Meski Sebagai Anak Yatim, Anwar Tidak Merasa Minder

Bogor, Daerah662 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, BOGOR – Banyak anak yatim yang tumbuh dengan rasa minder, tapi Anwar berbeda. Anak kelas 3 SD ini memang pemalu, namun ia tetap berani maju setiap ada lomba. Dari lomba adzan, mewarnai, sampai fashion show di Masjid Muslim Billionaire, Anwar selalu tampil dengan senyum polosnya.

Tidak semua anak yatim memiliki kesempatan seperti Anwar. Tapi berkat ruang yang kita hadirkan bersama, Anwar dan teman-temannya bisa tumbuh lebih percaya diri.

Mungkin saat ini Anwar masih pemalu. Namun siapa tahu, dari dukungan kecil dari Ayah Bunda Abang Kakak, kelak ia akan menjadi sosok besar yang berani melangkah jauh.

Di tengah masyarakat kita, masih sering dijumpai anak-anak yatim yang merasa rendah diri. Kehilangan sosok ayah atau ibu membuat sebagian dari mereka tumbuh dengan perasaan berbeda. Padahal, sejarah membuktikan bahwa status yatim bukanlah penghalang untuk meraih masa depan yang cerah.

Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang yatim piatu. Sang ayah, Abdullah, wafat saat beliau masih dalam kandungan. Sang ibu, Aminah, berpulang ketika beliau baru berusia enam tahun.

Sejak kecil, Nabi tumbuh tanpa kedua orang tua, diasuh oleh kakek dan pamannya dalam keterbatasan. Namun, dari kesabaran, kerja keras, dan pertolongan Allah, beliau tumbuh menjadi pribadi agung yang membawa perubahan besar bagi dunia.

Kisah Nabi Muhammad memberi pelajaran berharga: keterbatasan tidak seharusnya membuat anak yatim menyerah. Justru dengan sabar, tekun, dan tekad kuat, mereka bisa bangkit. Banyak anak yatim di negeri ini yang membuktikan hal itu.

Mereka sukses menempuh pendidikan, meraih karier yang gemilang, bahkan menduduki posisi terhormat di berbagai bidang: ada yang menjadi guru, dokter, pengusaha, hingga pemimpin masyarakat.

Keberhasilan itu lahir dari dua hal: dukungan dan kesungguhan. Dukungan keluarga, masyarakat, serta lembaga sosial memberikan ruang untuk tumbuh percaya diri. Sementara kesungguhan diri sendiri menjadi kunci utama untuk meraih keberhasilan.

Karena itu, mari kita tidak hanya memberi belas kasihan, tetapi juga dorongan yang menguatkan. Setiap anak yatim berhak bermimpi besar, berjuang, dan berhasil.

Mereka bukanlah “korban keadaan” selamanya. Mereka adalah calon pemimpin, calon pejuang, dan calon teladan—sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang memulai hidup dengan penuh kesulitan, namun akhirnya menjadi rahmat bagi semesta alam.[]

Comment