Penulis: Irah Wati Murni, M.Pd | Pengamat Pendidikan Anak, Aktivis Dakwah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Baru-baru ini publik dikejutkan oleh serangkaian kasus bunuh diri yang melibatkan pelajar di beberapa daerah Indonesia. Pada akhir Oktober 2025, tercatat tiga siswa SMP di Sukabumi, Jawa Barat, dan dua siswa SMP di Sawahlunto, Sumatera Barat, nekat mengakhiri hidupnya.
Dugaan sementara, tindakan tersebut dipicu oleh kekerasan verbal dan perundungan (bullying) yang mereka alami di lingkungan sekolah.
Menurut laporan CNN Indonesia (4/10/2025), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sedikitnya 25 kasus bunuh diri pada anak selama periode Januari–Oktober 2025.
Komisioner KPAI, Aris Adi Leksono, menyebut bahwa setiap kasus anak yang kehilangan harapan hidup merupakan cerminan lemahnya sistem deteksi dini terhadap masalah psikologis di lingkungan keluarga dan sekolah.
Ia menegaskan, kondisi ini menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dan orang tua untuk lebih peka terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
Faktor Penyebab: Dari Pola Asuh hingga Tekanan Lingkungan
Berdasarkan data infografis dari pusiknas.polri.go.id, terdapat beberapa faktor utama yang mendorong remaja melakukan bunuh diri, antara lain: kepribadian rentan – cenderung menutup diri dan terbiasa memendam emosi, pola asuh tertutup – anak tidak pernah diajak berdialog oleh orang tua ketika menghadapi masalah, dan faktor lingkungan dan media sosial – paparan negatif tanpa pendampingan membuat mental remaja semakin rapuh.
Selain itu, lemahnya pondasi akidah juga berperan besar dalam membuat remaja mudah goyah menghadapi ujian hidup. Kelemahan ini sering kali disebabkan oleh kurangnya pengasuhan dan pendidikan agama yang optimal sejak dini di lingkungan keluarga.
Di sisi lain, kurikulum pendidikan sekuler di sekolah yang memisahkan urusan dunia dan akhirat menjadikan agama hanya sebatas teori, tanpa membentuk kepribadian spiritual yang kuat pada diri anak.
Akar Masalah: Kurangnya Pengelolaan Emosi dan Dampak Sistem Sekuler
Kasus bunuh diri di kalangan remaja juga tidak lepas dari minimnya pendidikan pengelolaan emosi sejak dini. Kurangnya perhatian dan pendampingan dari orang tua atau lingkungan sekitar—sering kali karena keterbatasan pengetahuan—membuat anak tidak mampu menghadapi tekanan psikologis yang dialaminya.
Jika ditelusuri lebih jauh, berbagai faktor eksternal turut memperburuk keadaan, seperti: kesulitan ekonomi dan biaya pendidikan yang tinggi, kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin, tuntutan gaya hidup materialistis, paparan konten negatif di media sosial, serta konflik keluarga, termasuk perceraian orang tua.
Semua ini merupakan dampak nyata dari penerapan sistem kapitalisme-sekuler, yang menilai keberhasilan hidup hanya dari aspek materi dan mengabaikan kebutuhan spiritual manusia. Faktor-faktor tersebut termasuk penyebab non-klinis yang memicu gangguan mental di kalangan anak dan remaja.
Solusi Islam: Kembali pada Fitrah dan Kekuatan Akidah
Kehidupan dalam sistem sekuler sangat berbeda dengan kehidupan dalam tatanan Islam. Dalam masyarakat Islam, seluruh aktivitas kehidupan berlandaskan ketaatan kepada syariat Allah.
Sejak kecil, anak-anak dibimbing di rumah dan di sekolah untuk memahami hakikat tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah SWT.
Islam mengajarkan bahwa betapapun berat ujian hidup yang dihadapi, bunuh diri bukanlah pilihan, karena nyawa adalah amanah Allah yang harus dijaga. Seorang muslim meyakini bahwa Allah selalu menyertai dan memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya. Keyakinan inilah yang menjadi sumber kekuatan mental dan spiritual yang sejati.
Selain menanamkan akidah, Islam juga melindungi kehidupan manusia secara sistemik. Negara dalam sistem Islam wajib menjamin pemenuhan kebutuhan hidup rakyatnya agar mereka tidak tertekan oleh kesulitan ekonomi.
Negara juga bertanggung jawab menyaring pengaruh pemikiran dan konten asing yang bersifat merusak, seperti paham hedonisme dan materialisme.
Dalam sistem Islam, keluarga, sekolah, dan masyarakat berperan bersama menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental remaja. Akidah Islam ditanamkan sejak dini agar anak tumbuh sesuai fitrahnya.
Kurikulum pendidikan pun dirancang tidak hanya untuk mengejar prestasi akademik, melainkan membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan berorientasi pada kontribusi terbaik bagi umat.
Dengan demikian, solusi atas maraknya kasus bunuh diri di kalangan remaja bukan sekadar pada aspek medis atau psikologis, tetapi pada pemulihan fondasi keimanan dan penerapan sistem kehidupan Islam secara menyeluruh.[]









Comment