Mengenang Arif Budimanta, Intelektual dan Politisi

Nasional476 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA -— Kabar duka datang dari keluarga besar PDI-P dan dunia akademisi. Dr Arif Budimanta, aktivis, akademisi, dan politisi, wafat pada Sabtu (6/9/2025) dini hari. Kepergian pria kelahiran Medan itu terasa begitu cepat, mengingat usianya masih relatif muda.

“Arif adalah adik kelas saya di IPB. Kepergiannya terlalu cepat, namun kita harus ikhlas melepasnya,” kata Ekonom Senior Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, saat mengenang mendiang.

Arif dikenal sebagai intelektual yang aktif menulis buku dan artikel di berbagai media nasional, termasuk Kompas, Bisnis Indonesia, dan DetikFinance. Tulisan-tulisannya banyak mengangkat isu ketimpangan, UMKM, investasi, serta keberlanjutan pembangunan.

Beberapa karyanya antara lain buku Pancasilanomics: Ekonomi Pancasila dalam Gerak (2019), yang menguraikan gagasan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan sistem ekonomi nasional yang adil dan berdaulat. Ia juga menulis Arsitektur Ekonomi Indonesia, yang mengkritisi arah pembangunan yang dianggap terlalu liberal dan mengusulkan desain ekonomi berbasis Pasal 33 UUD 1945.

Dalam ranah politik, Arif berkiprah di PDI-P. Sejak 2008, ia dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Megawati Institute, think tank partai tersebut. Dari lembaga ini, Arif kerap menginisiasi diskusi penting, termasuk meluncurkan gagasan Pancasilanomics untuk memperkuat ekonomi berbasis nilai Pancasila.

Sebagai anggota DPR periode 2009–2014, Arif dikenal melalui gerakan “sunyi” menghidupkan ekonomi konstitusi. Ia menginisiasi kaukus lintas fraksi yang berupaya memasukkan indikator kesejahteraan rakyat ke dalam proses penyusunan APBN, bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, Arif turut berperan dalam dunia pendidikan melalui Yayasan Wakaf Paramadina yang menaungi Universitas Paramadina. Ia aktif dalam diskursus publik, memberikan kritik terhadap kebijakan ekonomi dan politik, sekaligus mendorong lahirnya gagasan-gagasan alternatif bagi pembangunan bangsa.

“Kepergian Arif menyisakan hikmah dan pelajaran bagi generasi selanjutnya. Ia meninggalkan warisan pemikiran yang kuat tentang ekonomi politik, Pancasila, dan kebijakan publik,” ujar Didik J Rachbini.[]

Comment