perjanjian awal kedua belah pihak.

“Sebab mungkin mereka mondoknya free dengan akad mondok sambil mengabdi. Itu boleh-boleh saja. Kan akad awalnya memang seperti itu. Tapi kalau di As Sai’diyah 2, sebagai pesantren ramah anak, berusaha konsisten untuk tidak mempekerjakan santri dibawah umur. Kalau pun ada yang free mondok sambil ngabdi itu harus yang sudah mahasiswa. Itu pun pekerjaan yang ringan, semisal jaga gerbang, mengepel, driver atau dapur. Jadi di pondok ini juga ada yang free sambil mengabdi, seperti  menyetiri mobil saya selama tidak mengganggu kuliahnya,” tandas pengurus Fatayat dan  Muslimat NU ini.

Lalu adakah yang membedakan  Pondok As Saidiyyah2 dengan pondok-pondok sejenis, baik mengenai program pembelajarannya, metodenya, kajian-kajiannya, kitab-kitabnya?

Nyai Umda menguraikan bahwa kalau di Tambakberas, setiap asrama /ribath yang semuanya dari unsur dzurriyyah, sudah pasti  ada pakem-pakemnya untuk
ilmu-ilmu  apa saja  yang diajarkan.
Akan tetapi semua pondok terkait boleh menggunakan kitab yang berbeda sesuai dengan kebijakan pengasuhnya.

Adapun standarnya adalah semua asrama/ribath harus mengajarkan Al Qur’an dan tajwid, ilmu alat agar bisa membaca kitab kuning , tafsir, hadits, fiqih, akhlaq/ tasawuf, dan kitab-kitab pendukung lain. Adapun kitab-kitab dan pengarangnya diserahkan kepada pengasuh masing-masing selama dalam koridor Aswaja dan Madzhab Syafi’i atau madzhab  yang empat.

Jadi pada dasarnya memang ada perbedaan antara As Sa’idiyah 2 dengan pondok  yang lainnya, semisal, As Sa’idiyyah 2 menabalkan diri sebagai pondok yang ramah anak yang anti
bulyying, meskipun masih dalam proses perjuangan dan terus belajar.

Saban hari  di pondok ini para santri  didampingi dan dibimbing langsung oleh pengasuh. Bahkan KH. Ach. Hasan M.Pdi dan Nyai, Dra. Hj.Umda turun langsung dibantu oleh putra / putrinya. Dengan begitu selain  beristiqomah mengimami jamaah 5 waktu, Pak Kyai dan Bu Nyai mengajar langsung para  santri termasuk mempelajari kitab kuning sembari mengawasi tingkat kemampuannya.

Karena itu untuk santri tingkatan Madrasah Diniyah Ula ( tingkt dasar ) masih dalam bimbingan ustadz / ustadzah untuk pendasaran pembelajaran kitab kuning.

Perbedaàn lainnya, untuk menjaga kenyamanan, para santri tidur di atas
ranjang berkasur dan layak. Isi kamar pun disesuaikan dengan kapasitas yang pas hingga santri tidak berdesak-desakan.

Kalau soal makan, di pondok ini santri makan 3x sehari dengan menu makan yang sehat, layak dan bergizi.

Semua menu diolah dan dsajikan pekerja profesional yang mumpuni dalam soal kuliner. Tapi tentu saja disesuaikan dengang budget yang ada.

Yang juga diterapkan dalam kebijakan di pondok ini adalah semua pekerjaan primer dikerjakan oleh tenaga profesional. Para santri/ pengurus sifatnya hanya membantu dan mengawasi saja. Semua projek pembangunan semuanya dikerjakan oleh tukang dan mandor profesional. Dan semuanya  tertata dan terencana dengan baik.

Sejatinya As Saidiyyah 2 adalah pesantren mandiri yang  tidak menggantungkan diri pada bantuan pemerintah atau pihak manapun. Bertumpu pada keyakinan, Allah akan selalu membuka pintu jalan kluar yang lebih baik dan sempurna bagi  eksistensi sebuah pondok.

Tapi yang pasti, bagi para santri yang lulus dari pondok ini ada standard kompetensi sebagai alumni Bahrul Ulum.

“Semua santri yang bernaung di bawah kepengasuhan dzurriyah dan bersekolah di Bahrul Ulum, dibaiat sebagai alumni Bahrul Ulum,”  pungkas Bu Nyai Umda, anggota Pengawas  Yayasan PP. Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, 2022- 2027.[]

Comment