Modernitas dan Krisis Iman: Kemajuan Fisik di Tengah Kerapuhan Paradigma Berpikir

Opini51 Views

Penulis: Hawilawati, S.Pd | Pendidik

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA Mobilitas masyarakat urban merupakan keniscayaan yang tak terpisahkan dari denyut kehidupan kota modern. Setiap hari, manusia berpacu dengan waktu, bergerak masif menuju pusat-pusat ekonomi dan perkantoran.

Fenomena ini bukanlah kekeliruan, sebab roda peradaban memang menuntut pergerakan yang dinamis. Namun, di balik kecepatan itu, pertanyaan mendasarnya justru kerap luput diajukan-  ke mana arah besar yang sedang kita tuju?

Perjalanan dari kawasan penyangga menuju pusat kota di awal 2026 menyuguhkan wajah transformasi wilayah yang begitu mencolok.

Kampung-kampung lama berangsur bermetamorfosis menjadi bagian dari megapolitan modern. Perubahan ini menghadirkan kebanggaan sekaligus kegamangan, sebab kemajuan fisik sering kali melaju jauh lebih cepat dibanding kematangan cara berpikir masyarakatnya.

Sebagaimana dilaporkan Sinpo.id (22/01/2026), pembangunan MRT Jakarta Fase 2A (Bundaran HI–Kota) terus dikebut dengan target penyelesaian fisik stasiun-stasiun vital seperti Thamrin dan Monas pada akhir 2026. Proyek ini menjadi simbol keseriusan negara dalam membangun infrastruktur transportasi massal yang modern dan terintegrasi.

Sementara itu, sebagaimana dipantau Tempo.co (25/01/2026), LRT Jakarta rute Velodrome–Manggarai diproyeksikan beroperasi penuh pada Agustus 2026 untuk memperkuat konektivitas transportasi di pusat kota. Secara kasat mata, kota tampak bergerak gagah menuju kemajuan fisik yang kian paripurna.

Namun, di tengah derap pembangunan tersebut, muncul pertanyaan yang jauh lebih fundamental – apakah perubahan fisik ini sejalan dengan peningkatan kualitas berpikir dan ketenangan hidup masyarakatnya? Ironisnya, di saat gedung-gedung menjulang dan infrastruktur dipoles sedemikian rupa, ancaman sosial justru mengintai.

Sebagaimana dianalisis Kontan.co.id (21/01/2026), risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) dan meningkatnya pengangguran usia muda diprediksi masih akan membayangi sepanjang 2026.

Di sinilah paradoks kota modern menemukan wujudnya. Kota tampak semakin megah dan gemerlap, tetapi warganya hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian yang akut. Kemajuan material tidak otomatis berbanding lurus dengan ketenangan jiwa. Bahkan, tak jarang justru melahirkan kegelisahan eksistensial yang lebih dalam.

Fenomena ini memaksa kita untuk merenung: benarkah modernitas selalu identik dengan kemajuan berpikir?

Ataukah manusia kota justru terjebak dalam apa yang dapat disebut sebagai gaya hidup jahiliyah sekuler—sebuah pola hidup yang memisahkan nilai wahyu dari pengaturan kehidupan, seolah manusia mampu mengelola dunia tanpa keterikatan kepada Tuhan. Akibatnya, teknologi berkembang pesat, tetapi krisis makna dan moral kian menguat.

Perubahan yang menentukan arah hidup individu maupun bangsa sejatinya bukan semata perubahan teknologi atau infrastruktur, melainkan perubahan paradigma berpikir.

Dalam kitab Nidzamul Islam, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan bahwa maju dan mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh tingkat berpikir masyarakatnya (mustawa al-fikri). Dari pemikiran lahir perbuatan, dan dari perbuatan terbentuk realitas kehidupan. Landasan berpikir yang mampu menjawab tantangan zaman secara mendasar adalah akidah yang benar, yakni akidah Islam.

Tanpa fondasi ini, manusia mudah tereduksi menjadi sekadar “sekrup” dalam mesin industri raksasa: bekerja, bergerak, dan mengonsumsi, tetapi kehilangan tujuan hakiki kehidupannya. Kemajuan bangsa pun akhirnya diukur sebatas kemegahan beton dan tinggi pencakar langit, bukan pada kemuliaan cara pandang manusianya.

Berpikir benar yang berasaskan Akidah Islam bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan kompas hidup yang membentuk cara pandang menyeluruh. Ia lahir dari kesadaran mendalam melalui jawaban atas tiga pertanyaan mendasar kehidupan (al-‘uqdah al-kubrā): dari mana manusia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali.

Ketika manusia menyadari bahwa ia berasal dari Allah SWT, hidup untuk beribadah kepada-Nya, dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di Yaumul Akhir, orientasi hidupnya pun berubah secara total—dari materialistis menuju ukhrawi.

Dalam tatanan masyarakat yang berlandaskan Akidah Islam, teknologi tidak diposisikan sebagai “tuhan baru” yang dipuja, melainkan sebagai wasilah untuk menjalankan tugas kekhalifahan dan pengabdian kepada Allah.

Sistem transportasi, ekonomi, dan berbagai capaian peradaban diarahkan untuk mempermudah ketaatan, bukan menjauhkan manusia dari Tuhannya. Inilah esensi kemajuan sejati: ketika kecanggihan materi tunduk pada bimbingan wahyu.

Pemikiran ideologis Islam menawarkan solusi yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar tambal sulam di permukaan. Pendekatannya mencakup pencegahan, penerapan sistematis, hingga penyelesaian menyeluruh—before, now, and after. Karena bersumber dari wahyu Allah SWT, solusi ini bersifat mendasar dan berkelanjutan, melampaui keterbatasan akal manusia yang terikat ruang dan waktu.

Allah SWT menegaskan prinsip perubahan paradigma ini dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak bermula dari perubahan fisik semata, melainkan dari transformasi cara berpikir, cara pandang, dan ideologi yang dianut masyarakat.

Tanpa perubahan pada level ini, modernitas hanya akan melahirkan kemajuan semu—tampak gagah di luar, tetapi rapuh dalam makna.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan kota yang modern secara infrastruktur, tetapi juga masyarakat yang tercerahkan secara paradigma.

Keselamatan dan kemuliaan hanya akan terwujud ketika kehidupan diatur dengan petunjuk Allah SWT, menjadikan dunia sebagai ladang amal demi menggapai rida-Nya di akhirat kelak.[]

Comment