Penulis : Prof. Bustanul Arifin
| Disarikan dari Ta’lim Ba’da Subuh Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Si di Masjid Al-Hijri 2 UIKA Bogor, 2 November 2025
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi dan derasnya tantangan zaman, manusia sering kali lupa bahwa musuh sejatinya bukanlah sesama manusia, melainkan setan yang terus berusaha menjerumuskan umat manusia ke dalam jurang permusuhan dan kesesatan.
Inilah pesan penting yang diingatkan oleh Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, M.Si dalam pengajian tafsir Al-Qur’an Surat Al-Jin ayat 8–19.
Surat ini mengungkapkan bahwa jin dan manusia memiliki banyak kesamaan: keduanya sama-sama diberi akal, tanggung jawab, dan kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT.
Sebagian di antara jin ada yang beriman, sebagian lagi kafir—sebagaimana manusia. Kisah mereka yang mendengar Al-Qur’an lalu beriman menunjukkan bahwa kekuatan kalam Allah dapat menundukkan hati siapa pun, bahkan makhluk yang dahulu dikenal sebagai pembangkang.
Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin, M.Si mencontohkan peristiwa keislaman Umar bin Khattab RA. Hatinya yang keras luluh ketika mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh saudarinya, Fatimah.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa petunjuk Allah datang kepada siapa pun yang membuka hati, karena Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan cahaya yang menuntun jiwa.
Namun, baik jin maupun manusia tetap makhluk yang lemah. Tidak ada yang mengetahui hal-hal ghaib, tidak pula masa depan.
Dalam Surat Luqman ayat 34 ditegaskan, hanya Allah yang mengetahui kapan kiamat terjadi, kapan hujan turun, apa yang ada dalam rahim, apa yang terjadi esok, dan di mana seseorang akan meninggal dunia.
Ayat ini menegaskan keterbatasan manusia dan menjadi dasar dalam etika hidup, termasuk dalam prinsip ekonomi syariah yang menolak kepastian keuntungan di luar kehendak Allah.
Perbedaan mendasar antara manusia dan jin adalah asal penciptaannya. Jin diciptakan dari api, manusia dari tanah. Jin bisa melihat manusia, sementara manusia tidak dapat melihat jin.
Di sinilah muncul potensi tipu daya setan, yang berasal dari golongan jin dan manusia. Allah telah memperingatkan dalam Surat Al-A’raf ayat 27 agar manusia tidak tertipu sebagaimana Adam dan Hawa yang dikeluarkan dari surga karena bujuk rayu setan.
Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin menegaskan, setan bukanlah teman, melainkan musuh abadi. Dalam Surat Fathir ayat 5 Allah mengingatkan, “Janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah.”
Jalan terbaik untuk menghadapi gangguan setan adalah dengan berlindung kepada Allah sebagaimana diajarkan dalam Surat An-Nahl ayat 98–100. Orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah tidak akan mudah diganggu setan.
Sayangnya, banyak manusia justru menjalin “pertemanan” dengan perilaku setan—yakni sifat dengki, sombong, dan gemar memecah-belah umat. Godaan setan tak hanya datang dalam bentuk bisikan dosa, tapi juga dalam bentuk fitnah, adu domba, dan kebencian yang menyusup di antara kaum muslimin, terutama melalui media sosial.
Betapa banyak hubungan persaudaraan rusak hanya karena berita bohong dan prasangka.
Kisah Nabi Yusuf AS menjadi pelajaran berharga. Allah berfirman dalam Surat Yusuf ayat 100 bahwa setanlah yang menimbulkan keretakan antara Yusuf dan saudara-saudaranya.
Artinya, setiap pertikaian antarumat berawal dari keberhasilan setan dalam meniupkan kebencian di hati manusia. Maka, tugas kita adalah menjaga ukhuwah dan menjauhi segala hal yang menyerupai perilaku setan.
Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin juga menyinggung fenomena sebagian orang yang mencoba “berteman” atau berinteraksi dengan jin. Padahal, jin tidak tahu masa depan dan tidak bisa memberikan manfaat.
Memelihara jin hanya akan membawa kesulitan, terutama menjelang ajal. Manusia seharusnya memanfaatkan akal dan ilmu yang Allah anugerahkan, bukan bergantung pada makhluk lain yang sama-sama lemah.
Satu hal menarik yang juga diingatkan beliau adalah tentang makna ucapan “insya Allah”.
Di tengah masyarakat, kalimat mulia ini sering disalahgunakan, bahkan dijadikan bahan candaan. Padahal, “insya Allah” adalah bentuk pengakuan bahwa manusia tidak memiliki kuasa atas masa depan.
Kalimat ini harus diucapkan dengan niat tulus, bukan sekadar basa-basi untuk menolak halus sebuah undangan.
Melalui pengajian ini, Prof. Dr. KH. Didin Hafidhudin mengajak umat Islam untuk meneguhkan hati dan menjadikan setan sebagai musuh sejati, bukan sekadar simbol.
Setan hadir dalam setiap langkah yang menjauhkan manusia dari Allah, baik dalam urusan ibadah, ekonomi, politik, maupun hubungan sosial. Jalan selamat hanya bisa diraih dengan keimanan yang kokoh, akhlak yang mulia, dan kesadaran bahwa kehidupan dunia hanyalah ujian menuju akhirat.
Karena itu, mari kita perkuat hubungan dengan Al-Qur’an, perbanyak dzikir, dan luruskan niat dalam setiap amal.
Dengan cara itulah manusia mampu melawan godaan setan dan menegakkan peradaban yang berlandaskan cahaya Ilahi.[]









Comment