Penulis: Maulida Fitria | Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Tuntutan hidup modern kerap menghadirkan standar kesempurnaan yang nyaris tak berujung. Target pekerjaan, capaian akademik, ekspektasi sosial, hingga dorongan untuk terus “maju” membuat manusia bergerak semakin cepat dan keras dalam mengejar urusan duniawi.
Pada titik tertentu, kesibukan itu sering kali menyisakan pertanyaan sunyi: di mana posisi iman dalam seluruh hiruk-pikuk ini?
Islam sejatinya tidak memusuhi kesibukan dunia. Bahkan, Allah secara tegas memerintahkan manusia untuk aktif bergerak dan berikhtiar.
Sebagaimana difirmankan Allah, “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah” (QS. Al-Jumu’ah: 10).
Ayat ini menegaskan bahwa bekerja, berusaha, dan menjemput rezeki merupakan bagian dari perintah agama, bukan sesuatu yang perlu dihindari.
Namun, dalam ayat lain Allah juga mengingatkan agar manusia tidak terjebak pada satu sisi kehidupan saja.
Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia” (QS. Al-Qashash: 77).
Di sinilah Islam meletakkan prinsip keseimbangan: dunia dikelola dengan sungguh-sungguh, akhirat dijaga dengan penuh kesadaran.
Prinsip ini bukan sekadar konsep, melainkan telah dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad ﷺ. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis, ketika sebagian sahabat berniat mengabdikan diri sepenuhnya pada ibadah—tidak tidur, tidak berbuka, dan tidak menikah—Rasulullah menegur mereka.
“Aku berpuasa dan berbuka, aku salat (malam) dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan. Barang siapa membenci sunahku, maka ia bukan dari golonganku” (HR. Bukhari No. 5063).
Teladan ini menunjukkan bahwa spiritualitas dalam Islam tidak dibangun dengan menafikan fitrah manusia.
Meski demikian, keseimbangan antara dunia dan iman bukan perkara mudah. Manusia diciptakan dengan hawa nafsu, ambisi, dan dorongan untuk memiliki.
Sebagaimana Allah menegaskan, tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya (QS. Adz-Dzāriyāt: 56).
Tantangannya adalah bagaimana tujuan agung itu tetap terjaga di tengah realitas kehidupan yang penuh tekanan dan tuntutan.
Di ruang inilah persoalan keseharian muncul. Pekerjaan yang menumpuk, studi yang menyita waktu, target hidup yang terus bergeser, serta perbandingan sosial yang tak terhindarkan sering kali menguras energi, waktu, dan pikiran. Rasa lelah pun menjadi bagian dari proses.
Namun pertanyaannya, apakah semua kelelahan itu menjauhkan iman, atau justru dapat menguatkannya? Islam memberikan jawabannya melalui niat. Sebagaimana disampaikan Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya setiap amal tergantung niatnya” (HR. Bukhari No. 1).
Kesibukan apa pun—selama tidak melanggar syariat—dapat bernilai ibadah jika dilandasi niat yang lurus. Sebaliknya, amal yang kehilangan tauhid dan keikhlasan akan kehilangan maknanya di sisi Allah, sebagaimana peringatan dalam hadis qudsi (HR. Muslim No. 2985).
Ketika niat, amal, dan ucapan selaras dengan tuntunan agama, kesibukan tidak lagi menjadi beban yang menggerus iman, melainkan jalan yang menghadirkan ketenangan.
Sebagaimana difirmankan Allah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra‘d: 28). Ketenangan inilah yang menjadi bekal utama menghadapi tekanan hidup modern.
Dalam konteks itulah, beberapa sikap berikut menjadi penting untuk menjaga keseimbangan antara kesibukan dunia dan kedekatan iman.
Pertama, berpegang teguh pada akidah yang benar. Akidah adalah fondasi seluruh amal. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah ﷺ, siapa yang mentauhidkan Allah dan menolak segala bentuk kesyirikan, maka keselamatan menjadi janjinya (HR. Bukhari No. 39; Muslim No. 91). Tanpa fondasi ini, kesibukan apa pun mudah kehilangan arah.
Kedua, memprioritaskan ibadah di tengah kesibukan. Islam tidak melarang mencari dunia, tetapi mengingatkan agar ibadah tidak tersisih. Sebagaimana dijanjikan Allah, siapa yang bertakwa akan diberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka (QS. At-Thalaq: 2–3). Ibadah bukan penghambat produktivitas, melainkan penopangnya.
Ketiga, menjadikan kesibukan sebagai ladang pahala. Bekerja, belajar, dan menunaikan tanggung jawab sosial dapat bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, bahkan nafkah yang diberikan kepada keluarga bernilai pahala di sisi-Nya (HR. Muslim No. 1002).
Keempat, merutinkan zikir dalam aktivitas. Zikir tidak menuntut ruang dan waktu khusus. Ia bisa hadir di sela kesibukan, mengiringi langkah dan kerja. Sebagaimana disampaikan dalam hadis qudsi, Allah bersama hamba-Nya selama ia mengingat-Nya (HR. Bukhari No. 6408; Muslim No. 2687).
Kelima, membangun lingkungan yang menguatkan iman. Istikamah akan terasa lebih ringan ketika dijalani bersama. Saling mengingatkan dan menguatkan menjadi kunci, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ, bahwa seorang mukmin bagi mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling mengokohkan (HR. Bukhari No. 2446; Muslim No. 2586).
Pada akhirnya, Islam tidak menuntut manusia memilih antara dunia atau iman. Keduanya justru dirajut dalam satu kesatuan yang harmonis.
Sebagaimana janji Allah, di balik kesulitan selalu ada kemudahan, dan Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya (QS. Al-Insyirah: 5–6; QS. Al-Baqarah: 286). Di sanalah keseimbangan itu menemukan maknanya. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.[]











Comment