Penulis: Isnaini, S.I.Kom | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Publik tengah diramaikan oleh fenomena pengibaran bendera bajak laut “Jolly Roger” dari serial One Piece yang dilakukan oleh sejumlah remaja dan mahasiswa di berbagai kampus serta ruang publik di Indonesia. Fenomena ini mencuat jelang peringatan HUT ke-80 RI dan langsung menuai pro-kontra.
Bagi sebagian orang, pengibaran bendera ini dianggap sekadar hiburan atau ekspresi fandom budaya populer. Namun, bagi sebagian lainnya, ini menjadi simbol kritik terhadap kondisi bangsa yang dinilai semakin carut-marut.
Akademisi Universitas Muhammadiyah, M Febriyanto Firman Wijaya, menilai fenomena ini merupakan bentuk ekspresi simbolik kekecewaan generasi muda terhadap pemerintah.
Pemerintah merespons dengan sikap tegas. Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, mengimbau agar bendera tersebut tidak dibenturkan dengan bendera merah putih menjelang HUT Kemerdekaan RI. Namun, di balik reaksi keras pemerintah, muncul pertanyaan: benarkah simbol bajak laut ini memiliki korelasi mendalam dengan kondisi bangsa hari ini?
Bendera Menggema di Tengah Kacaunya Negeri
Sebagian orang mungkin menganggap pengibaran bendera One Piece hanya sekadar guyonan. Namun, bagi mereka yang peduli terhadap nasib bangsa, aksi ini menjadi momen untuk menggugah kesadaran publik dan menyentil para penguasa atas kebijakan yang dinilai merugikan rakyat.
Kekecewaan publik bukan tanpa alasan. Di tengah wacana revisi KUHP, rakyat bertanya: apakah hukum benar-benar memihak kepada mereka atau justru menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan dan kepentingan segelintir orang? Kasus-kasus hukum kerap berpihak pada konglomerat, sementara kebijakan yang lahir justru mengiris nurani rakyat.
Contohnya, pada 29 Juli 2025, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengumumkan pemblokiran 28 juta rekening bank yang mengendap selama tiga bulan. Kebijakan ini mempersulit rakyat, terutama mereka yang membutuhkan akses dana untuk kebutuhan mendesak seperti berobat.
Belum selesai di situ, pada 14 Juli 2025, Menteri Keuangan Sri Mulyani meresmikan pungutan pajak baru bagi pedagang daring di platform seperti Shopee, Lazada, dan Tokopedia melalui PMK No. 37. Pajak ini menambah beban pelaku usaha kecil dan mikro.
Di sektor pangan, kasus beras oplosan di Pekanbaru pada 28 Juli 2025 semakin meresahkan masyarakat. Harga kebutuhan pokok melonjak, sementara masalah sosial seperti pergaulan bebas dan zina kian marak. Semua ini menimbulkan pertanyaan: apakah rakyat semakin sejahtera atau justru kian terpuruk?
Sistem hukum yang lemah, demokrasi yang timpang, dan penerapan sistem kapitalis telah mengubah peran negara dari pelindung rakyat menjadi fasilitator kepentingan oligarki. Kekayaan alam dikuasai segelintir pihak, kesejahteraan hanya dinikmati sebagian kecil golongan.
Tak heran jika rakyat muak. Ketika aspirasi dibungkam, pengibaran bendera One Piece pun menjadi salah satu bentuk perlawanan simbolik.
Kehidupan Adil di Bawah Bendera Rasulullah SAW
Sejarah mencatat, umat pernah hidup sejahtera di bawah panji tauhid, bendera Rasulullah SAW yang bertuliskan Lā ilāha illā Allāh, Muhammad Rasūlullāh. Panji ini bukan sekadar simbol, melainkan penegasan bahwa kehidupan diatur sepenuhnya oleh syariat Allah SWT.
Di masa kepemimpinan Rasulullah SAW dan Khilafah setelahnya, negara menjamin kesejahteraan rakyat, menegakkan keadilan, dan menjaga kemuliaan manusia. Aturan Allah berlaku untuk seluruh aspek kehidupan—ekonomi, hukum, pendidikan, dan sosial—melahirkan kedamaian bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi hewan dan alam.
Allah SWT berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi; tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’raf: 96).
Keimanan dan ketakwaan berarti tunduk sepenuhnya pada aturan Allah. Berbeda dengan hukum buatan manusia yang kerap meninggalkan luka dan ketidakadilan, hukum Allah membawa berkah dan kebaikan bagi semua.
Karena itu, hanya bendera tauhid yang seharusnya menjadi simbol kejayaan umat, menggantikan simbol-simbol lain yang sekadar menjadi pelampiasan kekecewaan. Panji Rasulullah adalah lambang peradaban gemilang yang menebar rahmat bagi seluruh alam. Wallāhu a’lam.[]











Comment