Menjadikan Kelaparan Sebagai Alat Genosida, Bukti Zionis Lemah dan Pengecut

Opini1017 Views

Penulis: Afifah Herliana | Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kekejian dan kebengisan zionis Israel dalam genosida di Jalur Gaza masih terus berlanjut sampai hari ini. Baik serangan dari udara maupun darat terus digencarkan Israel secara masif, menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina sejak Oktober 2023. Tragisnya, sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak. (republika.co.id)

Adanya Blokade Total Bantuan ke Gaza

Penderitaan warga Palestina kini diperparah dengan pemblokadean total bantuan makanan dan kebutuhan dasar ke Gaza, yang diberlakukan sejak 2 Maret 2025. Melansir CNBC Indonesia, seluruh pasokan makanan, air, dan obat-obatan menuju Gaza dilarang masuk, menyebabkan krisis kemanusiaan yang disengaja. Pemblokadean ini menyebabkan kelaparan massal dan menjadi senjata genosida bagi zionis Israel.

Bahkan setelah Hamas membebaskan sandera dari Amerika Serikat (AS), Edan Alexander, janji untuk membuka blokade dan membiarkan bantuan masuk ke Gaza tak ditepati. (republika.co.id)

Sementara itu, korban yang terluka atau pun sakit semakin sulit mendapatkan layanan medis karena banyak rumah sakit yang menjadi sasaran serangan, termasuk Rumah Sakit Indonesia yang kini tak lagi mampu beroperasi.

Kelaparan Menjadi Alat Genosida Zionis

Tindakan zionis yahudi yang memblokade bantuan makanan dan medis ke Gaza sebagai senjata dalam genosida menjadi bentuk nyata kelemahan dan kepengecutan mereka. Ketika bom dan peluru belum mampu mengehentikan perjuangan rakyat Palestina, mereka menggunakan “senjata kelaparan” sebagai alat baru menyiksa secara massal.

Ini bukan lagi perang secara militer, melainkan pembantaian yang bertujuan menghapus seluruh populasi di Jalur Gaza. Sayangnya, dunia internasional masih bersikap pasif dan hanya memberi kecaman bagi zionis.

Diamnya Para Pemimpin Muslim

Ironisnya lagi, mayoritas pemimpin Muslim justru memilih bungkam atau bahkan berkhianat di tengah jeritan rakyat Palestina yang berada diambang kelaparan dan kematian.

Alih-alih bersikap tegas dan bersatu melawan zionis, banyak dari mereka semakin melanggengkan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara Barat yang menjadi penyokong persenjataan zionis Israel.

Urgensi Kembalinya Satu Kepemimpinan Islam

Genosida di Gaza terus terjadi karena umat Islam tidak memiliki pelindung yang sejati. Umat Muslim kehilangan peran negara sebagai ra’in dan junnah yang akan melindungi setiap rakyat dari penjajahan dalam bentuk apapun.

Tidak adanya kepemimpinan Islam global dalam satu bendera tauhid membuat umat tercerai-berai dan tak mampu membela tanah Palestina. Padahal jumlah kaum Muslim di dunia jauh melampaui populasi entitas zionis Israel.

Dengan kondisi seperti ini, seruan untuk kebangkitan umat Muslim dan kembalinya kepemimpinan Islam semakin relevan dan mendesak. Pasalnya, hanya dengan kekuatan Islam global dalam satu bendera tauhid itulah yang akan memberi komando perlawanan terhadap zionis Israel.

Oleh karena itu, harus ada perjuangan serius untuk menegakkannya kembali. Perjuangan ini telah diawali oleh partai politik Islam yang konsisten mengikuti metode dakwah Rasulullah saw.

Umat harus terus membangun kesadaran agar siap berjuang bersama partai Islam yang sungguh-sungguh memperjuangkan syariat Allah dalam naungan kepemimpinan Islam global yang akan menegakkan keadilan, melindungi kehormatan umat, dan membebaskan umat Muslim dari cengkeraman penjajahan. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment