Meratapi Kesejahteraan Guru dalam Arus Kapitalisme

Opini910 Views

 

 

Penulis: Verra Trisepty | Ibu Peduli Generasi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kabar mengenai sejumlah tenaga pendidik di Banten yang belum menerima tunjangan tambahan kembali ramai di jagat maya. Setelah dikonfirmasi, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Banten, Rina Dewiyanti, menyebut penundaan tersebut terjadi karena adanya efisiensi.

Sebagaimana ditulis MediaBanten.com, Rina menjelaskan bahwa tunjangan tambahan (Tuta) bagi guru termasuk dalam anggaran yang mengalami penyesuaian dan penundaan sesuai Inpres Nomor 1 Tahun 2025, Senin (28/04/2025).

Kabar ini membuat banyak guru resah. Tidak sedikit di antara mereka yang berusaha melakukan berbagai upaya agar tunjangan itu segera dicairkan, bahkan ada yang merencanakan turun ke jalan. Betapa menyesakkan dada, peristiwa ini seakan menjadi potret nasib guru yang semakin terpuruk dalam sistem ekonomi yang dijalankan saat ini.

Kesejahteraan Guru dalam Pusaran Kapitalisme

Kesejahteraan guru hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah, baik daerah maupun pusat. Padahal, guru adalah tulang punggung pendidikan yang mencetak generasi unggul. Bagaimana mungkin mereka bisa fokus mendidik jika pikiran masih terbebani dengan kebutuhan hidup yang tak tercukupi?

Data menunjukkan, pada 2021 sebanyak 42% masyarakat yang terjerat pinjaman online ilegal adalah guru. Hal ini menggambarkan betapa sulitnya kondisi ekonomi mereka.

Sayangnya, gaji dan tunjangan guru masih bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Daerah (APBD). Padahal negeri ini memiliki kekayaan alam melimpah dari Sabang hingga Merauke. Namun, hasilnya belum benar-benar kembali untuk kesejahteraan rakyat, termasuk guru.

Lebih ironis, pendidikan tidak sepenuhnya dikelola negara, melainkan juga diserahkan kepada swasta. Sistem keuangan pun masih bertumpu pada utang berbasis riba—yang jelas dilarang Allah Swt. Semua ini merupakan buah dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme.

Islam Buktikan Guru Hidup Sejahtera

Sejarah mencatat, Islam pernah menempatkan guru pada posisi terhormat dengan kesejahteraan yang terjamin. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, bahwa di masa Khalifah Umar bin Khathab, tiga orang guru di Madinah diberi gaji 15 dinar per bulan. Jika dikonversikan, setara dengan sekitar Rp63 juta pada nilai emas saat ini.

Hal ini membuktikan bahwa dalam sistem Islam, guru dihargai tinggi karena perannya yang strategis dalam membina generasi. Berbeda jauh dengan kondisi sekarang, di mana banyak guru harus mencari pekerjaan sampingan untuk sekadar bertahan hidup.

Islam Mampu Mengangkat Derajat Guru

Islam mampu memberikan gaji ideal bagi guru karena negara berbasis Islam memiliki sumber pemasukan beragam, seperti pengelolaan baitul mal dan kekayaan alam yang dikelola untuk kemaslahatan umat.

Dalam Islam, sumber daya alam adalah kepemilikan umum yang wajib dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat, termasuk para guru.

Karena itu, sudah seharusnya kita merenung. Allah Swt menjanjikan keberkahan jika penduduk negeri beriman dan bertakwa. Sebagaimana firman-Nya:

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96). Wallahu a’lam bissawab.[]

Comment